Kesehatan Umum

2 Juli 2021

Ternyata Banyak Macamnya, Ini 4 Jenis Diare pada Anak yang Perlu Moms Ketahui

Diare osmotik dapat disebabkan oleh intoleransi laktosa
placeholder
placeholder
Artikel ditulis oleh Amelia Riskita
Disunting oleh Adeline Wahyu

Diare yang menyerang Si Kecil memang penyakit yang sangat mengganggu, dimana ternyata terdapat beberapa jenis diare pada anak yang juga disertai penyebab yang berbeda-beda.

Kenali jenis diare pada anak berikut supaya Moms dapat mengatasi diare dan menghindarinya dengan langkah yang tepat pula.

Jenis Diare pada Anak

jenis diare pada anak

Foto: Orami Photo Stock

Diare adalah gangguan kesehatan yang ditandai dengan seringnya buang air besar dengan kotoran yang lunak, encer, dan berair. Sebagian besar anak-anak mengalami diare dari waktu ke waktu.

Baca Juga: Panduan Membuat Oralit untuk Bayi saat Mengalami Diare, Catat!

Pada anak-anak, diare bisa berlangsung selama 1 atau 2 hari dan hilang dengan sendirinya. Namun, jika diare berlangsung lebih dari 2 hari, anak Moms mungkin memiliki masalah yang lebih serius.

Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, ada beberapa jenis diare pada anak yang perlu Moms pahami.

Apa saja kah jenis diare pada anak? simak empat tipe klinis diare berikut yang dikutip dari laman Rehydration Project.

1. Diare Cair Akut

Jenis diare pada anak yang pertama adalah diare cair akut (termasuk kolera) yang dapat berlangsung beberapa jam atau hari.

Perlu Moms ketahui, jenis diare ini sangat berbahaya karena dapat menyebabkan dehidrasi sehingga Si Kecil bisa mengalami penurunan berat badan jika pemberian makan tidak dilanjutkan.

2. Diare Berdarah Akut

Jenis diare pada anak lainnya adalah diare berdarah akut atau yang disebut juga dengan disentri.

Bahaya utama jenis diare ini adalah kerusakan usus, sepsis dan malnutrisi, serta komplikasi lain, termasuk dehidrasi yang juga dapat terjadi.

Baca Juga: Diare pada Anak, Berikut Pencegahan dan Cara Mengatasinya

3. Diare Persisten

Diare persisten ini merupakan jenis diare pada anak yang berlangsung 14 hari atau lebih.

Bahaya utama dari diare persisten adalah malnutrisi dan infeksi non-usus yang serius, serta dehidrasi yang juga dapat terjadi.

4. Diare dengan Malnutrisi Berat

Jenis diare pada anak yang lainnya adalah diare dengan malnutrisi berat (marasmus atau kwashiorkor).

Bahaya utama dari diare jenis ini adalah infeksi sistemik yang parah, dehidrasi, gagal jantung, hingga kekurangan vitamin dan mineral.

Baca Juga: 4 Obat Diare untuk Anak, Efektif untuk Mengurangi Gejala

Penyebab Diare pada Anak

penyebab diare pada anak

Foto: Orami Photo Stock

Diare pada anak dapat disebabkan oleh banyak hal, antara lain:

  • Infeksi bakteri
  • Infeksi virus
  • Kesulitan mencerna hal-hal tertentu (intoleransi makanan)
  • Respon sistem kekebalan tubuh terhadap makanan tertentu (alergi makanan)
  • Parasit yang masuk ke dalam tubuh melalui makanan atau air
  • Reaksi terhadap obat-obatan
  • Penyakit usus, seperti penyakit radang usus
  • Masalah dengan cara kerja lambung dan usus (gangguan usus fungsional), seperti sindrom iritasi usus besar
  • Operasi pada perut atau kantong empedu

Mengutip Johns Hopkins Medicine, anak-anak yang berkunjung ke beberapa negara asing jugaberisiko terkena diare. Hal ini disebabkan karena mungkin saja dari makanan atau air yang tidak aman karena bakteri, virus, atau parasit.

Diare yang parah dapat berarti seorang anak memiliki penyakit yang serius. Jadi, bicarakan dengan penyedia layanan kesehatan anak Moms jika gejala diarenya tidak hilang dalam jangka waktu cukup lama.

Baca Juga: Hentikan 5 Kebiasaan yang Dapat Menyebabkan Diare Pada Anak Ini

Gejala Diare pada Anak

Gejala Diare pada Anak

Foto: Orami Photo Stock

Gejala dapat terjadi berbeda-beda pada setiap anak. Namun pada umumnya, gejala diare pada anak meliputi:

  • Kram perut
  • Sakit perut
  • Pembengkakan (kembung)
  • Perut kembung dan mual
  • Sering kali menggunakan kamar mandi untuk buang air besar
  • Demam
  • Tinja lunak, encer, atau berair, bahkan berdarah
  • Kehilangan cairan tubuh (dehidrasi)
  • Inkontinensia atau sulit menahan buang air kecil

Baca Juga: Perhatikan Ini Ketika Diare pada Anak Terjadi pada Buah Hati Moms

Diagnosis Diare pada Anak

diagnosis diare pada anak

Foto: Orami Photo Stock

Untuk mendiagnosis diare pada anak, dokter biasanya akan bertanya tentang gejala dan riwayat kesehatan anak Moms. Dokter akan memberikan Si Kecil pemeriksaan fisik. Anak Moms juga mungkin menjalani tes laboratorium untuk memeriksa darah dan urin.

Tes lain untuk memastikan apa penyebab diare pada anak juga mungkin termasuk:

  • Kultur tinja untuk memeriksa bakteri atau parasit abnormal di saluran pencernaan anak. Sampel tinja kecil diambil dan dikirim ke laboratorium.
  • Evaluasi tinja untuk memeriksa tinja untuk darah atau lemak.
  • Tes darah untuk menyingkirkan penyakit tertentu.
  • Tes pencitraan untuk menyingkirkan masalah struktural.
  • Tes untuk memeriksa intoleransi atau alergi makanan.
  • Sigmoidoskopi. Tes ini memungkinkan dokter memeriksa bagian dalam usus besar anak untuk mengetahui apa yang menyebabkan diare, sakit perut, sembelit, pertumbuhan abnormal, dan pendarahan. Ini menggunakan tabung pendek, fleksibel, terang (sigmoidoskop). Tabung akan dimasukkan ke usus anak melalui rektum. Tabung ini meniupkan udara ke dalam usus untuk membuatnya membengkak sehingga membuatnya lebih mudah untuk melihat ke dalam.

Baca Juga: Mengenal Gastroenteritis pada Anak, Penyakit Diare Akut yang Berbahaya

Cara Mengatasi Diare pada Anak

cara mengatasi diare pada anak

Foto: Orami Photo Stock

Setelah mengetahui jenis diare pada anak, Moms perlu memahami bagaimana cara mengatasi diare pada anak yang tepat.

Perawatan diare biasanya akan tergantung pada gejala, usia, dan kesehatan anak secara umum. Ini juga akan tergantung pada seberapa parah kondisinya.

Namun yang jelas, dehidrasi adalah masalah utama diare pada anak. Dalam kebanyakan kasus, pengobatan diare juga termasuk pada mengganti cairan yang hilang pada tubuh anak.

Antibiotik mungkin dapat diresepkan ketika infeksi bakteri adalah penyebab diare.

Studi yang dikutip Web MD menunjukkan bahwa yogurt dengan kultur hidup atau probiotik dapat membantu meringankan diare yang disebabkan oleh antibiotik. Kultur dan probiotik membantu mengisi kembali bakteri usus sehat yang terbunuh oleh antibiotik.

Anak-anak harus minum banyak cairan karena hal ini bisa membantu menggantikan cairan tubuh yang hilang.

Jika anak mengalami dehidrasi, pastikan untuk:

  • Tawarkan minuman yang disebut larutan glukosa-elektrolit. Cairan ini memiliki keseimbangan air, gula, dan garam yang tepat.
  • Hindari jus atau soda karena dapat memperburuk diare pada anak.
  • Tidak memberikan air putih pada bayi.
  • Tidak memberikan terlalu banyak air putih untuk anak-anak dari segala usia karena bisa berbahaya.
  • Tetap menyusui bayi jika Si Kecil masih ASI ekslusif. Bayi yang disusui sering mengalami lebih sedikit diare.
  • Jika Si Kecil minum susu formula, terus berikan susu formula pada bayi.
  • Anak-anak yang lebih besar mungkin dapat mencoba diet hambar yang terdiri dari pisang, saus apel, nasi, dan roti panggang.

Itulah jenis diare pada anak, disertai gejala dan cara mengatasinya. Semoga bermanfaat bagi Moms, ya.

  • https://www.hopkinsmedicine.org/health/conditions-and-diseases/diarrhea-in-children
  • https://kidshealth.org/en/parents/diarrhea.html
  • https://rehydrate.org/diarrhoea/
  • https://www.webmd.com/children/guide/diarrhea-treatment
  • https://gi.org/topics/diarrhea-in-children/
Produk Rekomendasi

TOOLS PARENTING

Komentar

Yuk, ngobrol dan sharing pendapat dengan moms lainnya.

member-image

Beri Komentar...

Artikel Terkait