13 Maret 2023

Mengenal Otitis Media, Infeksi Telinga yang Perlu Diwaspadai

Apakah Moms pernah mendengar penyakit otitis media? Yuk, kita cari tahu!

Apakah Moms pernah mendengar tentang otitis media?

Melansir StatPearls Journal, otitis media adalah infeksi pada telinga bagian tengah, di rongga belakang gendang telinga.

Penyakit yang sering dialami oleh bayi dan anak-anak. Sering kita melihat anak-anak berusaha menggaruk-garuk telinganya.

Bisa jadi hal tersebut merupakan tanda bahwa anak mengalami infeksi tersebut.

Kira-kira apa penyebab dari kondisi tersebut? Untuk mengetahuinya, yuk simak ulasannya pada artikel ini!

Baca Juga: 4 Tanda Anak Picky Eater serta Penyebab dan Cara Mengatasinya

Apa Itu Otitis Media?

Anak Sedang di Periksa (Orami Photo Stock)
Foto: Anak Sedang di Periksa (Orami Photo Stock)

Otitis media atau peradangan telinga tengah adalah suatu penyakit infeksi yang sering ditemukan pada anak-anak.

"Angka kejadian otitis media akut di Amerika Serikat menunjukkan 97% anak-anak usia 7 tahun sekurang-kurangnya pernah mengalami 1 kali peradangan telinga tengah.

Sebanyak 75% dari kelompok di atas akan mengalami infeksi berulang.

Berdasarkan data di Amerika Serikat, usia tersering mengalami peradangan telinga tengah adalah sekitar 6-24 bulan," jelas dr. Ricky Yue, Sp.THT-KL, yang merupakan Dokter Spesialis THT - Bedah Kepala & Leher RS Pondok Indah – Puri Indah.

Meskipun kondisi ini rentan terjadi pada anak-anak, namun terdapat beberapa faktor yang bisa meningkatkan risiko terkena otitis media, meliputi:

Baca Juga: 14 Rekomendasi Aloe Vera Gel Lokal Terbaik, Harga Terjangkau

Gejala Otitis Media pada Bayi

Telinga Gatal (Orami Photo Stock)
Foto: Telinga Gatal (Orami Photo Stock) (romper.com)

Gejala yang biasanya terjadi pada anak yang menderita peradangan telinga tengah yakni:

  • Pendengaran menjadi menurun
  • Merasa tidak nyaman di telinga sehingga anak cenderung menarik, menggosok, dan atau mengorek telinga dengan tangannya
  • Demam
  • Anak cenderung rewel
  • Berkurangnya nafsu makan
  • Nyeri telinga
  • Keluarnya cairan dari telinga
  • Telinga berdengung dan atau berdenging
  • Pusing berputar
  • Mual dan muntah

Gejala ini bisa berbeda pada setiap anak, untuk diagnosis yang lebih tepat, sebaiknya berkonsultasi langsung dengan dokter ahli.

Baca Juga: Perlukah Pakai Korset Hamil? Simak Penjelasannya di Sini!

Penyebab Otitis Media pada Bayi

Ilustrasi Otitis Media (Orami Photo Stock)
Foto: Ilustrasi Otitis Media (Orami Photo Stock)

Biasanya, otitis media pada bayi ini disebabkan karena terjadinya disfungsi tuba eustachian, yakni sebuah kanal yang menghubungkan antara telinga tengah dengan tenggorokan.

Ketika tuba ini tidak berfungsi dengan baik, drainase cairan dari telinga tengah akan terhambat sehingga cairan menumpuk di belakang gendang telinga.

Ketika cairan ini menumpuk, maka bakteri dan virus akan mudah berkembang sehingga menyebabkan infeksi.

"Bakteri tersering penyebab infeksi telinga tengah adalah S. pneumonia, yang teradi pada 25 - 40% kasus, H. influenza yang teradi pada 10 - 30% kasus, dan Moraxella catarrhalis dengan kasus yang mencapai 2 - 15 persen," ungkap dr. Ricky.

Tuba eustachian ini tidak bekerja dengan baik ketika terjadi demam atau alergi yang kemudian menyumbat saluran telinga, hidung dan tenggorokan.

Tentunya penyumbatan ini akan memicu drainase cairan di telinga menjadi terhambat.

Jika Moms ingin tahu penyebab anak lebih rentan terkena otitis media, berikut penjelasannya!

1. Ukuran Tuba Eustachius pada Anak yang Berbeda

Karena masih dalam proses pertumbuhan, ukuran tuba eustachius pada anak dan bayi lebih pendek dibandingkan orang dewasa.

Panjang tuba orang dewasa 37,5 mm dan pada anak di bawah umur 9 bulan adalah 17,5 mm.

Hal ini meningkatkan peluang terjadinya hubungan dari hidung bagian belakang (nasofaring) yang mengganggu drainase melalui tuba eustachius.

2. Bentuk Tuba Eustachius pada Anak yang Berbeda

Tidak hanya ukuran, bentuk tuba eustachius yang dimiliki anak berbeda dan terbilang unik.

Mereka memiliki bentuk yang lebih lebar dan kedudukannya lebih horizontal (mendatar) dibandingkan milik orang dewasa.

Kondisi ini membuat peradangan pada tuba eustachius sering terjadi pada anak-anak.

Peradangan tersebut memicu gangguan pada tuba eustachius dalam memproteksi telinga tengah sehingga kecenderungan terjadinya infeksi pada telinga tengah akan meningkat.

Baca Juga: 8 Cara Mengatasi Mual saat Haid, Coba Minum Teh Herbal, Moms!

3. Tuba Eustachius yang Belum Sempurna

Tuba eustachius pada anak belum berkembang sempurna.

Diameter tuba pada anak lebih kecil, sehingga menyebabkan sumbatan lebih sering terjadi.

Seiring dengan perkembangan usia, tuba eustachius juga bertambah panjang dan sempit serta lebih mengarah ke tengah, jauh dari hidung bagian belakang.

Hasilnya, fungsi tuba eustachius lebih baik melindungi area telinga tengah.

Jadi dapat ditarik kesimpulan semakin bertambah usia, maka risiko terkena otitis media semakin berkurang.

4. Ukuran Adenoid yang Berbeda

Adenoid adalah organ di tenggorokan bagian atas yang berperan dalam kekebalan tubuh.

Pada anak-anak, adenoid relatif lebih besar dibanding orang dewasa.

Karena posisi adenoid berdekatan dengan muara tuba eustachius, akibatnya ukuran adenoid yang besar ini mengganggu terbukanya tuba eustachius.

Baca Juga: Penyebab Mata Bayi Berair, Begini Cara Mengatasinya!

Jenis Otitis Media pada Bayi

Telinga Gatal (Orami Photo Stock)
Foto: Telinga Gatal (Orami Photo Stock)

Ada tiga jenis otitis media, yakni:

1. Acute Otitis Media (AOM)

AOM disebabkan oleh cairan serta lendir yang terperangkap di telinga tengah yang mengakibatkan demam, sakit telinga dan mengalami gangguan pendengaran.

Seringkali AOM diakibatkan oleh virus Streptococcus pneumoniae, Haemophilus influenzae, dan Moraxella catarrhalis.

2. Otitis Media with Effusion (OME)

OME terjadi saat cairan tetap terperangkap di telinga tengah setelah terjadinya infeksi.

Terjadinya adalah setelah demam dan sakit telinga menghilang, namun telinga tetap terasa penuh dan tidak dapat mendengar.

3. Chronic Otitis Media with Effusion (COME)

Cairan tetap berada di telinga tengah dalam jangka waktu yang lama dan terus kembali walaupun tidak terjadi infeksi.

Hal ini bisa mengakibatkan seorang anak kesulitan mendengar dan penyakit ini akan sulit teratasi jika terjadi infeksi baru.

Baca Juga: 7 Artis yang Memiliki Anak Autisme, Ada Young Lex!

Faktor Risiko Terkena Otitis Media

Anak Demam (Orami Photo Stock)
Foto: Anak Demam (Orami Photo Stock) (Verywellhealth.com)

Faktor risiko infeksi telinga meliputi:

1. Usia

Anak-anak antara usia 6 bulan dan 2 tahun lebih rentan terhadap infeksi telinga.

Hal ini karena ukuran dan bentuk tuba eustachius mereka dan karena sistem kekebalan mereka masih berkembang.

2. Penitipan Anak Kelompok

Anak-anak yang dirawat dalam pengaturan kelompok lebih mungkin terkena pilek dan infeksi telinga daripada anak-anak yang tinggal di rumah. 

Anak-anak dalam pengaturan kelompok terkena lebih banyak infeksi, seperti flu biasa.

3. Pemberian Makan Bayi

Bayi yang minum dari botol, terutama saat berbaring, cenderung lebih sering mengalami infeksi telinga daripada bayi yang diberi ASI.

4. Kualitas Udara yang Buruk

Paparan asap tembakau atau polusi udara tingkat tinggi dapat meningkatkan risiko infeksi telinga.

5. Celah Langit-langit

Perbedaan struktur tulang dan otot pada anak-anak yang memiliki celah langit-langit dapat membuat saluran eustachius lebih sulit untuk mengalir.

Baca Juga: 7 Rekomendasi Aksesori Meja Belajar agar Anak Makin Semangat

Diagnosis Otitis Media

Periksa ke Dokter (Orami Photo Stock)
Foto: Periksa ke Dokter (Orami Photo Stock) (Orami Photo Stock)

Beberapa cara digunakan oleh dokter untuk memastikan seseorang menderita infeksi telinga tengah atau tidak.

Adapun caranya adalah sebagai berikut:

1. Menanyakan Riwayat Kesehatan

Guna memastikan kondisi, dokter akan melakukan pengecekan berdasarkan riwayat kesehatan di masa lalu.

Dokter juga akan mencatat apa yang dikeluhkan pasien terkait kondisi telinganya.

2. Pemeriksaan dengan Otoskop

Dokter juga mungkin akan menggunakan otoskop untuk melakukan pemeriksaan telinga lebih detail.

Alat ini memiliki lensa pembesar sehingga bisa melihat telinga lebih jelas.

Selain itu, ada juga alat bernama otoskopi pneumatik.

Alat ini bisa mengeluarkan hembusan udara di telinga.

Ketika dokter menghembuskan udara, mereka akan menilai bagaimana cara gendang telinga bereaksi.

Ini bisa membantu dokter untuk mendiagnosis masalah yang ada.

Pergerakan gendang telinga yang baik menjelaskan bahwa infeksi mungkin masih ringan atau tidak ada sama sekali.

Jika susah bergerak atau diam saja, kemungkinan besar ada penumpukan cairan atau lendir di area tengah telinga.

Baca Juga: Aturan Imunisasi IPV untuk Cegah Polio pada Anak dan Dewasa

3. Timpanometri

Metode pemeriksaan lain yang mungkin diterapkan dokter guna memeriksa kondisi telinga adalah timpanometri.

Tes ini bertujuan mengecek seberapa bagus kinerja telinga pasien.

4. Tes pendengaran

Tes pendengaran sederhana juga bisa dilakukan untuk memastikan kondisi telinga pasien.

Cara ini dianjurkan jika dokter mencurigai bahwa infeksi telah menyebabkan gangguan pendengaran pada penderita.

Baca Juga: 14 Penyebab Disfagia, Kondisi Kesulitan Menelan Makanan dan Minuman

Cara Mengobati Otitis Media pada Bayi

Anak Periksa ke Dokter (Orami Photo Stock)
Foto: Anak Periksa ke Dokter (Orami Photo Stock) (Freepik.com/dcstudio)

Dalam mengatasi infeksi telinga pada anak ini, pengobatan menggunakan antibiotik seringkali diresepkan oleh dokter.

Penetapan diagnosis yang tepat, penentuan tingkat kondisi penyakit, dan usia pasien merupakan indikator yang harus dicermati dalam menentukan perlu atau tidaknya pemberian obat antibiotik pada pasien.

Antbiotik dengan spektrum luas akan diberikan pada kasus-kasus peradangan telinga tengah.

Terutama pada anak-anak dengan usia 6 bulan atau lebih yang menunjukkan gejala berat, seperti demam lebih dari 39 derajat Celsius, nyeri telinga, dan terdapat cairan yang keluar dari telinga.

Selain antibiotik, dokter juga biasanya akan meresepkan obat pereda nyeri seperti acetaminophen dan ibuprofen untuk membantu meredakan nyeri pada telinga dan demam.

Baca Juga: Waspada Bahaya Kandungan SLS pada Produk Sabun Cuci Piring untuk Bayi dan Anak

Tindakan Pencegahan Otitis Media

Telinga Gatal (Orami Photo Stock)
Foto: Telinga Gatal (Orami Photo Stock) (Orami Photo Stocks)

Beberapa langkah pencegahan juga bisa dilakukan, berikut ini penjelasan menurut dr. Ricky mengenai cara pencegahan otitis media pada anak:

  • Pemberian ASI eksklusif hingga anak usia 2 tahun
  • Pemberian vaksin pneumokokus dan atau vaksin influenza
  • Hindari paparan terhadap asap rokok
  • Pada anak-anak dengan risiko tinggi yang mengalami infeksi saluran pernapasan atas, tindakan pencegahan harus dilakukan segera agar infeksi tidak meluas ke rongga telinga tengah

Baca Juga: Penyebab Sering Lupa dan Tak Fokus, Atasi dengan 6 Cara Ini!

Nah, itulah ulasan seputar otitis media pada bayi.

Perhatikan selalu kesehatan Si Kecil secara menyeluruh termasuk bagian telinganya.

Untuk dapat penanganan yang tepat terkait otitis media ini, Moms bisa langsung berkonsultasi ke dokter spesialis THT (Telinga, Hidung dan Tenggorokan).

  • https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK470332/
  • https://my.clevelandclinic.org/health/diseases/8613-ear-infection-otitis-media
  • https://www.stanfordchildrens.org/en/topic/default?id=otitis-media-middle-ear-infection-90-P02057
  • https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/ear-infections/symptoms-cau
    ses/syc-20351616
  • https://www.webmd.com/cold-and-flu/ear-infection/understanding-otitis-media-basics#1

Konten di bawah ini disajikan oleh advertiser.
Tim Redaksi Orami tidak terlibat dalam materi konten ini.


FOLLOW US

facebook
twitter
instagram
spotify
tiktok

Orami Articles — Artikel Seputar Parenting, Kesehatan,
Gaya Hidup dan Hiburan

Copyright © 2024 Orami. All rights reserved.

rbb