Newborn

7 Juni 2021

Mengenal Hipotermia pada Bayi, Kondisi Suhu Tubuh Bayi di Bawah Normal

Selalu sedia termometer di rumah ya, Moms
placeholder
placeholder
Artikel ditulis oleh Cholif Rahma
Disunting oleh Andra Nur Oktaviani

Jika biasanya Moms khawatir jika suhu tubuh Si Kecil meningkat, Moms juga harus meningkatkan kewaspadaan saat suhu tubuh bayi menurun. Bisa jadi itu adalah gejala hipotermia pada bayi.

Lalu, bagaimana kondisi itu bisa terjadi?

“Ibu baru sangat khawatir tentang apakah bayinya terlalu hangat atau terlalu dingin,” kata Dr. Sanjay Wazir, direktur unit perawatan intensif neonatal di rumah sakit Cloudnine, Gurgaon, India.

Berikut ini adalah penjelasan lebih lanjut mengenai hipotermia pada bayi. Jangan panik dan segera lakukan tindakan yang dianjurkan dokter ya, Moms. Semoga artikel ini dapat membantu!

Baca Juga: Jangan Terlambat Ditangani, Ini Bedanya 3 Penyakit Dengan Gejala Ruam dan Demam Pada Bayi

Gejala Hipotermia pada Bayi

hipotermia pada bayi

Foto: brain-injury-law-center.com

Hipotermia adalah suatu penyakit yang diderita bayi yang memiliki suhu di bawah normal. Seperti suhu orang dewasa, suhu bayi dapat berubah berdasarkan pada beberapa hal.

Seperti perbedaan saat pagi dan sore hari, aktivitas, dan bahkan kondisi Si Kecil saat sedang diukur suhunya. Secara umum, suhu anak harus berada di antara 36,5 derajat Celsius dan 37,5 derajat Celsius ketika diukur dengan termometer oral.

Ketika diambil dengan termometer yang dimasukkan ke pantat bayi, suhu bayi harus sekitar 37,6 derajat Celsius.

Mengukur suhu bayi dengan menyimpan termometer di bawah lengan mereka (aksila), adalah metode lain yang umum digunakan yang lebih mudah, tetapi masih kurang akurat. Suhu aksila biasanya setidaknya satu derajat lebih rendah dari suhu dari pantat.

Jika suhu bayi turun di bawah 36,5 derajat Celsius akan menjadi tanda hipotermia pada bayi. Suhu tubuh yang rendah pada bayi bisa berbahaya, dan, meskipun jarang, dapat menyebabkan kematian.

Dr. Rosary, Sp. A, Dokter Spesialis Anak dari Rumah Sakit Pondok Indah - Pondok Indah menjelaskan tanda–tanda terjadinya hipotermia pada bayi.

"Tanda-tanda yang dapat ditemukan ketika bayi mengalami hiportemia yaitu teraba dingin, terlihat pucat atau kebiruan pada bibir dan ujung jari, tampak lemas atau banyak tidur, tangis merintih, dan malas menyusu," jelasnya.

Dr. Rosary juga menjelaskan bahwa, bayi baru lahir, terutama bayi prematur dan bayi dengan berat badan lahir rendah, rentan mengalami hipotermia. Ada beberapa mekanisme bayi dapat kehilangan suhu panas, yaitu melalui:

  • Radiasi, yaitu kulit telanjang bayi langsung terpapar dingin dengan lingkungan
  • Evaporasi, yaitu misalnya pada bayi yang basah
  • Konduksi, yaitu saat bayi diletakkan di permukaan objek yang dingin
  • Konveksi, yaitu saat udara dingin membawa panas dari bayi, misalnya saat bayi dekat jendela terbuka atau AC/kipas angin

James F. Peggs, MD, profesor kedokteran keluarga di University of Michigan mengatakan, ada hal lain yang bisa menyebabkan bayi berisiko hipotermia. “Bayi, terutama yang tertidur di kamar dingin, juga berisiko,” katanya.

Baca Juga: Bayi Baru Lahir Alergi Dingin? Jangan Khawatir, Ini Cara Mengatasinya

Penyebab Hipotermia pada Bayi

hipotermia pada bayi

Foto: wsj.com

Selain suhu tubuh yang rendah, gejala hipotermia pada bayi lainnya seperti bayi yang terlihat lesu, tidak nafsu makan, tangisan yang lemah, kulit yang pucat dan terasa dingin, dan kesulitan bernapas. Berikut beberapa penyebab hipotermia Si Kecil:

1. Lahir Prematur

Hipotermia sering terjadi pada bayi yang lahir prematur dan pada bayi yang memiliki berat badan lahir rendah.

Bayi yang lahir kurang dari 28 minggu kehamilan dan bayi yang memiliki berat badan lahir kurang dari 1,5 kilogram, akan sangat berisiko.

Melansir Healthline, ini dia faktor mengapa lahir prematur dapat menyebabkan hipotermia pada bayi:

  • Sistem saraf yang belum sempurna.
  • Ketidakmampuan tubuh untuk menghantarkan panas secara efisien.
  • Kurangnya kadar lemak dalam tubuh.

Tak lama setelah lahir di rumah sakit, jika bayi lahir secara prematur atau memiliki berat badan lahir rendah, mereka akan ditempatkan di keranjang bayi yang dirancang khusus dengan lampu penghangat dan kasur berpemanas untuk menghindari risiko hipotermia.

2. Hipoglikemia

Penyebab hipotermia pada bayi selanjutnya adalah hipoglikemia, yakni adalah suatu kondisi di mana ada terlalu sedikit glukosa atau gula darah dalam tubuh.

Glukosa digunakan oleh tubuh untuk energi. Seorang bayi dapat menjadi hipoglikemik saat lahir atau segera setelah karena infeksi, cacat lahir, atau kesehatan ibu selama kehamilan yang kurang baik.

Untuk membantu mencegah hipoglikemia pada bayi, Moms daapt melakukan hal berikut:

  • Pertahankan pola makan yang sehat selama kehamilan dan ikuti rekomendasi dokter untuk penambahan berat badan.
  • Menjaga gula darah ketika Moms memiliki diabetes selama kehamilan dan jangan lupa untuk menjalani tes diabetes gestasional.
  • Pastikan bayi memiliki jadwal menyusui yang teratur

3. Infeksi

Infeksi juga bisa menjadi penyebab hipotermia pada bayi. Beberapa infeksi serius telah dikaitkan dengan penurunan suhu tubuh. Contoh yang dapat menyerang bayi adalah Meningitis dan Sepsis.

Meningitis adalah peradangan pada selaput yang mengelilingi sumsum tulang belakang. Kadang-kadang dapat menyebabkan demam pada bayi, tetapi dalam kasus lain dapat menyebabkan suhu tubuh di bawah normal.

Sepsis, merupakan infeksi bakteri berbahaya pada darah, biasanya menyebabkan suhu tubuh rendah pada bayi, meskipun dalam beberapa kasus dapat menyebabkan demam.

Baik meningitis dan sepsis adalah infeksi yang serius dan mengancam jiwa. Dapatkan bantuan medis segera jika Moms melihat beberapa gejala berikut pada Si Kecil:

  • Kulit pucat, lembap, berjerawat, dan terkadang timbul ruam.
  • Nafsu makan menurun.
  • Napas cepat.
  • Rewel dan menangis terus menerus.
  • Tangan dan kaki dingin.

Baca Juga: 6 Cara Mengatasi Suhu Bayi Menurun yang Bikin Panik

Lakukan Ini saat Terjadi Hipotermia pada Bayi

hipotermia pada bayi

Foto: humanosphere.com

Saat terjadi hipotermia pada bayi, penggunaan oksigen akan meningkat 10 persen agar menghasilkan lebih banyak kehangatan tubuh. Peningkatan itu akan memberi tekanan besar pada tubuh mungil Si Kecil.

Dalam beberapa kasus, suhu tubuh yang rendah bahkan dapat menyebabkan kematian, meskipun ini sangat jarang terjadi.

Hal pertama yang harus dilakukan adalah mengukur suhu tubuhnya. Suhu rektal mungkin lebih akurat, tetapi jika Moms tidak memiliki termometer rektal, pakai termometer aksila pun tidak megapa.

Dilansir dari Stanford Children's Health, jangan biarkan kulit Si Kecil basah. Gunakan selimut hangat untuk mengeringkan bayi dan lakukan skin to skin contact. Bisa juga tambahkan kehangatan dengan lampu atau bed warmer.

"Apabila bayi basah, maka harus dikeringkan dengan segera, lalu dibungkus dengan handuk yang hangat dan kering. Jangan lupa untuk mengeringkan bagian kepala bayi. Lakukan kontak kulit ke kulit dengan orang tua sambil diselimut dan menyusui, karena bayi memerlukan energi untuk memproduksi panas," jelas Dr. Rosary memberikan intruksi.

Suhu tubuh yang lebih rendah dari 36,5 derajat Celsius membuat bayi berisiko lebih tinggi untuk infeksi, memiliki masalah pernapasan, dan adanya gangguan pembekuan darah.

Baca Juga: Demam, Normal, Rendah, Sudahkah Moms Memahami Perbedaan Suhu Tubuh Bayi?

Jika suhu bayi rendah dan Moms tidak dapat meningkatkan suhunya dengan menambahkan pakaian dan menggunakan panas tubuh Moms dengan skin to skin contact, segera hubungi dokter anak.

Cek suhu tubuh Si Kecil secara berkala agar bisa memastikan tindakan yang diperlukan untuk mencegah bayi terkena hipotermia.

Produk Rekomendasi

TOOLS PARENTING

Komentar

Yuk, ngobrol dan sharing pendapat dengan moms lainnya.

member-image

Beri Komentar...

Artikel Terkait