Parenting Islami

26 Mei 2021

Ini Hukum, Tata Cara, dan Keutamanaan Puasa Arafah, Masya Allah!

Yang melakukannya akan mendapat pengampunan dosa setahun sebelum dan sesudahnya
placeholder
placeholder
Artikel ditulis oleh Fia Afifah R
Disunting oleh Andra Nur Oktaviani

Ada beberapa puasa sunnah yang bisa dijalankan di luar bulan Ramadhan, salah satunya adalah puasa Arafah. Sebab, berpuasa adalah amalan ibadah yang memiliki keutamaan yang luar biasa, sehingga akan lebih baik jika umat Islam terbiasa melakukannya.

Dilansir Perpustakaan Unisma, hasil studi yang dilakukan oleh peneliti antara lain adalah seseorang dapat mengendalikan emosi dengan ibadah puasa yang dijalankan dengan baik dan benar, bukan hanya sekedar berpuasa untuk menguruskan badan.

Itu hanyalah salah satu dari banyaknya manfaat berpuasa. Sebab, Allah SWT selalu memberikan banyak manfaat dan pahala yang berlimpah dari setiap ibadah yang dilakukan oleh umat muslim jika dilakukan dengan sungguh-sungguh.

Baca Juga: Sering Lemas Saat Puasa? Pastikan Ada Kandungan Ini dalam Makanan yang Dikonsumsi

Mengenal Puasa Arafah

Puasa Arafah -1.jpg

Foto: Indiatoday.in

Puasa Arafah adalah puasa sunnah ang dilaksanakan pada 9 Dzulhijjah, yang juga bertepatan dengan wukufnya jamaah haji di Arafah. Puasa ini hukumnya sunnah muakkadah atau sangat dianjurkan bagi kaum muslimin yang tidak sedang beribadah haji.

Sedangkan bagi kaum muslimin yang sedang menunaikan ibadah haji, tidak ada keutamaan untuk melaksanakan puasa Arafah. Dalam sebuah hadis dari Ikrimah, ia mengatakan: “Aku masuk ke rumah Abu Hurairah lalu bertanya tentang puasa hari Arafah bagi (jamaah haji yang sedang) di Arafah.”

Lalu Abu Hurairah menjawab, “Rasulullah SAW melarang puasa hari Arafah di Arafah.” (HR Ibnu Majah dan Ahmad).

Sayyid Sabiq dalam Fiqih Sunnah, menjelaskan: “Para ulama memandang sunnah berpuasa pada hari Arafah kecuali apabila berada di Arafah,”. Dalam Fiqih Islam wa Adillatuhu, Prof. Dr. Wahbah Az Zuhaili, menjelaskan mengenai hukum puasa ini.

“Bagi orang yang sedang menunaikan haji, tidak disunnahkan berpuasa hari Arafah. Bahkan disunnahkan untuk tidak berpuasa meskipun ia kuat agar tersedia kekuatan untuk berdoa dan juga mengikuti sunnah. Sedangkan menurut mazhab Hanafi, orang yang sedang berhaji boleh berpuasa hari arafah jika ia kuat.”

Mengenai hal ini, dalam sebuah hadis Rasulullah SAW bersabda: “Tidak ada satu amal sholeh yang lebih dicintai oleh Allah melebihi amal sholeh yang dilakukan pada hari-hari ini (yaitu 10 hari pertama bulan Dzul Hijjah).”

Para sahabat bertanya: “Tidak pula jihad di jalan Allah?” Rasulullah SAW menjawab: “Tidak pula jihad di jalan Allah, kecuali orang yang berangkat jihad dengan jiwa dan hartanya namun tidak ada yang kembali satupun.” (HR Abu Daud).

Bagaimana jika penanggalan pemerintah suatu negara berbeda dengan Arab Saudi, sehingga saat jamaah haji wukuf di Arafah, tanggal di negeri itu bukan 9 Dzulhijjah. Bagaimana puasanya? Apakah ikut jamaah haji wukuf atau ikut tanggal 9 Dzulhijjah pemerintah?

Dalam hal ini ada dua pendapat ulama. Pertama, mengikuti waktu wukuf di Arafah. Di antara yang berpendapat seperti ini adalah Komite Fatwa Arab Saudi (Lajnah Daimah).

“Hari arafah adalah hari ketika kaum muslimin melakukan wukuf di Arafah. Puasa hari arafah dianjurkan, bagi orang yang tidak melakukan haji. Karena itu, jika anda ingin puasa hari arafah, maka anda bisa melakukan puasa di hari itu (hari wukuf). Dan jika anda puasa sehari sebelumnya, tidak masalah.”

Kedua, sesuai tanggal 9 Dzulhijjah di negara masing-masing. Di antara yang berpendapat seperti ini adalah Syaikh Utsaimin. Ia memfatwakan: “Ketika di Mekah hilal terlihat lebih awal dari pada negara lain, sehingga tanggal 9 di Mekah, posisinya tanggal 8 di negara tersebut,

maka penduduk negara itu melakukan puasa tanggal 9 menurut kalender setempat, yang bertepatan dengan tanggal 10 di Mekah. Inilah pendapat yang kuat. Karena Rasulullah SAW bersabda, ‘Apabila kalian melihat hilal, lakukanlah puasa dan apabila melihat hilal lagi, jangan puasa.”

Baca Juga: Apakah Minuman Isotonik Baik Dikonsumsi Saat Puasa?

Tata Cara Puasa Arafah

Puasa Arafah -2

Foto: Orami Photo Stock

Tata cara puasa Arafah sebenarnya sama dengan tata cara puasa pada umumnya. Yakni:

1. Niat

Niat puasa arafah sebaiknya dilakukan di malam hari, sebelum terbit fajar. Namun karena ini adalah puasa sunnah, jika terlupa, boleh niat di pagi hari asalkan belum makan apa-apa dan tidak melakukan hal apapun yang membatalkan puasa.

Hal ini berdasarkan hadits dari Aisyah RA, ia berkata, “Nabi SAW pernah menemuiku pada suatu hari lantas beliau bertanya, “Apakah kalian memiliki sesuatu untuk dimakan?” Kami pun menjawab, “Tidak ada,”. Beliau pun bersabda, “Kalau begitu saya puasa.”

Kemudian di hari lain beliau menemui kami, lalu kami katakan pada beliau, “Kami baru saja dihadiahkan hays (jenis makanan berisi campuran kurman, samin dan tepung),” Lantas beliau bersabda, “Berikan makanan tersebut padaku, padahal tadi pagi aku sudah berniat puasa.” Lalu beliau menyantap makanan tersebut.” (HR Muslim).

Meski begitu, di dalam hadis nabi tidak dijumpai bagaimana lafadz niat puasa Arafah secara spesifik. Sebab, Rasulullah SAW dan para sahabat biasa mengerjakan amal dengan niat hanya di dalam hati tanpa dilafadzkan.

Syaikh Wahbah Az Zuhaili dalam Fiqih Islam wa Adillatuhu menjelaskan, semua ulama sepakat bahwa tempat niat adalah hati. Melafadzkan niat bukanlah syarat, namun ia disunnahkan oleh jumhur ulama selain mazhab Maliki dengan maksud membantu hati dalam menghadirkan niat.

Sedangkan menurut mazhab Maliki, yang terbaik adalah tidak melafalkan niat karena tidak bersumber dari Rasulullah SAW. Meski begitu, jika tetap ada yang ingin mengucapkan niat, berikut aadalah bacaan niat puasa Arafah.

“Nawaitu shouma ‘arofata sunnatan lillaahi ta’aalaa.” Artinya: “Saya niat puasa Arafah, sunnah karena Allah Ta’ala.”

2. Makan Sahur

Makan sahur merupakan salah satu sunnah puasa yang jika dilakukan akan mendapat pahala dan keberkahan. Namun jika tidak dikerjakan, misalnya karena bangunnya terlambat, puasanya tetap sah karena bukan bagian dari rukun dan syarat sah puasa.

3. Menahan Diri dari Hal-Hal yang Membatalkan

Yakni menahan diri dari makan, minum, berhubungan dengan istri dan hal-hal lainnya yang dapat membatalkan puasa. Dimulai sejak terbit fajar hingga terbenamnya matahari. Selain itu juga disarankan untuk tidak melakukan hal-hal yang membuat amalan puasa hilang.

Misalnya ghibah atau membicarakan orang lain, tidak menahan amarah, berbohong, dan sebagainya. Sebab, hal tersebut akan membuat puasa terasa kosong tanpa pahala, dan hanya membuat orang yang melakukannya hanya akan mendapatkan rasa lapar dan haus saja.

4. Berbuka

Sebagaimana puasa pada umumnya baik puasa wajib maupun puasa sunnah, waktu berbuka puasa ini dilakukan ketika matahari terbenam, yakni saat masuknya waktu sholat Maghrib. Menyegerakan puasa merupakan salah satu sunnah puasa.

Setelah itu dilanjutkan dengan membaca doa berbuka puasa, dan bisa diteruskan dengan langsung makan hidangan utama atau sholat maghrib terlebih dahulu. Menyegerakan berbuka juga disunnahkan memakan 3 biji korma sesuai dengan contoh Rasulullah SAW.

Baca Juga: Sehat Selama Berpuasa, Ini 3 Olahraga yang Bisa Dilakukan Saat Ramadan

Hukum dan Keutamaan Puasa Arafah

Puasa Arafah -3

Foto: Orami Photo Stock

Hukum puasa Arafah adalah sunnah bagi yang tidak melaksanakan ibadah haji. Ini artinya jika dilakukan akan mendapat pahala dan jika tidak dilakukan maka tidak apa-apa dan tidak berdosa. Namun bagi yang sedang beribadah haji, disunnahkan untuk tidak berpuasa.

Dalilnya berdasarkan hadis dari Maimunah RA, ia berkata: “Bahwa orang-orang saling berdebat apakah Rasulullah SAW berpuasa pada hari Arafah. Lalu Maimunah mengirimkan pada beliau satu wadah (berisi susu) dan beliau dalam keadaan berdiri (wukuf), lantas beliau minum dan orang-orang pun menyaksikannya.” (HR Bukhari).

Setiap puasa sunnah juga memiliki keistimewaannya masing-masing, begitupun puasa Arafah. Meskipun hukumnya sunnah, tapi bagi orang yang melaksanakannya selain mendapat pahala juga akan mendapat pengampunan dosa yang telah diperbuat setahun yang lalu dan setahun yang akan datang.

Rasulullah SAW bersabda: “Puasa Arafah (9 Dzulhijjah) dapat menghapuskan dosa setahun yang lalu dan setahun akan datang. Puasa Asyuro (10 Muharram) akan menghapuskan dosa setahun yang lalu.” (HR Muslim).

Mengenai dosa yang diampuni para ulama berselisih pendapat terkait bentuk dosa yang diampuni tersebut. Imam Nawawi Rahimahullah mengatakan: “Jika bukan dosa kecil yang diampuni, semoga dosa besar yang diringankan. Jika tidak, semoga ditinggikan derajatnya.”

Menurut Ibnu Taimiyah Rahimahullah, bukan hanya dosa kecil yang diampuni melainkan dosa besar juga diampuni karena haditsnya bersifat umum. Terlepas dari hal tersebut, dihapusnya dosa tentu menjadi keutamaan tersendiri saat melakukan puasa sunnah ini.

Dengan melaksanakan puasa Arafah, diharapkan juga menjadi doa untuk segera pergi haji karena bisa dilakukan sebagai rasa empati terhadap perjuangan para jamaah yang sedang wukuf di Arafah.

  • http://library.unisma.ac.id/slims_unisma/index.php?p=show_detail&id=25210
  • https://bersamadakwah.net/puasa-arafah-2020/
  • https://islamkita.co/puasa-arafah/
Produk Rekomendasi

TOOLS PARENTING

Komentar

Yuk, ngobrol dan sharing pendapat dengan moms lainnya.

member-image

Beri Komentar...

Artikel Terkait