Kesehatan

26 Agustus 2021

Kenali Vaksin DPT yang Mampu Mencegah Tetanus pada Anak

Vaksin DPT diberikan saat imunisasi dasar dan lanjutan
placeholder
placeholder
Artikel ditulis oleh Cholif Rahma
Disunting oleh Karla Farhana

Vaksin DPT diberikan untuk melindungi anak dari penyakit difteri, pertusis, dan tetanus. Vaksin ini perlu diberikan sebelum anak berusia 1 tahun. Tak hanya melindungi, vaksin DPT juga dapat mencegah komplikasi yang disebabkan ketiga penyakit tersebut.

Moms pasti pernah mendengar bahwa tetanus terjadi akibat menginjak paku berkarat. Faktanya, bakteri di tanah, debu, dan pupuk kandang bisa membawa bakteri tetanus.

Tetanus masuk ke aliran darah melalui luka pada tubuh. Karena itu, anak-anak yang sering bermain aktif di tanah rentan terkena penyakit tersebut.

Nah, di dalam vaksin DPT, terkandung diptheria toxoid, tetanus toxoid, dan pertussis antigens, yang akan memicu sistem kekebalan tubuh untuk memproduksi antibodi dalam memerangi infeksi dari ketiga penyakit tersebut jika sewaktu-waktu menyerang.

Efek samping dari vaksin DPT adalah demam. Karena efek samping ini, banyak orang tua yang khawatir. Lalu, adakah cara mendapatkan vaksin DPT tanpa efek samping demam? Berikut ini penjelasannya.

Baca Juga: 4 Mitos dan Fakta Seputar Vaksin MR/MMR

Gejala Tetanus

Gejala Tetanus (1).jpg

Foto: images.ctfassets.net

Ketika bakteri tetanus masuk ke tubuh, bakteri tersebut mengeluarkan racun yang menyebabkan kontraksi otot yang menyakitkan. Muncullah gejala yang disebut lockjaw (rahang terkunci).

Gejala awalnya berupa nyeri otot di leher dan perut yang bisa menyebabkan otot terkunci, sehingga membuat sulit bergerak dan menelan. Selain itu, penderita tetanus juga merasakan nyeri otot di sekujur tubuh, demam, berkeringat, sulit bernapas, epilepsi, dan kejang otot hebat.

Penyembuhan tetanus bisa memakan waktu berbulan-bulan dan penderitanya biasanya harus dirawat di rumah sakit. Penyakit ini bisa berakibat fatal jika tidak diatasi. Menurut situs Webmd.com, diperkirakan satu dari 10 orang yang terkena tetanus meninggal dunia.

Namun, tidak perlu terlalu khawatir, Moms. Tetanus tidak menular dari manusia ke manusia, melainkan dari kontak langsung dengan sumber bakteri tetanus. Penyakit ini dapat dicegah dengan vaksinasi.

Baca Juga: Vaksin MMR Kembali Hadir di Indonesia, Kenali Manfaatnya untuk Bayi

Vaksin DPT untuk Mencegah Tetanus

Vaksin DPT untuk Mencegah Tetanus.jpg

Foto: iStock.com

Vaksin yang sangat efektif mencegah tetanus pada balita dikenal dengan sebutan vaksin DPT (difteri, pertusis, tetanus). Difteri, pertusis, dan tetanus adalah tiga penyakit mematikan yang disebabkan bakteri. Di Indonesia, vaksin DPT diberikan pada usia 2, 3, dan 4 bulan sebagai imunisasi dasar.

Pertusis adalah penyakit sistem pernapasan yang seringnya dipicu oleh bakteri Bordetella pertussis. Penyakit ini juga kerap disebut sebagai batuk rejan karena gejala utamanya adalah batuk berkepanjangan disertai demam serta pilek. Penderitanya bisa meninggal jika penyakit tak ditangani hingga menyebabkan pneumonia dan bahkan kerusakan otak.

Tetanus adalah penyakit infeksi akut yang disebabkan oleh bakteri Clostridium tetani. Gejalanya berkaitan dengan fungsi saraf dan otot, seperti susah membuka mulut dan otot kaku serta kejang. Bakteri penyebab tetanus masuk lewat luka, misalnya dari goresan di tangan atau kaki. Tetanus bisa menyebabkan kematian jika racun telah menyebar.

Vaksin DPT termasuk dalam imunisasi dasar yang bermanfaat menekan risiko terserang penyakit-penyakit tersebut. Bila tubuh telah menerima vaksin DPT, daya tahannya akan lebih kuat ketika ada bakteri penyebab difteri, pertusis, dan tetanus yang masuk ke tubuh. Dengan demikian, potensi penularan ke orang lain juga dapat ditekan.

Tahun lalu, Kementerian Kesehatan Republik Indonesia (Kemenkes RI) mengubah konsep imunisasi dasar lengkap menjadi imunisasi rutin lengkap yang terdiri dari imunisasi dasar dan lanjutan. Imunisasi dasar saja dianggap tidak cukup. Diperlukan imunisasi lanjutan untuk mempertahankan tingkat kekebalan optimal.

Jadi, vaksin DPT diberikan lagi kepada balita usia 18 bulan sebagai bagian dari imunisasi lanjutan (booster). Selain itu, karena imunitas terhadap tetanus berkurang seiring bertambahnya umur, anak kelas 1 SD memerlukan vaksin DT (tanpa pertusis), sedangkan anak kelas 2 dan 5 SD mendapatkan vaksin Td (vaksin untuk difteri dikurangi).

Vaksin DPT mengandung racun yang dihasilkan bakteri penyebab difteri, pertusis, dan tetanus dalam bentuk tidak aktif. Racun tersebut tidak lagi memproduksi penyakit, tapi memicu tubuh menciptakan antibodi yang memberikan imunitas terhadap racun tadi.

Baca Juga: Pentingkah Si Kecil Diberikan Imunisasi Tambahan?

Efek Samping Vaksin DPT

Seperti obat, vaksin DPT juga memiliki efek samping. Masalah yang paling serius adalah reaksi alergi. Namun, risikonya sangat kecil, yakni 1:1 juta. Selain itu ada masalah ringan yang terjadi 1-3 hari setelah vaksin, di antaranya:

  • Demam
  • Kemerahan, bengkak, atau nyeri di tempat bekas suntikan
  • Rewel
  • Lelah
  • Muntah

Untuk meredakan rasa sakit pada area suntik, Moms dapat mengompres area tersebut dengan kain basah. Moms juga bisa memberikan obat penurun panas jika anak mengalami demam setelah menjalani imunisasi.

Selain itu, hindari memakaikan pakaian atau selimut yang terlalu tebal pada anak setelah imunisasi, karena hal ini justru dapat memerangkap panas di dalam tubuh dan membuat demam tidak kunjung turun.

Pada kasus yang sangat jarang terjadi, vaksin DPT dapat menimbulkan reaksi alergi berat pada anak, mulai dari demam tinggi, pembengkakan pada wajah atau tenggorokan, kejang, hingga penurunan kesadaran.

Periksakan ke dokter jika anak mengalami reaksi berikut setelah mendapat vaksin DPT:

Baca Juga: Si Kecil Mau Disuntik Vaksin? Cek Dulu 5 Tips Berikut Ini!

Vaksin DPT Whole Cells vs Aselular

fakta vaksin pfizer

Foto: Orami Photo Stock

Demam merupakan salah satu efek samping yang bisa terjadi pada beberapa anak setelah diberi vaksin.

Karenanya, sejumlah orangtua memilih jenis vaksin DPT impor yang tidak menyebabkan demam.

Demam ternyata disebabkan oleh kandungan pertusis pada vaksin DPT jenis whole cell. Istilah whole cell artinya, pembuatan vaksin menggunakan seluruh sel kuman yang telah dilemahkan. Akibatnya, anak berisiko demam hingga kejang demam, karena suhu tubuh terlalu tinggi.

Akhirnya, para orang tua memilih vaksin DPT jenis aseluler. Setelah dilakukan penelitian, vaksin DPT aseluler memang tidak menyebabkan demam atau setidaknya hanya risiko demam yang ringan.

Namun melansir Kids Health, penelitian lebih lanjut menunjukkan, vaksin DPT aseluler bisa menyebabkan anak kembali terkena pertusis saat dewasa. Jika dibandingkan dengan vaksin DPT aseluler, whole cell ternyata juga memberikan kekebalan yang lebih tahan lama.

Bila orangtua yang memilih vaksin DPT aseluler sebaiknya kembali membawa Si Kecil untuk divaksin ulang setelah beberapa tahun.

Vaksinasi ulang untuk meningkatkan kekebalan dikenal dengan istilah booster. Di Indonesia, yang digunakan dalam program imunisasi nasional oleh pemerintah adalah vaksin jenis whole cell buatan PT Bio Farma di Bandung, Jawa Barat. Sedangkan, vaksin DPT aseluler yang ada merupakan produk impor. Bio Farma belum memroduksi vaksin aseluler.

Baca Juga: Mengapa Anak Perlu Mendapatkan Imunisasi Ulang?

Bagaimanapun, tanpa vaksin, risiko anak terkena difteri, pertusis, dan tetanus sangat tinggi. Imunisasi menjadi penting karena tak hanya melindungi anak-anak yang mendapat vaksin, tapi juga seluruh masyarakat.

Jadi, jangan lupa selalu cek jadwal imunisasi anak, ya, Moms, agar bisa mencegah tetanus.

  • https://en.wikipedia.org/wiki/DPT_vaccine#:~:text=The%20DPT%20vaccine%20or%20DTP,causes%20pertussis%20or%20pertussis%20antigens.
  • https://kidshealth.org/en/parents/dtap-vaccine.html
  • https://www.who.int/vaccine_safety/initiative/tools/DTP_vaccine_rates_information_sheet.pdf
  • https://www.biofarma.co.id/en/our-product/detail/dtp-vaccine
Produk Rekomendasi

TOOLS PARENTING

Komentar

Yuk, ngobrol dan sharing pendapat dengan moms lainnya.

member-image

Beri Komentar...

Artikel Terkait