3-12 bulan

11 Juli 2021

Kapan Harus Memberikan Imunisasi Pentabio untuk Bayi? Berikut Penjelasannya

Imunisasi pentabio sebaiknya diberikan di usia yang tepat ya, Moms
placeholder
placeholder
Artikel ditulis oleh Amelia Riskita
Disunting oleh Widya Citra Andini

Moms, sudahkah Si Kecil mendapatkan imunisasi pentabio?

Apabila belum, yuk ketahui terlebih dahulu apa itu vaksin pentabio untuk bayi, apa saja manfaatnya, dan kapan harus diberikan pada bayi seperti yang telah dirangkum dalam pembahasan di bawah ini.

Apa Itu Imunisasi Pentabio?

Kapan Harus Memberikan Imunisasi Vaksin Pentabio untuk Bayi 01.jpg

Foto: parenting.firstcry.com

Imunisasi pentabio merupakan kombinasi baru vaksin DTP-HB-Hib yang telah dikembangkan di Indonesia mengikuti rekomendasi dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dan diintegrasikan ke dalam program imunisasi nasional.

Pemberian vaksin ini bertujuan untuk melindungi bayi dari serangan 5 jenis penyakit.

1. Difteri

Mengutip Kids Health, difteri adalah infeksi bakteri yang disebabkan oleh Corynebacterium diphtheriae. Jika terinfeksi, bakteri ini sangat mudah menyebar dan terjadi dengan cepat. Infeksi difteri menyerang hidung dan tenggorokan.

Anak-anak di bawah 5 tahun dan orang dewasa di atas 60 tahun sangat berisiko tertular infeksi.

Orang-orang yang tinggal dalam lingkungan padat penduduk atau tidak bersih, mereka yang tidak cukup gizi, dan anak-anak serta orang dewasa yang tidak mendapatkan imunisasi terbaru juga berisiko.

Pada tahap awal, difteri dapat disalahartikan sebagai sakit tenggorokan yang parah. Demam ringan dan pembengkakan kelenjar leher adalah gejala awal lainnya.

Toksin atau racun yang disebabkan oleh bakteri dapat menyebabkan lapisan tebal (atau membran) di hidung, tenggorokan, atau saluran napas, yang membuat infeksi difteri berbeda dari infeksi lain yang lebih umum yang menyebabkan sakit tenggorokan (seperti radang tenggorokan).

Lapisan ini biasanya berwarna abu-abu kabur atau hitam dan dapat menyebabkan masalah pernapasan serta kesulitan menelan.

Baca Juga: Mengenal Difteri pada Anak: Penyebab, Gejala, Risiko dan Pencegahannya

2. Tetanus

Menurut University of Rochester Medical Center, tetanus adalah penyakit parah pada sistem saraf pusat yang disebabkan oleh bakteri. Penyakit ini bisa menyebabkan kematian, tetapi tidak menular dan dapat dicegah dengan vaksin.

Bakteri tetanus biasanya masuk ke dalam tubuh melalui luka di kulit. Bakteri tetanus hidup di tanah dan kotoran hewan. Tetanus lebih sering terjadi di iklim hangat atau selama bulan-bulan hangat.

Penyakit ini juga dapat ditemukan di tunggul pusar (tali pusar yang telah dipotong hingga tersisa sedikit) bayi di negara berkembang.

Tetanus biasanya terjadi di tempat-tempat di mana vaksin tetanus tidak sering digunakan dan orang tua mungkin tidak tahu cara merawat tunggul pusar setelah bayi lahir.

Seorang anak lebih berisiko terkena tetanus jika mereka belum mendapatkan vaksin tetanus dan mengalami cedera kulit di daerah di mana bakteri tetanus mungkin aktif.

Setelah seorang anak terpapar bakteri tetanus, mungkin diperlukan waktu 3 hingga 21 hari sampai gejalanya mulai. Pada bayi, gejala tetanus mungkin memakan waktu mulai dari 3 hari hingga 2 minggu.

Gejala tetanus yang paling umum meliputi kaku rahang (lockjaw), kekakuan otot perut dan punggung, kontraksi (pengencangan) otot-otot wajah, kejang, demam, berkeringat, kejang otot yang menyakitkan di dekat area luka, dan kesulitan menelan.

Baca Juga: Vaksin Tetanus: Jenis, Dosis, dan Efek Sampingnya pada Bayi Maupun Orang Dewasa

3. Pertusis

pertusis pada bayi

Foto: Orami Photo Stock

Pertusis (batuk rejan) dapat menyebabkan penyakit serius pada bayi, anak-anak, remaja, dan orang dewasa. Gejala pertusis biasanya muncul dalam 5 hingga 10 hari setelah terpapar. Namun terkadang, gejala pertusis mungkin bisa tidak muncul selama 3 minggu.

Menurut Centers for Disease Control and Prevention, penyakit ini biasanya dimulai dengan gejala seperti pilek dan mungkin batuk ringan atau demam.

Pada bayi, batuknya bisa minimal atau bahkan tidak ada. Bayi juga mungkin memiliki gejala yang dikenal sebagai apnea atau adanya jeda dalam bernapas.

Pertusis pada tahap awal tampaknya tidak lebih dari flu biasa. Oleh karena itu, profesional kesehatan sering tidak mencurigai atau mendiagnosisnya sampai gejala yang lebih parah muncul.

Setelah 1 hingga 2 minggu dan seiring perkembangan penyakit, gejala khas pertusis mungkin muncul dan meliputi paroxysms, batuk cepat diikuti oleh suara bernada tinggi, muntah selama atau setelah batuk, dan kelelahan setelah batuk

Penting untuk diketahui bahwa, banyak bayi dengan pertusis tidak batuk sama sekali sebagai gejalanya. Sebaliknya, penyakit batuk rejan ini bisa menyebabkan mereka berhenti bernapas dan membiru.

4. Hepatitis B (HB)

Hepatitis B adalah penyakit serius yang disebabkan oleh virus hepatitis B. Virus ini dapat masuk ke aliran darah, menyerang hati, dan menyebabkan kerusakan serius.

Ketika bayi terinfeksi, virus biasanya tetap berada di dalam tubuh seumur hidup (ini disebut hepatitis B kronis).

Berdasarkan informasi yang diperoleh dari laman Immunize, sekitar 1 dari 4 bayi yang terinfeksi akan meninggal karena gagal hati atau kanker hati saat dewasa. Jadi, hepatitis B adalah penyakit mematikan, tetapi dapat dicegah dengan imunisasi.

Virus hepatitis B menyebar melalui kontak dengan darah orang yang terinfeksi atau cairan tubuh tertentum seperti:

  • Bayi yang terkena virus hepatitis B dari ibu saat dilahirkan.
  • Tinggal bersama orang yang terinfeksi
  • Menggunakan barang pribadi yang sama dengan orag yang terinfeksi seperti berbagi handuk atau sikat gigi.

Kebanyakan orang dengan hepatitis B tidak punya gejala, tidak merasa sakit, dan tidak tahu bahwa mereka terinfeksi.

Akibatnya, mereka dapat menyebarkan virus ke orang lain tanpa mengetahuinya. Satu-satunya cara untuk mengetahui apakah seseorang terinfeksi adalah dengan tes darah.

Baca Juga: HBsAg, Salah Satu Tes yang Penting Mendeteksi Hepatitis B

5. Haemophilus Influenza Tipe B (HiB)

Infeksi HiB disebabkan oleh Haemophilus influenzae type B.

Infeksi bakteri yang disebabkan oleh HiB biasanya menyebar melalui bersin dan batuk. Bakteri ini biasanya menyebabkan penyakit masa kanak-kanak seperti meningitis dan epiglottitis (pembengkakan epiglotis di belakang tenggorokan).

HiB juga dapat menyebabkan beberapa kasus pneumonia dan infeksi telinga. Terlepas dari nama bakteri ini, Haemophilus Influenza Tipe B tidak menyebabkan flu atau influenza.

Penyakit HiB ini berpotensi serius, tetapi bisa dicegah dengan imunisasi.

Gejala HiB tergantung pada penyakit spesifik yang ditimbulkannya. Contohnya dapat ditandai dengan meningitis atau peradangan dan pembengkakan pada jaringan yang menutupi otak dan sumsum tulang belakang.

Selain itu epiglotitis atau peradangan yang jarang tetapi serius di tenggorokan sehingga mempengaruhi epiglotis (sebuah lipatan jaringan di bagian belakang tenggorokan).

Selain itu, HiB juga bisa ditandai dengan infeksi lain. Misalnya, infeksi pada persendian (radang sendi), tulang (osteomielitis), kulit wajah (pipi atau sekitar mata), paru-paru (pneumonia), bahkan jantung (perikarditis).

Baca Juga: Bolehkah Anak Diimunisasi saat Sakit? Cari Tahu Dulu Faktanya

Kapan Bayi Harus Mendapatkan Imunisasi Pentabio?

Kapan Harus Memberikan Imunisasi Vaksin Pentabio untuk Bayi 06.jpg

Foto: mycanyonlake.com

Imunisasi ini diberikan kepada bayi dalam tiga kali dosis.

Dosis pertama diberikan pada saat bayi berusia 2 bulan, dosis yang kedua diberikan ketika sudah berusia 4 bulan, dan dosis yang terakhir diberikan ketika bayi berusia 6 bulan.

Selain itu, vaksin pentabio dapat diberikan bersamaan dengan imunisasi yang lainnya (imunisasi kombo).

Mengapa Bayi Perlu Menerima Imunisasi Pentabio? Apa Manfaatnya?

Kapan Harus Memberikan Imunisasi Vaksin Pentabio untuk Bayi 02.jpg

Foto: nhs.uk

Pemberian vaksin pentabio untuk bayi merupakan cara terbaik untuk melindungi Si Kecil dari serangan difteri, tetanus, pertusis, hepatitis B, dan Haemophilus influenza tipe b (Hib).

Berbagai penyakit ini termasuk dalam kategori penyakit serius dan terkadang dapat berakibat sangat fatal.

Bukan hanya itu, ketika Si Kecil diimunisasi, artinya Moms juga membantu melindungi orang lain dari kemungkinan serangan penyakit berbahaya yang mungkin ditularkan oleh Si Kecil jika ia tidak diimunisasi.

Baca Juga: Jangan Sampai Luput, Ini Pentingnya Imunisasi IPV untuk Anak!

Hingga Usia Berapakah Imunisasi Pentabio Dapat Diberikan pada Bayi?

Kapan Harus Memberikan Imunisasi Vaksin Pentabio untuk Bayi 03.jpg

Foto: shutterstock.com

Vaksin pentabio untuk bayi dapat diberikan kepada bayi yang berusia lebih dari 6 minggu hingga usia 1 tahun.

Jika bayi tidak diimunisasi pada usia 12 bulan, vaksin apa yang seharusnya diberikan?

Mengutip Healthlinkbc.ca, jika bayi tidak mendapatkan imunisasi vaksin pentabio hingga usia 12 bulan dapat diberikan tiga dosis DPT dan OPV dengan jarak pemberian 4 minggu.

Selain itu juga diberikan dosis penguat DPT setelah enam bulan. Dapat pula diberikan vaksin campak dan Vitamin A bersamaan dengan DPT dosis pertama.

Apakah Ada Efek Samping dari Pemberian Vaksin Pentabio untuk Bayi?

Kapan Harus Memberikan Imunisasi Vaksin Pentabio untuk Bayi 04.jpg

Foto: parentlane.com

Hingga saat ini belum ada penelitian yang membuktikan mengenai efek samping serius dari pemberian imunisasi pentabio untuk bayi.

Namun, kemerahan, pembengkakan, dan rasa sakit dapat muncul pada bagian tubuh yang disuntik. Gejala-gejala ini biasanya muncul sehari setelah pemberian vaksin pentabio dan berlangsung mulai dari 1 sampai dengan 3 hari.

Dalam beberapa kasus, bayi juga dapat mengalami demam untuk waktu yang singkat setelah imunisasi pentabio. Akan tetapi, kasus ini sangat jarang ditemukan.

Baca Juga: Catat! Ini Hal yang Tidak Boleh Dilakukan Setelah Imunisasi

Apakah Ada Pengecualian yang Memungkinkan Bayi Tidak Perlu Mendapatkan Imunisasi Pentabio?

Kapan Harus Memberikan Imunisasi Vaksin Pentabio untuk Bayi 05.jpg

Foto: thebump.com

Meskipun efek samping yang serius belum dilaporkan, seorang bayi yang telah menunjukkan reaksi parah terhadap vaksin pentabio sebelumnya tidak boleh menerima dosis yang selanjutnya.

Nah, itulah hal-hal penting yang perlu Moms ketahui seputar pemberian vaksin pentabio untuk bayi. Jangan lupa konsultasikan dengan dokter mengenai imunisasi ini untuk Si Kecil ya, Moms.

  • http://p2ptm.kemkes.go.id/uploads/2016/10/Aspek-Medis-dan-Keamanan-Vaksin-Kombinasi-Pentabio.pdf
  • https://kidshealth.org/en/parents/diphtheria.html
  • https://www.urmc.rochester.edu/encyclopedia/content.aspx?contenttypeid=90&contentid=p02549
  • https://www.immunize.org/catg.d/p4110.pdf
  • https://www.cdc.gov/pertussis/about/signs-symptoms.html
  • https://www.healthychildren.org/English/health-issues/vaccine-preventable-diseases/Pages/Haemophilus-Influenzae-type-b.aspx
Produk Rekomendasi

TOOLS PARENTING

Komentar

Yuk, ngobrol dan sharing pendapat dengan moms lainnya.

member-image

Beri Komentar...

Artikel Terkait