29 Juli 2022

Somniphobia, Ketakutan yang Esktrem untuk Tidur!

Somniphobia bisa disebabkan karena ketindihan

Somniphobia adalah suatu ketakutan yang irasional atau ekstrem untuk tidur. Ketakutan ini akan mengganggu penderitanya sepanjang hari, hingga membuat perilaku mereka sehari-hari tertuju pada usaha menghindari tidur.

Melansir dari Healthline, kondisi ini menyebabkan kecemasan dan ketakutan yang parah yang ada di pikiran. Fobia ini dikenal juga sebagai hypnophobia dan clinophobia.

Sama halnya dengan penjelasan dr. Leonardi A. Goenawan, Sp.KJ, Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa RS Pondok Indah – Puri Indah dan RS Pondok Indah – Bintaro Jaya, penderita fobia tidur akan melakukan banyak cara sebagai pengalihan.

"Penderitanya cenderung akan selalu menyalakan lampu, televisi, atau memutar musik yang keras sebagai distraksi atau pengalihan. Bahkan di beberapa kasus, ada yang menyalahgunakan alkohol dan obat-obatan untuk mengatasi perasaan takut terhadap tidur," jelas dr. Leonardi.

Penderita kondisi ini khawatir jika mengalami sesuatu yang mengerikan selama mereka tidur, seperti berjalan dalam tidur atau mimpi yang menakutkan.

Gangguan tidur ini bisa menyebabkan beberapa kecemasan seperti takut akan mimpi buruk atau kondisi lainnya yang berhubungan dengan tidur.

Dengan begitu, rasa takut yang ditimbulkannya umumnya cukup kuat untuk memengaruhi kehidupan sehari-hari, aktivitas biasa, dan kesejahteraan secara keseluruhan, lho Moms.

Baca Juga: Fobia Ketinggian, Bisakah Diatasi?

Penyebab Somniphobia dan Mengapa Seseorang Takut untuk Tidur?

somniphobia
Foto: somniphobia (canva.com)

Ilustrasi fobia (Sumber: Orami Photo Stock)

Nah, untuk mengetahui penyebab kondisi mental ini, Moms perlu mengetahui dulu lebih lanjut mengenai somniphobia.

Somniphobia sendiri tergolong dalam gangguan fobia spesifik,dan juga merupakan suatu gangguan yang sama dengan fobia lainnya seperti ketakutan yang sangat intens terhadap objek, situasi, atau hewan tertentu.

Penderitanya sangat memahami jika kecemasan yang dialami sangat berlebihan apabila dibandingkan dengan rasa takut yang seharusnya terhadap objek spesifik tersebut.

Sekalipun demikian, penderita seakan tidak kuasa untuk membendung atau mengendalikan rasa takut yang timbul. Nah lalu apa saja penyebabnya dan mengapa seseorang bisa takut untuk tidur?

Menurut dr. Leonardi sejauh in belum ada yang bisa memastikan penyebab dari salah satu fobia ini. Namun ada beberapa gangguan tidur yang mungkin bisa memicu seseorang mengalami ketakutan ekstrem untuk tidur.

Baca Juga: Trypophobia, Fobia terhadap Kumpulan Lubang Kecil

1. Kelumpuhan Tidur

Kelumpuhan tidur tentunya pernah dialami sebagian orang, ya Moms. Kondisi ini juga disebut sebagai sleep paralysis yang terjadi di antara fase bangun dan tidur.

Penderitanya seakan-akan merasa sadar tapi tidak mampu bergerak selama beberapa detik hingga beberapa menit.

Beberapa penderita lainnya juga merasakan sensasi seperti tercekik atau tertindih karenanya fenomena ini sering diberi nama “ketindihan

"Gangguan ini juga sering berdampingan dengan gangguan tidur yang disebut narcolepsy, yaitu suatu gangguan di mana otak mengalami masalah dalam mengatur pola tidur," jelas dr. Leonardi.

Pada sleep paralysis, juga sering terdapat halusinasi yang mirip dengan mimpi buruk, yang sangat menakutkan, terutama jika terjadi berulang-ulang.

2. Gangguan Mimpi Buruk

penyebab somniphobia
Foto: penyebab somniphobia (Orami Photo Stock)

Ilustrasi mimpi buruk (Sumber: Orami Photo Stock)

"Penyebab yang satu ini cukup sering, suatu mimpi buruk yang terasa sangat nyata, sering membuat penderitanya merasa terganggu sepanjang hari," kata dr. Leonardi.

Menurut dr. Leonardi gangguan mimpi ini berisiko bagi mereka yang memiliki latar belakang keluarga yang sangat memercayai hal-hal gaib, firasat, dan semacamnya.

Apabila terjadi berulang, kondisi takut akan tidur bisa terjadi terlebih di waktu-waktu menjelang tidur.

Di samping kedua gangguan di atas, penderita Post-Traumatic Stress Disorder juga sering mengalami mimpi buruk dan tidak jarang yang mengalami somniphobia.

"Mereka yang mengalami gangguan kecemasan berat juga sering memiliki kekhawatiran berlebih tentang hal lainnya seperti kejadian kebakaran, kebocoran gas, perampokan, kematian pada saat tidur, dan lainnya yang membuatnya cemas dalam menghadapi tidur," kata dr. Leonardi.

Namun beberapa kasus kondisi takut akan tidur ini muncul tanpa alasan dan bisa timbul sejak masa kanak-kanak hingga membuat penderitanya sulit untuk mengingat kapan tepatnya gangguan tersebut muncul.

Baca Juga: Venustraphobia, Fobia Saat Berhadapan dengan Wanita Cantik

Ciri-Ciri dan Gejala Somniphobia

Ciri-ciri somniphobia terbagi menjadi 2, nih Moms. Berikut ciri-ciri dan gejala somniphobia menurut dr. Leonardi.

1. Gejala Psikologis

gejala somniphobia
Foto: gejala somniphobia (newssarbcru.com)

Ilustrasi gejala fobia tidur (Sumber: Orami Photo Stock)

  • Perasaan takut dan cemas bila berpikir tentang tidur.
  • Semakin mendekati waktu tidur, akan menjadi semakin stres.
  • Menghindari tidur atau berusaha untuk tetap terjaga semampunya.
  • Mengalami serangan panik saat mendekati waktu tidur.
  • Kesulitan konsentrasi pada hal-hal di luar rasa takutnya terhadap tidur.
  • Emosi yang tidak stabil dan mudah marah.
  • Sulit mengingat.

2. Gejala Fisik

  • Mual dan mengalami berbagai masalah pencernaan yang berhubungan dengan kecemasan seputar tidur.
  • Rasa sesak di dada dan berdebar-debar jika berpikir tentang tidur.
  • Berkeringat, merasa dingin, dan hiperventilasi (frekuensi napas menjadi cepat) jika berpikir tentang tidur.
  • Pada anak-anak, menjadi mudah menangis, tidak mau lepas dari orang tuanya, dan adanya perilaku menolak tidur termasuk tidak mau ditinggal oleh pengasuhnya.

Baca Juga: 10 Cara Menjaga Kesehatan Mental, Yuk Coba!

Tes untuk Somniphobia

tes somniphobia
Foto: tes somniphobia

Ilustrasi mimpi buruk (Sumber: Orami Photo Stock)

Sama seperti masalah mental dan fisik pada umumnya, somniphobia akan lebih tepat jika didiagnosis oleh dokter atau tenaga profesional lainnya di bidang kesehatan mental, yaitu psikiater.

"Umumnya seseorang dianggap memiliki gangguan fobia apabila terdapat ketakutan dan kecemasan yang menimbulkan penderitaan dan kesulitan dalam menjalani kehidupan sehari-hari," kata dr. Leonardi.

Seseorang bisa dianggap mengidap somniphobia jika:

  • Terdapat gangguan kualitas tidur.
  • Berdampak negatif terhadap kesehatan mental dan fisik.
  • Menimbulkan kecemasan yang persisten dan penderitaan yang terkait dengan tidur.
  • Menimbulkan masalah di pekerjaan, sekolah, atau dalam kehidupan personal.
  • Telah dialami setidaknya 6 bulan atau lebih.
  • Sedapat mungkin menghindari tidur.

Jika seseorang sudah mengalami hal-hal di atas, maka bisa dikatakan penderita mengalami somniphobia.

Namun jangan sampai Moms menjadi self-diagnose, ya, sebab segala bentuk gejala dan ciri-ciri harus dilakukan tes oleh tenaga ahlinya di mana dalam hal ini adalah psikiater.

Baca Juga: Cara Mengatasi Masalah Psikologi Menjelang Persalinan

Cara Mengatasi Somniphobia

Penatalaksanaan somniphobia umumnya serupa dengan terapi untuk fobia spesifik lainnya. Beberapa terapi yang menjadi rekomendasi menurut adalah dr. Leonardi adalah sebagai berikut:

1. Exposure Therapy

somniphobia
Foto: somniphobia (canva.com)

Ilustrasi fobia (Sumber: Orami Photo Stock)

Pengobatan ketakutan akan tidur ini dianggap paling efektif, lho Moms. "Sering dianggap yang paling efektif dalam menatalaksana fobia. Dengan panduan seorang terapis, secara bertahap penderita somniphobia menjadi terbiasa menghadapi ketakutannya," jelas dr. Leonardi.

Terapi ini dibantu dengan latihan visualisasi, yaitu membayangkan bahwa penderita menikmati tidur yang lelap di malam hari dan menjalani aktivitas sehari-hari dengan rileks.

2. Cognitive Behavioral Therapy

Prosedur ini, pasien diminta untuk mengidentifikasi dan bekerja sama dengan terapis guna menghadapi pikiran-pikiran irasional yang muncul akibat ketakutan ekstrem akan tidur.

Terapi akan mencoba untuk membingkai ulang pikiran-pikiran tersebut menjadi rasional hingga mampu menurunkan tingkat kecemasan.

3. Eye Movement Desensitization and Reprocessing (EMDR)

"(Pengobatan ini) juga dianggap efektif untuk menanggulangi somniphobia yang terkait dengan trauma," kata dr. Leonardi.

Penderitanya akan dibantu untuk memroses trauma yang pernah dialami tanpa harus terhanyut secara emosional oleh memori yang ada tersebut.

Baca Juga: Perbedaan Psikolog dan Psikiater, Tentukan Pakar yang Tepat untuk Berkonsultasi

4. Farmakoterapi

obat somniphobia
Foto: obat somniphobia (Orami Photo Stocks)

Ilustrasi obat-obatan (Sumber: Orami Photo Stock)

Penggunaan beberapa jenis obat juga mampu membantu untuk mengurangi gangguan tidur ini. Namun tentunya obat ini adalah pendamping dari terapi-terapi di atas.

Nah itu dia Moms informasi mengenai somniphobia. Jika dirasa memiliki gejala di atas, pastikan berkunjung ke psikolog atau psikiater dan hindari self-diagnose, ya Moms!

  • https://www.sleepfoundation.org/mental-health/somniphobia
  • https://www.healthline.com/health/somniphobia#treatment
  • https://www.choosingtherapy.com/somniphobia/

Konten di bawah ini disajikan oleh advertiser.
Tim Redaksi Orami tidak terlibat dalam materi konten ini.


FOLLOW US

facebook
twitter
instagram
spotify
tiktok

Orami Articles — Artikel Seputar Parenting, Kesehatan,
Gaya Hidup dan Hiburan

Copyright © 2024 Orami. All rights reserved.

rbb