2-3 tahun

2-3 TAHUN
10 Oktober 2020

8 Penyebab Obesitas pada Anak, Jangan Dianggap Enteng ya!

Tips untuk Moms yang anaknya menderita Obesitas
placeholder
placeholder
Artikel ditulis oleh Adeline Wahyu
Disunting oleh Andra Nur Oktaviani

Obesitas merupakan masalah kesehatan yang seringkali dialami oleh anak-anak. Saat tubuh anak terlihat berisi dan subur, mungkin orang tua akan bahagia, namun sebenarnya risiko obesitas mungkin saja dialami oleh anak-anak.

Bahkan jika obesitas ini terjadi, bisa bertahan hingga Si Kecil dewasa.

Berdasarkan Riskesdas 2018, dibandingkan tahun 2013, angka obesitas pada anak turun menjadi 8 persen. Namun menurut Menteri Kesehatan Nila Moeloek kala itu, hal ini bukan disebabkan oleh perbaikan gizi, melainkan akibat angka stunting yang turun.

Tanda awal obesitas pada anak bisa diketahui dengan mudah, yaitu dari bentuk pipi yang tembem, dagu yang berisi, leher yang tertutup atau pendek, perut buncit, kedua tungkai umumnya berbentuk x, dan paha dalam saling menempel.

Baca Juga: Bisa Sebabkan Obesitas, Ini Bahaya MPASI Dini Pada Bayi

Penyebab Obesitas pada Anak

Obesitas disebabkan oleh ketidakseimbangan energi yang masuk dengan energi yang dipakai. Berikut adalah penyebab obesitas pada anak yang umumnya terjadi:

1. Genetik

Bahaya Obesitas pada Balita 03.jpg

Penyebab anak obesitas yang pertama adalah genetik. Masyarakat umumnya percaya jika kegemukan menurun dalam keluarga, tetapi sebenarnya kontribusi faktor genetik dalam menyebabkan anak obesitas kecil, yaitu sekitar 5 persen.

2. Peranan Orang Tua

Obesitas pada Anak, Ini 3 Miskonsepsi Paling Umum 01.jpg

Orang tua juga ternyata berperan sebagai penyebab obesitas pada anak. Ketersediaan makanan sehat di rumah yang diterapkan secara konsisten adalah kunci dalam membentuk kebiasaan makan anak yang baik, bahkan dapat mengatasi rasa tidak suka pada makanan tertentu.

Studi menunjukkan keluarga yang terbiasa duduk makan bersama akan mengonsumsi makanan yang lebih sehat. Pergi makan di luar atau menonton sambil makan berhubungan dengan tingginya konsumsi makanan berlemak.

Cara orang tua menawarkan makanan berpengaruh terhadap persepsi anak. Persepsi yang positif terbentuk jika orang tua memberi kesempatan kepada anak untuk memilih makanannya sendiri dengan menyediakan porsi makanan sehat yang cukup.

Pembatasan konsumsi makanan cepat saji yang dipaksakan malah meningkatkan keinginan anak untuk memakan junkfood.

Baca Juga: 4 Trik Agar Anak Mengurangi Makan Junk Food

3. Konsumsi Makanan Cepat Saji

6 Cara Menghilangkan Jerawat dengan Cepat 3 junkfood freepik.jpg

Konsumsi makanan cepat saji juga merupakan penyebab obesitas pada anak. Makanan cepat saji mengandung kalori tinggi, namun memiliki nilai gizi yang rendah. Gaya hidup masyarakat urban perlu diwaspadai, di mana seringkali kedua orang tua bekerja sehingga memiliki waktu lebih sedikit untuk mempersiapkan makanan bagi keluarga di rumah.

Ditambah lagi kemudahan untuk membeli makanan cepat saji melalui layanan ojek daring. Ini jadi salah satu penyebab anak mengalami obesitas.

4. Konsumsi Minuman Tinggi Gula

makanan manis lemak trans.jpg

Konsumsi minuman yang mengandung gula tinggi juga jadi penyebab anak obesitas. Minuman golongan ini tidak hanya minuman bersoda, tetapi juga minuman kemasan, seperti jus buah, yogurt, bahkan susu.

Untuk menghindari obesitas pada anak, perhatikan kadar gula di masing-masing kemasan minuman sebelum memberikannya kepada Si Kecil.

5. Porsi Makan

fakta obesitas pada anak hero

Porsi makan yang tidak tepat juga berperan sebagai penyebab obesitas pada anak. Studi menunjukkan porsi makan meningkat drastis dalam satu dekade terakhir.

Konsumsi makanan dalam porsi besar, ditambah dengan sering ngemil makanan berkalori tinggi, menyebabkan total asupan kalori yang besar, sehingga dapat menyebabkan obesitas.

Baca Juga: Jangan Paksa Anak Habiskan Makan, Ini Porsi yang Tepat!

6. Kurang Aktivitas Fisik

supaya anak tidak malas berolahraga

Banyak yang tidak menyadari bahwa kurangnya aktivitas fisik merupakan penyebab anak mengalami obesitas. Penggunaan teknologi sudah begitu luas. Kita dapat melihat anak dari usia sangat dini sudah menggunakan gawai canggih.

Moms perlu waspada jika anak terlalu lama menggunakan gawai atau menonton televisi karena akan mengurangi waktu aktivitas fisiknya.

Penelitian juga menunjukkan semakin lama seorang anak menonton televisi, semakin besar keinginannya untuk mengonsumsi makanan yang diiklankan. Sebaliknya, dengan aktivitas fisik, kasus anak obesitas bisa dicegah.

7. Diet Tinggi Karbohidrat Sederhana

obesitas pada anak

Foto: Orami Photo Stock

Peran karbohidrat dalam penambahan berat badan tidak jelas. Karbohidrat meningkatkan kadar glukosa darah, yang pada gilirannya merangsang pelepasan insulin oleh pankreas, dan insulin meningkatkan pertumbuhan jaringan lemak dan dapat menyebabkan penambahan berat badan.

Beberapa ilmuwan percaya bahwa karbohidrat sederhana (gula, fruktosa, makanan penutup, minuman ringan, bir, anggur, dan lainnya, berkontribusi pada penambahan berat badan karena lebih cepat diserap ke dalam aliran darah daripada karbohidrat kompleks (pasta, nasi merah, biji-bijian, sayuran, mentah).

Dengan demikian menyebabkan pelepasan insulin yang lebih jelas setelah makan daripada karbohidrat kompleks. Pelepasan insulin yang lebih tinggi ini, beberapa ilmuwan percaya, berkontribusi pada penambahan berat badan.

8. Faktor Psikologi

obesitas pada anak

Foto: Orami Photo Stock

Bagi sebagian orang, emosi memengaruhi kebiasaan makan. Banyak orang makan berlebihan sebagai respons terhadap emosi seperti kebosanan, kesedihan, stres, atau kemarahan. Meskipun sebagian besar orang yang kelebihan berat badan tidak mengalami gangguan psikologis dibandingkan orang dengan berat badan normal, sekitar 30% orang yang mencari pengobatan untuk masalah berat badan yang serius mengalami kesulitan makan berlebihan.

Baca Juga: 3 Alasan Tidak Nafsu Makan Saat Hamil, Apakah Wajar?

Melihat beberapa faktor di atas, bisa dikatakan anak belajar melalui contoh yang ada di sekitarnya, terutama dari orang tua. Untuk mencegah obesitas pada anak, mereka perlu diajarkan pola makan yang baik serta aktif secara fisik.

Peran orang tua dan keluarga begitu penting agar pola hidup sehat dapat diterapkan oleh setiap anggota keluarga di rumah.

Ditinjau oleh dr. Adelina Haryono

Sumber: sehatq.com

Konten ini merupakan kerja sama yang bersumber dari SehatQ

Isi konten di luar tanggung jawab Orami Parenting

Artikel Terkait