21 Desember 2022

Fakta-Fakta Anencephaly, Bayi Lahir Tanpa Tempurung Kepala yang Utuh

Kondisi ini tidak dapat disembuhkan, tapi bisa dicegah dan dikurangi risikonya

Sejumlah bayi mengalami anencephaly atau keadaan tempurung kepala tidak utuh.

Padahal, area otak diperlukan untuk berpikir, mendengar, melihat, merasakan emosi, dan mengoordinasikan gerakan.

Karena beberapa kondisi dan gangguan kesehatan, tulang tengkorak juga dapat hilang atau tidak terbentuk dengan sempurna.

Diyakini, kondisi ini bisa dideteksi sejak dalam kandungan pada trimester kehamilan tertentu.

Apakah penyebab dari bayi dengan anensefali ini bisa terjadi? Kenali juga beragam cara untuk mendeteksi dan mengatasinya.

Baca Juga: Moms, Ternyata Ini Hal yang Jadi Penyebab AC Tidak Dingin

Tanda Bayi Anencephaly

Gangguan Kesehatan saat Hamil (Orami Photo Stocks)
Foto: Gangguan Kesehatan saat Hamil (Orami Photo Stocks)

Moms, apakah masih asing dengan istilah anensefali?

Dikutip dari laman MedlinePlus, anencephaly terjadi ketika seorang bayi lahir dengan kehilangan sebagian besar otak besar maupun kecil.

Kondisi ini dapat berakibat fatal. Sebagian besar bayi dengan anensefali meninggal sebelum lahir, atau kehamilan berakhir dengan keguguran.

Ada beberapa tanda atau gejala yang bisa terlihat dari bayi dengan anensefali, meliputi:

  • Tidak adanya penutup tulang di bagian belakang kepala
  • Hilangnya tulang di sekitar bagian depan dan samping kepala
  • Celah langit-langit mulut tidak tertutup
  • Cacat jantung bawaan

Selain itu, bayi yang lahir dengan anensefali bisa meninggal dalam beberapa jam, hari, atau minggu setelah melahirkan.

Ini merupakan salah satu cacat tabung saraf yang paling parah selama kehamilan.

Umumnya, kondisi ini dapat terdeteksi secara prenatal atau saat janin masih berada di dalam kandungan. Pada beberapa kasus, anensefali juga dapat didiagnosis setelah bayi lahir.

Baca Juga: Mengenal Makrosefali, Kepala Lingkar Bayi Besar Melebihi Normal

Penyebab Terjadinya Anensefali

Anensefali adalah bagian dari cacat lahir yang terjadi ketika tengkorak, kulit kepala, dan otak tidak berkembang.

Ini membuat sebagian otak atau tengkorak bayi hilang dan tidak utuh sepenuhnya.

Dilansir dari Cleveland Clinic, ada beberapa faktor yang juga dapat menjadi penyebab anencephaly, yaitu sebagai berikut.

1. Kekurangan Asam Folat

Makanan Asam Folat (Orami Photo Stocks)
Foto: Makanan Asam Folat (Orami Photo Stocks) (Thebuyingguides.com)

Dilansir dari Reviews in Obstetrics & Gynecology, asam folat adalah bentuk vitamin B9 yang merupakan nutrisi penting dalam proses pembentukan DNA.

Moms mungkin sudah sering mendengar pentingnya menjaga asupan asam folat sebelum dan selama masa kehamilan.

Manfaat asam folat yang paling utama, yaitu untuk mencegah terjadinya cacat tabung saraf.

Hal ini bisa mendukung proses pembentukan jaringan dan organ tubuh janin, serta mengurangi risiko bayi terlahir dengan berat badan rendah.

Faktanya, wanita yang tidak mendapatkan cukup asam folat saat hamil berisiko tinggi mengalami anencephaly.

2. Diabetes pada Ibu Hamil

Diabetes pada Ibu Hamil
Foto: Diabetes pada Ibu Hamil (Capecodhealth.org)

Faktor penyebab anensefali berikutnya, yaitu diabetes pada ibu hamil.

Diabetes yang tidak terkontrol bisa meningkatkan risiko bayi lahir dengan anensefali.

Hal ini menyebabkan kadar glukosa darah menjadi terlalu tinggi dan membahayakan perkembangan bayi di dalam kandungan.

Selain itu, ibu hamil dengan diabetes juga memicu perkembangan saraf yang tak normal, sehingga menyebabkan cacat lahir pada bayi.

3. Obesitas

Obesitas saat Hamil (Orami Photo Stocks)
Foto: Obesitas saat Hamil (Orami Photo Stocks)

Studi lain menunjukkan, wanita yang memiliki berat badan berlebih berpeluang tinggi terkena anencephaly.

Obesitas pada ibu hamil dapat menyebabkan terjadinya sleep apnea.

Ini pun berisiko juga alami pembekuan darah, hingga tekanan darah tinggi yang dapat mengakibatkan preeklamsia.

Preeklamsia adalah suatu kondisi dalam kehamilan yang berhubungan dengan tekanan darah tinggi (hipertensi).

Jika dibiarkan, dapat berakibat fatal dan membahayakan janin dalam kandungan.

4. Penggunaan Obat-obatan Tertentu

Konsumsi Obat saat Hamil
Foto: Konsumsi Obat saat Hamil (Shutter Stock)

Penggunaan obat-obatan tertentu pada ibu hamil ternyata juga dapat menyebabkan terjadinya anencephaly.

Di antaranya seperti obat anti kejang seperti fenitoin, carbamazepine, dan asam valproat bisa menyebab cacat tabung saraf.

Selain itu, mengonsumsi opioid selama 2 bulan pertama kehamilan dapat menyebabkan cacat tabung saraf.

Opioid termasuk heroin (obat terlarang) dan resep obat penghilang rasa sakit seperti hidrokodon juga dapat berpengaruh.

Cara mencegahnya dengan tidak mengonsumsi obat-obatan tanpa pengawasan dokter selama menjalani program hamil dan saat masa kehamilan.

Baca Juga: 15+ Rekomendasi Serum Anti Aging untuk Segala Usia dan Ibu Hamil

5. Faktor Lingkungan

Sauna (Orami Photo Stocks)
Foto: Sauna (Orami Photo Stocks)

Faktor risiko lain juga berpengaruh dalam terkena anensefali. Hal ini seperti menggunakan bak mandi air panas atau sauna yang suhunya tinggi.

Sauna saat hamil menjadi salah satu yang harus diperhatikan, khususnya apabila suhu terlalu tinggi.

Suhu yang tinggi dan panas dapat mempengaruhi perkembangan bayi dan meningkatkan potensi tengkorak kepala tidak utuh.

Melakukan sauna saat hamil dibolehkan apabila masih dalam keadaan wajar ya, Moms.

Cara Diagnosis Anencephaly

USG untuk Diagnosis Anensefali
Foto: USG untuk Diagnosis Anensefali (Hopkinsmedicine.org)

Sayangnya, anensefali tidak bisa diobati. Sebagian besar kehamilan dengan anensefali berakhir dengan keguguran atau lahir mati (stillbirth).

Perlu dipahami bahwa anencephaly lebih sering menyerang bayi perempuan daripada laki-laki.

Dilansir dari laman Centers for Disease Control and Prevention, ada beberapa cara yang bisa dilakukan untuk mendiagnosis anensefali.

1. Tes Skrining Darah dan USG

Selama kehamilan, ada skrining (tes prenatal) untuk memeriksa cacat lahir dan kondisi lainnya.

Anensefali akan menghasilkan hasil abnormal pada tes skrining darah atau serum.

Tes ultrasound juga dapat menjadi pemeriksaan untuk diagnosis anensefali. Tes ini menggunakan gelombang suara, yang menghasilkan gambar bayi di dalam kandungan.

Dokter menggunakan ultrasound (sonogram) untuk melihat tengkorak, otak, dan tulang belakang bayi.

2. Pemeriksaan MRI

Pemeriksaan MRI juga dapat menjadi cara untuk diagnosis anensefali.

Cara yang dilakukan untuk melihat otak dan tulang belakang secara lebih rinci dapat melakukan tes pencitraan MRI.

MRI menggunakan magnet bertenaga tinggi untuk menghasilkan gambar jaringan dan tulang.

Lebih lanjutnya, Moms dapat berdiskusi dulu dengan dokter kandungan sebelum menggunakan alat ini.

Baca Juga: 10 Makanan yang Mengandung Vitamin B6 untuk Ibu Hamil, Bisa Redakan Mual dan Cegah Anemia

3. Amniosentesis

Pemeriksaan ini dilakukan dengan memasukkan jarum tipis ke dalam kantung ketuban dan mengeluarkan beberapa cairan.

Setelah itu, akan diperiksa cairan amniosentesis untuk mengetahui adanya kadar AFP yang tinggi dan enzim yang disebut asetilkolinesterase.

Salah satu dari zat ini dapat berarti bayi memiliki cacat tabung saraf.

Amniosentesis juga termasuk tes yang bisa mendeteksi kelainan kondisi genetik atau kromosom, seperti down syndrome.

Apakah Bayi Anencephaly Bisa Lahir Normal?

Pemeriksaan USG oleh Dokter Kandungan
Foto: Pemeriksaan USG oleh Dokter Kandungan (Orami Photo Stocks)

Sangat jarang kasus bayi dengan anencephaly bisa lahir normal secara sempurna.

Risiko kelahiran prematur karena kondisi ini berpeluang tinggi. Kasus yang ditemukan kebanyakan bayi anensefali meninggal di dalam kandungan.

Bayi yang lahir dengan anensefali hidup hanya beberapa jam atau hari setelah lahir. Jika lahir dalam keadaan hidup, bisa berpotensi adanya komplikasi seperti:

Jaringan otak yang terbentuk biasanya terbuka karena tidak cukup kulit dan tulang untuk menutupinya.

Untuk kasus yang sangat jarang, bayi bisa hidup dengan anensefali selama berbulan-bulan atau beberapa tahun kemudian.

Seperti dalam jurnal BMJ Case Report, bayi dengan anencephaly bisa hidup hingga 28 bulan, tapi akhirnya meninggal karena pneumonia.

Sepanjang hidupnya, bayi dengan kondisi ini lebih banyak tidur, jarang membuka mata, dan sering kejang-kejang.

Baca Juga: Bayi Baru Lahir Sering BAB, Normalkah?

Cara Pencegahan Anensefali pada Bayi

Anencephaly bisa ditemukan atau dideteksi pada trimester pertama sejak usia kehamilan 12 - 13 minggu.

Pada usia kehamilan ini anatomi janin dapat diperiksa secara detail dengan USG transvaginal oleh dokter kandungan.

Di samping itu, ada berbagai upaya pencegahan yang bisa dilakukan untuk anensefali.

1. Penuhi Kebutuhan Asam Folat

Makan Sehat (Orami Photo Stocks)
Foto: Makan Sehat (Orami Photo Stocks)

Pencegahan anensefali bisa dari memulai pola hidup sehat selama kehamilan.

Ada baiknya Moms mengonsumsi vitamin prenatal dengan 400 mikrogram asam folat sebelum dan selama kehamilan.

Selain itu, ketahui beberapa sumber makanan yang kaya asam folat, seperti:

  • Kacang-kacangan
  • Asparagus
  • Telur
  • Sayuran berdaun hijau
  • Hati sapi

Ini juga bisa diperoleh dari buah-buahan seperti alpukat, buah bit, serta jeruk segar.

Sejumlah orang memilih untuk menambah asupan asam folat dari suplemen kesehatan harian.

2. Mengurangi Makanan Manis dan Berlemak

Cara mencegah terjadinya anencephaly saat hamil bisa dengan asupan gizi yang seimbang dan hidup aktif.

Moms harus mampu mengimbangi asupan makanan dengan gaya hidup aktif secara fisik.

Kombinasi keduanya menjadi pendekatan yang ideal untuk menjaga atau mengurangi kelebihan lemak tubuh dan kadar gula darah.

Selain itu, tentunya selalu lakukan pemeriksaan secara rutin ke dokter kandungan ya, Moms.

3. Jaga Berat Badan Ideal

Camilan Sehat saat Hamil (Orami Photo Stocks)
Foto: Camilan Sehat saat Hamil (Orami Photo Stocks)

Berat badan berlebih bisa berpeluang tinggi bayi terkena anencephaly atau tempurung kepala tidak utuh.

Maka dari itu, ada baiknya Moms mencapai berat badan yang ideal saat memulai program hamil.

Sebab, ada dampak negatif yang mungkin terjadi ketika mengalami obesitas saat hamil.

Tidak hanya membahayakan janin, kondisi ini juga dapat berpengaruh pada kesehatan Moms sendiri.

Baca Juga: 7 Posisi Berhubungan agar Bayi Cepat Lahir, Mau Coba?

4. Olahraga Rutin

Cara mencegah terjadinya anensefali saat hamil tentunya dengan menerapkan pola makan yang sehat bernutrisi.

Hal ini juga sebaiknya diiringi dengan berolahraga dan melakukan aktivitas fisik, serta memiliki kualitas tidur yang baik setiap harinya.

Jika diperlukan, Moms dapat berkonsultasi dengan dokter gizi untuk menentukan pola diet yang paling tepat.

Saat ini sudah banyak olahraga yang aman dilakukan selama kehamilan. Salah satu yang dianjurkan adalah berjalan kaki dan berenang.

5. Hindari Konsumsi Obat Tertentu

Obat-obatan yang dikonsumsi tanpa anjuran dokter, berpotensi fatal pada kehamilan.

Khususnya obat yang terkait dengan pengendali kejang, migrain, serta gangguan bipolar. Selalu tanyakan pendapat dokter tentang obat rutin yang sedang dikonsumsi.

Hal ini guna mencegah anensefali selama kehamilan berlangsung.

Demikian segala informasi penting mengenai anensefali (anencephaly) dan pencegahannya.

Memiliki persiapan yang matang saat menjalani program hamil akan mendatangkan manfaat untuk kehamilan yang sehat ke depannya, Moms!

  • https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/8862982/
  • https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC3218540/
  • https://medlineplus.gov/genetics/condition/anencephaly/
  • https://www.cdc.gov/ncbddd/birthdefects/anencephaly.html
  • https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC5093842/

Konten di bawah ini disajikan oleh advertiser.
Tim Redaksi Orami tidak terlibat dalam materi konten ini.


FOLLOW US

facebook
twitter
instagram
spotify
tiktok

Orami Articles — Artikel Seputar Parenting, Kesehatan,
Gaya Hidup dan Hiburan

Copyright © 2024 Orami. All rights reserved.