Kesehatan

KESEHATAN
31 Desember 2020

Mengenal Imunoterapi, Pengobatan dan Harapan Baru Kanker Paru

Pengobatan dilakukan dengan infus ke pembuluh darah
placeholder
placeholder
Artikel ditulis oleh Dresyamaya Fiona
Disunting oleh Andra Nur Oktaviani

Indonesia telah mengenal imunoterapi untuk kanker paru sejak 2016, yang cara kerjanya menstimulasi sistem imun tubuh untuk memberikan respons imunitas antitumor.

Imunoterapi, atau imun-onkologi (IO) adalah jenis pengobatan untuk jenis kanker paru-paru Bukan Sel Kecil (KPBSK), menurut Roy Castle Lung Cancer Foundation. Ia bekerja dengan membantu sistem kekebalan tubuh untuk mengenali dan menghancurkan sel kanker.

“Sehingga cara baru ini meningkatkan harapan hidup pasien-pasien kanker paru stadium lanjut menjadi lebih panjang dan meningkatkan kualitas hidup pasien,” tambah Dr. Sita Laksmi Andarini, Sp. P(K), Dokter Speasialis Paru Konsultan Onkologi, pada talkshow #LUNGTalk Peduli Kanker Paru pada 23 November 2020.

Imunoterapi diberikan ke tubuh melalui infus ke pembuluh darah di lengan. Sebagai alternatif, dapat diberikan melalui tabung plastik panjang ke pembuluh darah di dada. Ini dikenal juga sebagai port-a-cath atau power-port.

Baca Juga: Waspada! Kanker Paru Juga Bisa Mengintai Si Kecil

Imunoterapi, Itu Apa?

Imunoterapi, pengobatan baru kanker paru-paru!

Foto: Orami Photo Stock

Imunoterapi dapat didefinisikan sebagai upaya terapi yang luas yang ditujukan untuk penghancuran sel tumor yang dimediasi oleh sistem imun.

Cara ini merupakan alternatif selain melakukan perawatan melalui kemoterapi.

Melansir penelitian yang diterbitkan di National Center of Biotechnology Infomation, imunoterapi masih diteliti lebih lanjut sebagai alternatif pengobatan pada kanker paru-paru. Namun ini sebuah cahaya baru pengobatan bagi mereka yang terkena kanker paru pada stadium awal atau stadium lanjut.

Hasil yang menjanjikan baru-baru ini dari penelitian telah dilaporkan berfungsi dapat menghambat penyebaran kanker paru.

Imunoterapi dapat dilakukan pada pengobatan penyintas kanker paru-paru bukan sel kecil dan kanker paru-paru sel kecil. Terapi ini dapat diterapkan pada kanker stadium awal, kanker stadium lanjut dan kanker yang sebelumnya telah melakukan kemoterapi, ini menurut Memorial Sloan Kettering Cancer Center.

Frekuensi pengobatan akan berbeda tergantung pada jenis imunoterapi.

Cara kerja imunoterapi berbeda dengan kemoterapi. Kemoterapi berfungsi untuk membunuh sel kanker, sedangkan imunoterapi meningkatkan respons imunitas antitumor.

Untuk memahami lebih jelasnya, sistem kerja dari pengobatan imunoterapi ini adalah langsung menyasar atau menghambat pertemuan sel imun yang kerap dimanfaatkan oleh sel kanker untuk menghindari serangan dari sistem imun atau daya tahan tubuh.

Dengan begitu, sistem kekebalan pada penderita kanker akan jauh lebih aktif untuk melawan sel kanker tersebut.

Baca Juga: Yogurt Mengurangi Risiko Kanker Paru-Paru, Benarkah?

Pada tahun 2016, Food and Drug Administration (FDA) menyetujui dua cara imunoterapi dengan beberapa bentuk kanker paru-paru yang kankernya mulai tumbuh lagi setelah pengobatan lain, ini melansir dari pembahasan yang diterbitkan di Lung Cancer Foundation of America.

FDA menyetujui beberapa kandungan obat sebagai salah satu bentuk perawatan kanker paru. Seperti Tecentriq (atezolizumab) sebagai pengobatan untuk beberapa orang dengan kanker paru-paru.

Ada potensi obat Keytruda (pembrolizumab) akan disetujui oleh FDA untuk pengobatan lainnya dalam mendukung perawatan melalui imunoterapi.

Penemuan cara pengobatan terbaru ini yakni imunoterapi, bergerak sangat cepat dengan kemajuan teknologi dan ilmu pengetahuan pada saat ini.

Jenis-jenis Imunoterapi

Jenis-jenis Imunoterapi.jpg

Foto: Emergency Physicians Monthly

Terdapat beberapa jenis imunoterapi untuk pasien kanker paru yang disesuaikan dengan kebutuhan pasien kanker, menurut National Cancer Institute jenis-jenis imunoterapi itu antara lain,

1.Terapi Sel-T

Terapi transfer sel T, merupakan perawatan yang meningkatkan kemampuan alami sel T untuk melawan kanker.

Dalam pengobatan ini, sel kekebalan diambil dari tumor. Mereka yang paling aktif melawan kanker akan dipilih atau diubah di laboratorium untuk menyerang sel kanker dengan lebih baik.

Kuantitas yang diambil cukup besar. Apabila telah berhasil diproses di laboratorium, ini akan dimasukkan kembali ke dalam tubuh melalui jarum di pembuluh darah.

Terapi transfer sel T juga bisa disebut terapi sel adopsi, imunoterapi adopsi, atau terapi sel imun.

2. Antibodi Monoklonal

Ini merupakan protein sistem kekebalan tubuh yang dibuat di laboratorium yang dirancang untuk mengikat target spesifik pada sel kanker.

Beberapa antibodi monoklonal menandai sel kanker sehingga lebih baik dilihat dan akan dihancurkan oleh imun kekebalan.

Antibodi monoklonal juga bisa disebut antibodi terapeutik.

Baca Juga: Menjalankan Program Kehamilan Pasca Kanker Payudara

3. Pengobatan Vaksin

Proses ini dilakukan dengan menyuntikkan vaksin pada tubuh untuk melawan kanker. Dengan ini sistem kekebalan tubuh akan meningkat dalam mencegah timbulnya kanker ke organ lain.

Pengobatan vaksin berbeda dengan vaksin yang membantu mencegah penyakit.

4. Modulator Sistem Kekebalan

Beberapa dari agen ini mempengaruhi bagian tertentu dari sistem kekebalan, sedangkan yang lain mempengaruhi sistem kekebalan dengan cara yang lebih umum.

Melansir penelitian yang diterbitkan di Cancer Research Institute, untuk di Amerika, metode imunoterapi ini telah setahun lebih dini dilakukan untuk penyintas kanker paru.

Sebuah riset yang diterbitkan University of Wollongong, Australia pada 2019 menyatakan bahwa tingkat kelangsungan hidup keseluruhan rata-rata dari terapi imunoterapi onkologi mencapai 30 bulan.

Baca Juga: Kanker Prostat VS Infertilitas Pria

Cara Pemberian Imunoterapi

Imunoterapi, pengobatan kanker paru-paru.jpg

Foto: Illinois Science Council

Terapi imun ini adalah untuk meningkatkan kekebalan tubuh pada manusia dengan merangsang sel imun. Obat akan diberikan melalui selang ke pembuluh darah atau disebut sebagai infus.

Kebanyakan pasien tetap menjalani imunoterapi selama kanker mereka masih merespons kinerja imunoterapi. Beberapa pasien mungkin akan memakan proses lebih lama atau singkat, tergantung pada jenis kankernya.

Menurut American Lung Assocation, obat imunoterapi telah terbukti tetap bekerja untuk jangka waktu tertentu bahkan setelah pengobatan dihentikan.

Pemberian cairan, obat-obatan, dan nutrisi intravena sangat umum di rumah sakit.

Dengan melalui pembuluh darah, maka obat yang disampaikan untuk tubuh lebih cepat terproses.

Efek Samping Imunoterapi

Imunoterapi.jpg

Foto: Medical Xpress

Tidak hanya kemoterapi, imunoterapi juga memiliki efek samping pada tubuh.

Jika biasanya kemoterapi menyebabkan berat badan menurun, rambut rontok dan badan mudah lelah, efek samping imunoterapi lebih ke masalah kulit dan pencernaan.

Efek samping obat ini dapat berupa kelelahan, batuk, mual, gatal-gatal, ruam kulit, kehilangan nafsu makan, sembelit, nyeri sendi, dan diare.

Efek samping lain yang lebih serius lebih jarang terjadi pada pasien atau penyintas kanker paru.

Ada dua jenis efek samping yang kerap dirasakan bagi para penyintas imunoterapi menurut sebuah studi yang diterbitkan oleh American Cancer Society,

1. Reaksi Infus

Beberapa orang mungkin mengalami reaksi infus saat mendapatkan obat ini. Ini seperti reaksi alergi, dan dapat berupa demam, menggigil, kemerahan pada wajah, ruam, kulit gatal, pusing, napas mengi, dan kesulitan bernapas.

Penting untuk segera memberitahu dokter atau perawat jika memiliki gejala-gejala ini saat mendapatkan obat ini.

2. Reaksi Autoimun

Obat ini bekerja dengan menghilangkan salah satu perlindungan pada sistem kekebalan tubuh.

Terkadang sistem kekebalan mulai menyerang bagian tubuh lainnya, yang dapat menyebabkan masalah serius atau bahkan mengancam jiwa di paru-paru, usus, hati, kelenjar pembuat hormon, ginjal, atau organ lain.

Baca Juga: 6 Sayuran yang Bisa Mencegah Penyakit Autoimun, Bisa Jadi Pilihan!

“Meskipun di tengah pandemi seperti saat ini, kami para ahli medis berharap para pasien kanker paru tetap mendapatkan akses pengobatan yang terbaik guna menghindari komplikasi lebih lanjut,” ujar DR. Dr. Agus Dwi Susanto, Sp.P(K), FAPSR, FISR, Ketua Umum Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI).

Sebab, saat ini seluruh terapi kanker paru yang telah ada di Indonesia sudah mengikuti panduan tatalaksana kanker paru dan Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI) yang disesuaikan dengan pedoman internasional.

Sehingga, proses diagnostik dan terapi sama dengan standar di seluruh dunia.

Maka peluang untuk sembuh dari kanker paru-paru sangat ada dan memungkinkan, karena kemajuan teknologi dan penemuan pengobatan baru, yakni imunoterapi.

Baca Juga: Apakah Kanker Paru-Paru Non-Perokok Beda dengan Perokok? Ini Penjelasannya!

Komentar

Yuk, ngobrol dan sharing pendapat dengan moms lainnya.

member-image

Beri Komentar...

Artikel Terkait