Obat-obatan

3 November 2021

6 Pilihan Obat Asma untuk Bantu Kendalikan Gejala

Asma memang tidak bisa disembuhkan, tetapi gejalanya dapat dikendalikan dengan obat
placeholder
placeholder
Artikel ditulis oleh Karinta
Disunting oleh Widya Citra Andini

Seseorang dengan asma harus selalu sedia obat asma di mana pun dan kapan pun. Ini karena gejala asma bisa kambuh kapan saja tanpa kenal waktu.

Namun, jenis serta dosis obat asma yang dibutuhkan oleh setiap pasien tergantung dari usia, gejala, serta tingkat keparahan asma.

Nah, jika Moms, Dads, atau si Kecil memiliki asma, berikut beberapa pilihan obat asma yang ampuh berdasarkan resep dokter maupun dibeli bebas di apotek.

Jenis dan dosis obat asma yang Anda butuhkan tergantung pada usia, gejala, tingkat keparahan asma, dan efek samping obat.

Baca Juga: 10+ Obat Alami Hidung Tersumbat Ini Bisa Jadi Pilihan

Pilihan Obat Asma

Asma adalah gangguan pernapasan ketika saluran udara menyempit dan membengkak sehingga menghasilkan lendir.

Kondisi ini tentu dapat membuat seseorang menjadi susah bernapas, sesak napas, batuk, hingga mengi (napas berbunyi) saat menarik napas.

Terlebih lagi, asma bisa kambuh sewaktu-waktu sehingga pengidapnya perlu waspada dan selalu membawa obat asma.

Tak bisa disepelekan juga karena asma berisiko menggangu aktivitas sehari-hari saat kambuh.

Sayangnya, asma bukanlah penyakit yang bisa disembuhkan. Meski begitu, gejala asma masih bisa dikendalikan.

Melansir dari National Health Service, sebenarnya sampai sekarang belum ada obat asma khusus, tetapi pengobatan dan perawatan tertentu bisa membantu mengendalikan gejala.

Dengan begitu, Moms, Dads, maupun Si Kecil dapat menjalani kehidupan normal dan tetap aktif meskipun memiliki asma.

Ketika gejala asma kambuh, perawatan dan obat asma berikut yang umumnya direkomendasikan baik didapat dari resep dokter maupun dibeli di apotek:

1. Inhaler

Amankah Menggunakan Inhaler Saat Hamil, Simak Jawabannya di Sini.jpg

Foto: Orami Photo Stock

Inhaler berfungsi untuk membantu meredakan gejala (inhaler pereda), menghentikan perkembangan gejala (inhaler pencegah), dan kombinasi kedua inhaler pereda dan pencegah (inhaler kombinasi).

Inhaler Pereda

Kebanyakan orang yang memiliki asma biasanya diberikan inhaler pereda. Ciri khas inhaler ini memiliki warna biru.

Waktu pakai inhaler ini adalah saat gejala asma sedang terjadi sehingga kondisi bisa membaik dalam beberapa menit.

Obat asma ini bekerja dengan cara membuka paru-paru dan mengendurkan otot-otot pada saluran pernapasan.

Baca Juga: 4 Penyebab Gangguan Pendengaran, Cari Tahu Juga Gejala dan Pengobatannya

Namun, inhaler pereda bukan untuk penggunaan sehari-hari ya, Moms. Jadi, hanya digunakan saat gejala asma muncul.

Kandungan obat asma dalam inhaler pereda meliputi:

  • Albuterol (ProAir HFA, Ventolin HFA, lainnya)
  • Levalbuterol (Xopenex HFA)

Kadang, inhaler pereda berisiko menimbulkan efek samping berupa gemetar dan detak jantung cepat selama beberapa menit setelah digunakan.

Inhaler Pencegah

Penggunaan inhaler pencegah biasanya bisa bersamaan dengan inhaler pereda.

Biasanya, inhaler pencegah dipakai untuk mengurangi peradangan dan sensitivitas pada saluran udara dengan menghentikan perkembangan gejala.

Meski Moms, Dads, atau si Kecil yang memiliki asma sedang tidak mengalami gejala, inhaler pencegah sebagai obat asma tetap perlu dipakai.

Sebagai salah satu obat asma, inhaler pencegah mengandung obat steroid.

Sebenarnya, inhaler pencegah tidak memiliki efek samping, tetapi kadang bisa mengakibatkan kondisi berikut:

Namun, kondisi-kondisi tersebut bisa Moms cegah dengan menggunakan spacer, yakni tabung plastik berlubang yang ditempelkan pada inhaler dan rajin membersihkan mulut setelah menggunakan inhaler pencegah.

Inhaler Kombinasi

Bila kedua inhaler di atas tidak membantu meredakan gejala asma, penggunaan inhaler kombinasi bisa menjadi pilihan.

Inhaler kombinasi mengandung campuran obat asma kortikosteroid dan bronkodilator berikut:

  • Flutikason dan salmeterol (Advair Diskus)
  • Budesonide dan formoterol (Symbicort)
  • Mometason dan formoterol (Dulera)
  • Flutikason dan vilanterol (Breo)

Baca Juga: 7 Obat Biduran Alami untuk Mengatasi Kulit Gatal dan Kemerahan, Yuk Coba!

2. Leukotriene Modifiers (Pengubah Leukotrien)

obat asma

Foto: Orami Photo Stock

Moms, Dads, atau Si Kecil memerlukan obat asma selain inhaler jika pakai inhaler saja tidak cukup membantu untuk mengendalikan gejala asma.

Obat asma dengan sediaan tablet dan sirup ini membantu menghentikan efek leukotrien, yakni penyebab gejala asma.

Obat asma pengubah leukotrien dapat membantu mencegah gejala asma kambuh lagi hingga 24 jam.

Contoh obat asma leukotrien yang bisa diperoleh dari resep dokter maupun di apotek yakni:

  • Montelukast (Singulair)
  • Zafirlukast (Akolat)
  • Zileuton (Zyflo)

Baca Juga: Coba Hitung! Ini Frekuensi Napas Normal pada Anak dan Dewasa

3. Theophylline (Teofilin)

obat asma

Foto: Orami Photo Stock

Teofilin adalah obat asma kelompok bronkodilator dalam bentuk pil yang membantu mengobati gejala asma ringan.

Cara kerja obat asma ini adalah dengan melemaskan saluran udara dan respons paru-paru terhadap iritasi.

Biasanya, teofilin diminum bila asma datang di malam hari. Namun, obat ini berisiko menimbulkan efek samping berupa insomnia dan gastroesphageal reflux disease (GERD).

Moms, obat asma teofilin dapat diperoleh dari resep dokter.

4. Kortikosteroid

obat asma

Foto: Orami Photo Stock

Mengutip dari Mayo Clinic, kortikosteroid adalah obat asma anti-inflamasi atau antiperadangan jangka panjang yang paling umum digunakan.

Fungsi obat asma ini adalah untuk mengurangi pembengkakan di saluran udara.

Obat kortikosteroid untuk mengobati asma umumnya diperoleh dari resep dokter.

Jenis obat yang termasuk kortikosteroid meliputi:

  • Flutikason (Flovent HFA)
  • Budesonide (Pulmicort Flexhaler)
  • Mometason (Asmanex Twisthaler)
  • Beclomethasone (Qvar RediHaler)
  • Ciclesonide (Alvesco)

Baca Juga: Mengenal Hemangioma, Tumor Jinak pada Bayi yang Bisa Ganggu Pernapasan

5. Ipatropium

obat asma

Foto: Orami Photo Stock

Ipratropium (Atrovent HFA) adalah obat asma kelompok bronkodilator yang biasanya juga diresepkan untuk mengatasi gejala emfisema atau bronkitis kronis.

Ini dapat digunakan bersamaan atau sebagai alternatif dari obat lainnya, seperti agonis beta kerja cepat.

6. Steroid

obat asma

Foto: Orami Photo Stock

Tablet steroid sebagai obat asma mungkin direkomendasikan jika perawatan lain tidak membantu mengendalikan gejala Anda.

Steroid biasanya dipakai untuk kondisi berikut:

  • Pengobatan saat gejala asma kambuh
  • Pengobatan jangka panjang untuk mencegah gejala. Ini biasanya hanya diperlukan jika Anda menderita asma yang sangat parah dan inhaler tidak membantu mengatasi gejala asma

Namun, konsumsi tablet steroid jangka panjang berisiko menyebabkan efek samping seperti:

  • Peningkatan nafsu makan sehingga berat badan bertambah
  • Perubahan mood
  • Osteoporosis
  • Tekanan darah tinggi

Moms, sebaiknya dipahami bahwa jenis dan dosis obat asma yang dibeli di apotek maupun diperoleh dari resep dokter harus disesuaikan dengan usia, gejala, serta tingkat keparahan asma.

Tak lupa, efek samping dari obat yang digunakan pun sebaiknya juga ikut menjadi pertimbangan sebelum Moms memilihnya.

  • https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/asthma/in-depth/asthma-medications/art-20045557
  • https://www.webmd.com/asthma/asthma-medications
  • https://www.webmd.com/asthma/asthma-treatments
  • https://www.aafa.org/asthma-treatment/
  • https://www.healthline.com/health/asthma-medication-and-drugs
  • https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/asthma/symptoms-causes/syc-20369653
Produk Rekomendasi

TOOLS PARENTING

Komentar

Yuk, ngobrol dan sharing pendapat dengan moms lainnya.

member-image

Beri Komentar...

Artikel Terkait