Program Hamil

18 Januari 2021

Keluar Darah Saat Ovulasi, Apakah Normal Terjadi?

Warna bercak darah merah kecoklatan
placeholder
placeholder
Artikel ditulis oleh Dresyamaya Fiona
Disunting oleh Andra Nur Oktaviani

Keluar darah saat ovulasi merupakan pendarahan ringan yang terjadi sebagian wanita ketika dalam fase ovulasi atau masa subur. Ovulasi adalah saat ovarium melepaskan sel telur.

Tidak setiap wanita akan mengalami keluar darah saat ovulasi. Faktanya, menurut American Journal of Epidemiology, menemukan hanya sekitar 5 persen pada wanita yang mengalami keluar darah saat ovulasi di tengah siklus kesuburan.

Keluar darah saat ovulasi ini ini biasanya berwarna merah muda atau kecokelatan. Bercak darah merah muda merupakan tanda bahwa darah bercampur dengan cairan serviks. Wanita biasanya menghasilkan lebih banyak cairan serviks pada saat ovulasi. Ini karena hormon esterogen pada wanita sedang tinggi-tingginya.

Sel telur pada wanita berproses sekitar 12-24 jam untuk mengalami pembuahan. Tetapi, karena sperma dapat hidup di dalam tubuh selama tiga hingga lima hari, peluang kesuburan wanita adalah sekitar 5 hari setiap bulan.

Itu berarti jika wanita melakukan hubungan seks tanpa kondom empat hari sebelum berovulasi, ada kemungkinan untuk tetap hamil.

Lantas apakah sebagian wanita merasakan keluar darah saat ovulasi itu baik-baiak saja? Apakah itu hal yang normal?

Apa Itu Keluar Darah saat Ovulasi?

keluar darah saat ovulasi.jpg

Foto: freepik.com

Keluar darah saat ovulasi, menurut Ava Women, terjadi segera setelah ovulasi atau sekitar 10 - 16 hari setelah menstruasi. Ini disebabkan oleh lonjakan hormon estrogen yang sangat drastis saat ovulasi dan diikuti oleh penurunan estrogen yang juga sangat cepat.

Jenis keluar darah saat ovulasi ini juga memiliki ciri khusus, yaitu:

  • Hanya keluar setelah ovulasi. Meskipun beberapa wanita berovulasi lebih awal atau lebih lambat, alat uji ovulasi dapat digunakan untuk membantu menentukan waktu ovulasi.
  • Keluar darah saat ovulasi terjadi hanya sekali setiap bulan di sekitar waktu yang sama.
  • Perdarahan berhenti dengan sendirinya dalam beberapa jam/ hari dan tidak berat ataupun menyakitkan.

Keluar darah saat ovulasi dapat disebabkan oleh perubahan hormonal yang cepat yang terjadi selama ovulasi. Dalam sebuah penelitian, tingkat progesteron luteal dan hormon luteinizing (LH) yang lebih tinggi di sekitar ovulasi terlihat pada wanita yang mengalami perdarahan ovulasi.

Memiliki kadar hormon yang lebih tinggi atau lebih rendah tidak menentukan seseorang mengalami kehamilan dengan cepat.

Biasanya, keluar darah saat ovulasi berwarna merah muda terang sampai coklat tua. Sedangkan yang membedakan dengan pendarahan haid biasanya warna cerah hingga merah tua.

Keluar darah saat ovulasi jauh lebih ringan daripada ketika sedang mengalami menstruasi.

Jika darah menstruasi terjadi pada kurun waktu seminggu, keluar darah saat ovulasi ini hanya berlangsung selama setengah hari hingga beberapa hari.

Baca Juga: Cara Mudah Menghitung Siklus Ovulasi, Yuk Coba!

Penyebab Keluar Darah saat Ovulasi

Keluar Darah  Saat Ovulasi, Normalkah? 1

Foto: Orami Photo Stock

Keluar darah saat ovulasi, dapat dikategorikan normal. Sementara, keluarnya darah pada saat berhubungan dikategorikan tidak normal," ujar dr. Rifardi Rifiar, Sp. OG, Dokter Spesialis Kebidanan dan Kandungan Rumah Sakit Pondok Indah.

Keluar darah saat ovulasi adalah hal yang normal, karena adanya respon dari hormon atau perubahan hormon di dalam tubuh wanita yang berperan pada saat terjadi ovulasi. Adanya respon tersebut mengakibatkan terjadinya lonjokan hormon estrogen dandiikuti oleh penurunan estrogen yang juga sangat cepat.

Keluarnya darah saat ovulasi tidak perlu pengobatan, karena perdarahan akan berhenti dengan sendirinya.

Namun jika keluar darah saat berhubungan dapat dikategorikan tidak normal bisa disebabkan karena faktor berikut ini.

  • Infeksi. Peradangan pada vagina ini sering kali disebabkan oleh tiga jenis infeksi, yaitu jamur, vaginosis bakterial, dan trikomoniasis. Infeksi ini dapat menyebabkan vagina gatal, keluar cairan, nyeri saat buang air kecil, dan keluar darah saat ovulasi atau saat berhubungan.
  • Polip. Polip rahim menempel pada rahim dengan ukuran kecil atau besar hingga beberapa sentimeter. Menurut Mayo Clinic, perdarahan menstruasi yang tidak teratur, pendarahan setelah menopause, aliran menstruasi yang berlebihan atau keluar darah saat ovulasi dan berhubugnan seks dapat menandakan adanya polip rahim.
  • Keringnya vagina. Kekeringan pada vagina bisa menyebabkan keluar darah saat ovulasi atau berhubungan seks. Kering pada agina kering bisa disebabkan oleh banyak faktor lain seperti menyusui dan persalinan. Pelumasan alami yang dihasilkan oleh kelenjar di leher rahim (serviks) membuat vagina tetap kenyal dan lembab. Namun, menurutWomen's Health Concern sebagian wanita berusia 50-59 tahun mengalami masalah vagina kering saat berhubungan seks dan 16% mengalami nyeri.

Baca Juga: 7 Gangguan Menstruasi yang Wajib Moms Ketahui

  • Robeknya vagina. Seorang wanita mungkin mengalami pendarahan ketika dia melakukan hubungan seks untuk pertama kalinya karena selaput daranya. Selaput dara adalah bagian kulit tipis yang menutupi sebagian pintu masuk vagina. Biasanya pecah saat berhubungan seks, jika belum pernah rusak sebelumnya.
  • Kanker serviks. Saat ini, gejala umum tumor yang berkembang di serviks mungkin termasuk perdarahan vagina, setelah hubungan seksual atau perdarahan pasca menopause. Gejala yang dirasakan adalah keputihan yang tidak biasa, yakni berair, merah muda atau berbau busuk. Serta nyeri panggul.

Baca Juga: 10 Penyebab Anovulasi (Tubuh Tidak Melepaskan Sel Telur) dan Cara Mengatasinya

Pendarahan Abnormal pada Wanita

Keluar Darah Dari Vagina Saat Ovulasi, Normalkah? 3

Foto: freepik.com

Meskipun menurut sebuah penelitian di American Journal of Epidemiology perdarahan ovulasi hanya terjadi pada sekitar 3 persen wanita di dunia.

Linda Bradley, M.D., seorang dokter kandungan dan direktur layanan histeroskopi di Cleveland Clinic Foundation, Cleveland, melalui Medscape mengatakan bahwa ini adalah sesuatu yang masih tergolong normal.

Jenis perdarahan ini terjadi pada 10 - 30 persen wanita dan dianggap normal. Akibat lonjakan estrogen secara tiba-tiba saat ovulasi yang kemudian turun, menyebabkan destabilisasi endometrium.

"Pasien hanya perlu diyakinkan bahwa ini adalah kejadian umum dan merupakan cara tubuhnya merespons perubahan hormon yang terkait dengan siklus menstruasinya,” tambahnya.

Namun, jika perdarahan disertai dengan munculnya gejala seperti kram atau tidak kunjung berhenti selama beberapa hari, sesuatu selain perdarahan ovulasi mungkin menjadi penyebab yang patut dicurigai.

Baca Juga: 5 Tips Berhubungan Seks Saat Masa Ovulasi Agar Cepat Hamil

Adapun beberapa faktor yang dapat menyebabkan keluar darah saat ovulasi sebagai berikut ini:

  1. Perdarahan di awal kehamilan, yang kemungkinan berkaitan dengan perdarahan subchorionic (relatif tidak berbahaya) hingga kehamilan ektopik yang berpotensi mengancam jiwa.
  2. Siklus anovulasi yang dapat disebabkan oleh berbagai kondisi medis.
  3. Penyakit ginjal atau hati yang menyebabkan pembekuan darah hingga perdarahan abnormal.
  4. Masalah tiroid.
  5. Perawatan hormon, termasuk pil KB dan obat kesuburan.
  6. Obat-obatan seperti antikonvulsan dan antipsikotik.
  7. Penyakit hipofisis atau kelenjar pituitari yang membantu mengatur hormon yang berhubungan dengan siklus menstruasi.
  8. Infeksi menular seksual seperti gonore atau klamidia.

Selain itu, meskipun jarang, perdarahan abnormal di luar siklus menstruasi dapat menjadi gejala dari kanker serviks atau endometrium.

Baca Juga: Vagina Berdarah Saat Berhubungan Intim, Wajar Atau Malah Berbahaya?

Jadi, itulah penjelasan mengenai keluar darah saat ovulasi atau keluar darah saat berhubungan pada masa subur yang ternyata normal terjadi pada beberapa wanita. Konsultasikan lebih lanjut dengan dokter jika Moms khawatir dengan perdarahan yang keluar di antara dua siklus menstruasi.

Produk Rekomendasi

TOOLS PARENTING

Komentar

Yuk, ngobrol dan sharing pendapat dengan moms lainnya.

member-image

Beri Komentar...

Artikel Terkait