23 Desember 2022

Epilepsi: Penyebab, Gejala, Jenis, Diagnosis, Komplikasi, dan Cara Mengobati

Epilepsi merupakan salah satu penyakit yang menyerang jaringan saraf

Kejang adalah kondisi yang kerap dialami sejumlah orang, baik anak-anak ataupun orang dewasa. Ini dikenal juga dengan sebutan epilepsi.

Sebenarnya, gejalanya sangat bervariasi tergantung dengan jenis epilepsi mana yang diderita pasien.

Nah, untuk dapat mengenali penyakit ini, mari ketahui serba-serbi dari penyakit epilepsi di bawah ini.

Baca Juga: Mengenal Dermatitis Herpetiformis, Radang Kronis di Kulit yang Sering Diabaikan

Apa Itu Epilepsi?

Bayi Menangis
Foto: Bayi Menangis (Orami Photo Stocks)

Epilepsi adalah gangguan sistem saraf pusat (neurologis) di mana aktivitas otak menjadi tidak normal.

Hal ini menyebabkan kejang atau keadaan perilaku yang tidak biasa dan terkadang sampai hilang kesadaran (pingsan).

Epilepsi dapat menyerang siapa aja, baik pria dan wanita dari semua ras, latar belakang etnis, serta usia.

Gejala dari kejang ini diketahui bisa sangat bervariasi.

Beberapa penderita epilepsi hanya menatap kosong selama beberapa detik selama kejang, sementara yang lain berulang kali menggerakkan lengan atau kaki mereka.

Mengalami kejang tunggal tidak berarti Moms menderita epilepsi.

Moms yang terkena didiagnosis penyakit ini, setidaknya sudah mengalami dua kejang yang tidak dikehendaki terlebih dahulu.

Perawatan dengan obat-obatan atau terkadang operasi, dapat mengontrol kejang untuk sebagian besar penderita epilepsi.

Beberapa orang membutuhkan perawatan seumur hidup untuk mengontrol kejang, tetapi untuk orang lain, kejang akhirnya hilang.

Begitu juga pada anak-anak, ini dapat teratasi seiring bertambahnya usia.

Baca Juga: 7 Arti Bunga Mawar Putih, Identik dengan Acara Pernikahan yang Suci

Gejala Epilepsi

Anak Lemas
Foto: Anak Lemas (Orami Photo Stock)

Bicara soal gejala atau tanda-tanda dari epilepsi, tentu beragam.

Biasanya ini dilihat dari fungsi otak seperti indra penglihatan, perasa, pendengaran, dan juga cara bergerak.

"Namun, seringnya gejala dari epilepsi berkaitan dengan kekakuan atau klojotan pada tubuh," terang Dr. dr. Dwi Putro Widodo, Sp.A (K), M.Med (Clin Neurosci) Dokter Spesialis Anak Konsultan Saraf Anak, RS Pondok Indah – Pondok Indah.

Gejala yang sering terlihat yakni seperti:

  • Kebingungan sesaat.
  • Mata menatap dan mulut bergumam.
  • Otot kaku.
  • Lengan dan kaki menyentak tak terkendali.
  • Pingsan atau hilang kesadaran.
  • Gejala psikologis seperti ketakutan atau kecemasan.
  • Tubuh berkedut atau gemetaran.
  • Terkadang penderita kehilangan kontrol kandung kemih atau menggigit lidah.

Umumnya, terdapat 63 jenis epilepsi yang sering terjadi pada anak-anak maupun orang dewasa.

Baca Juga: Jangan Takut! Ketahui Prosedur Aman Operasi Cantengan

Jenis-Jenis Epilepsi

Scan Otak
Foto: Scan Otak (Freepik.com/dcstudio)

Kejang merupakan gejala utama seseorang menderita epilepsi.

Hanya saja gejala yang dialami setiap orang berbeda satu sama lainnya ya, Moms.

Berikut jenis-jenis kejang yang mungkin menjadi gejala Moms menderita epilepsi.

1. Kejang Fokal (Parsial)

Jenis kejang ini tergolong sederhana karena tidak menyebabkan hilangnya kesadaran.

Gejala yang terjadi pada jenis kejang fokal yakni:

  • Perubahan pada indera perasa.
  • Indra penciuman berangsur hilang.
  • Kesulitan mendengar.
  • Perubahan indra sentuhan.
  • Indra pendengaran terganggu.

Kemudian pusing, kesemutan atau terjadi kedutan pada anggota badan juga bisa menjadi gejala kejang fokal.

Sementara, kejang parsiakl kompleks juga bisa membuat kehilangan kesadaran, tatapan mata kosong, tidak responsif atau melakukan gerakan berulang.

2. Kejang Umum

Kejang umum melibatkan seluruh otak.

Ada beberapa jenis kejang umum yang perlu Moms ketahui:

  • Kejang absen, yang biasa disebut "kejang petit mal", menyebabkan tatapan kosong.
  • Jenis kejang ini juga dapat menyebabkan gerakan berulang seperti bibir pecah-pecah atau berkedip. Biasanya juga ada sedikit kehilangan kesadaran.
  • Kejang tonik menyebabkan otot kaku.
  • Kejang atonik menyebabkan hilangnya kontrol otot dan bisa membuat tubuh jatuh tiba-tiba.
  • Kejang klonik ditandai dengan gerakan otot wajah, leher, dan lengan yang berulang dan tersentak-sentak.
  • Kejang mioklonik menyebabkan lengan dan tungkai berkedut cepat secara spontan.
  • Kejang tonik-klonik biasa disebut "kejang grand mal". Gejalanya meliputi, pengerasan tubuh, gemetar, kehilangan kontrol kandung kemih atau usus, menggigit lidah, penurunan kesadaran.

Setelah kejang, Moms mungkin tidak ingat pernah mengalaminya, atau mungkin merasa sedikit sakit selama beberapa jam.

Baca Juga: 10 Cara Mengatasi Perut Kembung dan Begah Secara Alami, Jangan Telat Makan, Moms!

Faktor Pemicu Serangan Epilepsi

Anak Demam
Foto: Anak Demam (Freepik.com/user18526052)

Beberapa orang dapat mengidentifikasi hal-hal atau situasi yang dapat memicu kejang.

Adapun sejumlah pemicu yang paling sering dilaporkan yakni seperti:

  • Kurang tidur
  • Demam
  • Stres
  • Lampu terlalu terang atau remang-remang
  • Minuman kafein atau alkohol
  • Obat-obatan
  • Waktu makan tidak teratur

Mengidentifikasi pemicu tersebut tidak selalu mudah. Adanya suatu insiden tidak selalu berarti ada sesuatu yang menjadi pemicunya.

Sering kali ini merupakan kombinasi dari faktor-faktor yang memicu kejang terjadi, Moms.

Baca Juga: Serba-serbi Endoftalmitis: Mulai dari Penyebab, Gejala, dan Cara Mengobatinya

Penyebab Epilepsi

Perempuan Pingsan
Foto: Perempuan Pingsan (Freepik.com/freepik)

Sebenarnya, penyebab dari kejang ini dapat dipicu dari berbagai faktor yang telah disebutkan sebelumnya.

"Penyebab epilepsi sangat tergantung dari jenis kejang yang diderita," tambah dr. Dwi.

Adapun beberapa penyebab lain yang mungkin terjadi seperti:

1. Genetik

Genetik menjadi salah satu penyebab seseorang bisa mengalami epilepsi.

Jurnal Epilepsy Society menyebutkan faktor keturunan berperan dalam beberapa jenis epilepsi.

Pada populasi umum, ada 1% kemungkinan epilepsi dapat menyerang Moms sebelum usia 20 tahun.

Risiko ini akan semakin tinggi jika salah satu orangtua memiliki riwayat epilepsi.

Tak hanya itu, faktor genetika juga meningkatkan risiko terkena epilepsi hingga 2 hingga 5%.

2. Riwayat Penyakit

Jurnal Cold Spring Harbor Perspective in Medicine menjelaskan ada beberapa penyebab umum epilepsi dari riwayat penyakit, seperti:

  • Cerebral palsy
  • Sklerosis Hipokampus
  • Penyakit Serebrovaskular
  • Tumor otak
  • Trauma di kepala
  • Infeksi di saraf pusat

Selain itu, epilepsi juga bisa disebabkan oleh serangan stroke pada Moms yang berusia di atas 35 tahun.

3. Lingkungan

Selain itu, faktor lingkungan juga cukup berperan seseorang bisa mengalami kejang secara mendadak.

Epilepsi bisa terjadi pada usia berapa pun. Diagnosis biasanya akan lebih sering terlihat pada anak usia dini atau setelah usia 60 tahun.

"Autoimun dan metabolik juga bisa menjadi faktor penyebab epilepsi lainnya," tambah dr. Dwi.

Baca Juga: Wajib Tahu Soal Kanker Kulit, Kenali Gejala hingga Penyebabnya

Diagnosis Epilepsi

Tes Darah
Foto: Tes Darah (Orami Photo Stocks)

Moms yang sering mengalami kejang sebaiknya segera menemui dokter.

Hal ini karena kejang bisa menjadi gejala dari masalah medis yang serius.

Adapun tahapan-tahapan yang perlu dilalui dalam mendiagnosis epilepsi, seperti:

1. Pemeriksaan Fisik

Riwayat dan gejala medis akan membantu dokter memutuskan tes mana yang akan membantu.

Moms mungkin akan menjalani pemeriksaan kesehatan otak untuk menguji kemampuan motorik dan fungsi mental.

2. Tes Darah

Untuk mendiagnosis epilepsi, kondisi lain yang menyebabkan kejang harus disingkirkan.

Dokter mungkin akan meminta cek darah lengkap untuk mengetahui kondisi Moms.

Tes darah dapat digunakan untuk mencari, tanda-tanda penyakit menular, fungsi hati dan ginjal serta kadar glukosa darah.

3. Tes Gelombang Otak

Elektroensefalogram (EEG) adalah tes paling umum yang digunakan untuk mendiagnosis epilepsi.

Cara kerjanya yakni elektroda dipasang ke kulit kepala dengan beberapa cairan pendukung.

Ini adalah tes yang tidak terasa nyeri dan menimbulkan risiko kecil.

Moms mungkin diminta untuk melakukan kegiatan lain secara bersamaan.

Dalam beberapa kasus, tes dilakukan saat tidur. Elektroda akan merekam aktivitas listrik otak secara menyeluruh.

Apakah Moms mengalami kejang atau tidak, perubahan pola gelombang otak normal yang biasa terjadi pada epilepsi.

4. CT-Scan

Tes pencitraan dapat mengungkap tumor dan kelainan lain yang dapat menyebabkan kejang.

Tes ini mungkin termasuk, CT-Scan, MRI, tomografi emisi positron (PET), dan tomografi terkomputerisasi emisi foton tunggal.

Epilepsi biasanya didiagnosis jika Moms mengalami kejang tanpa alasan yang jelas atau dapat diperbaiki.

Baca Juga: 7+ Potret Rumah Hesti Purwadinata, Unik dan Ada Ruang Workshop Kerajinan Kayu!

Cara Mengobati Epilepsi

Ilustrasi Tindakan Operasi
Foto: Ilustrasi Tindakan Operasi (Orami Photo Stock)

Epilepsi sebenarnya dapat ditangani tanpa bantuan dokter.

Namun, jika gejala yang ditunjukan semakin parah, dokter mungkin akan memberikan berbagai jenis terapi untuk pengobatan.

Beberapa pilihan pengobatan yang mungkin akan disarankan dokter antara lain,

1. Konsumsi Obat Anti-Epilepsi

Penyakit epilepsi memang tidak bisa disembuhkan secara total.

Akan tetapi, ada sederet obat yang bisa membantu mengendalikan gejala ayan, seperti kejang.

Berikut ini adalah obat yang biasanya diresepkan dokter sebagai cara mengobati penyakit epilepsi:

  • Sodium valproate

Obat ini digunakan untuk mengatasi gejala penyakit epilepsi dan mencegah kepala pusing pada anak dan orang dewasa.

Sodium valporate tidak diperuntukkan bagi orang yang memiliki penyakit hati atau masalah metabolik.

Wanita hamil atau berencana hamil harus konsultasi lebih dahulu pada dokter.

Biasanya obat ini diminum 2 kali sehari, yakni di pagi dan sore hari.

  • Carbamazepine

Obat ini digunakan untuk mengobati diabetes neuropati dan penyakit epilepsi.

Dosis yang diberikan beragam, mulai dari satu kali hingga empat kali sehari.

Moms bisa mengonsumsi obat ini dalam bentuk tablet, sirup, dan dimasukkan lewat anus (supposituria).

  • Lamotrigine

Melansir studi di National Center for Biotechnology Information, lamotrigine digunakan sebagai obat untuk epilepsi dan mencegah suasana hati memburuk, jika memang menunjukkan tanda-tanda depresi.

Dosis obat ini biasanya diresepkan sekali atau dua kali sehari.

Efek samping yang paling sering terjadi adalah sakit kepala dan ruam pada kulit.

  • Levetiracetam

Levetiracetam merupakan obat generik untuk mengatasi penyakit epilepsi.

Dosis awal biasanya diberikan sebanyak satu kali sehari dan bisa ditingkatkan menjadi dua kali sehari.

Jika Moms punya masalah ginjal, berencana hamil atau sedang hamil, konsultasikan lebih dahulu dengan dokter sebelum menggunakan obat.

2. Stimulator Saraf Vagus

Perangkat ini dipasang melalui pembedahan di bawah kulit di dada dan secara elektrik menstimulasi saraf yang mengalir melalui leher.

Cara ini dipercaya dapat membantu mencegah kejang.

Baca Juga: 6 Arti Bunga Matahari dalam Kehidupan dan Cinta Berdasarkan Warna

3. Diet Ketogenik

Diet ketogenik sering direkomendasikan untuk anak-anak penderita epilepsi.

Pola makan ini rendah karbohidrat dan tinggi lemak. Diet memaksa tubuh menggunakan lemak untuk energi alih-alih glukosa, sebuah proses yang disebut ketosis.

Cara kerja diet ini membutuhkan keseimbangan yang ketat antara lemak, karbohidrat, dan protein.

Itulah mengapa yang terbaik adalah bekerja dengan ahli gizi atau ahli diet. Anak-anak yang menjalani diet ketogenik ini harus diawasi dengan cermat oleh dokter.

Meski begitu, pola makan jenis ini tidak menguntungkan semua orang. Namun jika diikuti dengan benar, sering kali berhasil mengurangi frekuensi kejang.

4. Diet Atkins

Untuk remaja dan orang dewasa dengan epilepsi, diet Atkins yang dimodifikasi mungkin direkomendasikan.

Diet ini juga tinggi lemak dan melibatkan asupan karbohidrat yang terkontrol.

Sekitar setengah dari orang dewasa yang mencoba diet Atkins yang dimodifikasi mengalami lebih sedikit kejang. Hasilnya dapat terlihat secepat beberapa bulan.

Karena pola makan ini cenderung rendah serat dan tinggi lemak, sembelit adalah efek samping yang umum.

5. Operasi Otak

Dokter mungkin juga akan menyarankan operasi di area otak sebagai salah satu cara mengobati epilepsi.

Karena hal ini dapat menurunkan aktivitas kejang dapat diangkat atau diubah.

6. Stimulasi Otak Dalam

Diketahui, sejumlah penelitian perawatan baru sedang berlangsung.

Salah satu pengobatan yang mungkin tersedia di masa mendatang adalah stimulasi otak dalam.

Ini adalah prosedur di mana elektroda ditanamkan ke dalam otak. Kemudian generator ditanamkan di dada.

Generator ini akan mengirimkan impuls listrik ke otak untuk membantu mengurangi kejang.

7. Menggunakan Alat Pacu Jantung

Cara lain penelitian melibatkan perangkat seperti alat pacu jantung.

Ini akan memeriksa pola aktivitas otak dan mengirim muatan listrik atau obat untuk menghentikan kejang.

Diketahui, ini teknik operasi yang rendah risiko dan tidak menimbulkan rasa nyeri yang signifikan.

Baca Juga: 9 Arti Bunga Tulip Berdasarkan Warna, Jangan Sampai Salah Pilih!

Komplikasi Epilepsi

Perempuan Sakit Kepala
Foto: Perempuan Sakit Kepala (Orami Photo Stock)

Dampak atau komplikasi kejang berulang ini bisa berbeda pada sejumlah orang.

Adapun dampak epilepsi pada kesehatan yang umum terjadi berupa:

  • Kemunduran perkembangan motorik.
  • Gangguan cara bicara.
  • Gangguan perilaku.
  • Konsentrasi menurun.
  • Psikologis terganggu.
  • Sakit kepala.
  • Kecerdasan menurun.

Menurut penjelasan dokter Dwi, dampak semua ini tergantung dari jenis epilepsi, penyebab, komorbid, dan jumlah obat yg diminum (berat ringannya epilepsi).

Baca Juga: 9 Inspirasi Dekorasi Ruang Tamu, Bergaya Minimalis, Rustic, Bohemian, hingga Shabby Chic

Demikian penjelasan mengenai gejala, penyebab dan cara mengobati epilepsi. Semoga bermanfaat ya, Moms.

  • https://epilepsysociety.org.uk/living-epilepsy/pregnancy-and-epilepsy#.WFlIbneZPEZ
  • https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK470442/
  • https://www.healthline.com/health/epilepsy#epilepsy-diet
  • https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/epilepsy/symptoms-causes/syc-20350093

Konten di bawah ini disajikan oleh advertiser.
Tim Redaksi Orami tidak terlibat dalam materi konten ini.


FOLLOW US

facebook
twitter
instagram
spotify
tiktok

Orami Articles — Artikel Seputar Parenting, Kesehatan,
Gaya Hidup dan Hiburan

Copyright © 2024 Orami. All rights reserved.