Scroll untuk melanjutkan membaca

KESEHATAN UMUM
27 September 2022

Penyakit Hipotiroidisme: Gejala, Penyebab, Komplikasi, dan Pengobatannya

Salah satu gejalanya adalah penambahan berat badan secara signifikan
Penyakit Hipotiroidisme: Gejala, Penyebab, Komplikasi, dan Pengobatannya

Apakah Moms mudah lelah dan mengalami kelemahan pada otot? Jika ya, waspada. Bisa jadi itu adalah pertanda hipotiroidisme.

Hipotiroidisme adalah kondisi umum di mana tiroid tidak membuat dan melepaskan cukup hormon tiroid ke dalam aliran darah seseorang. 

Tiroid adalah kelenjar kecil berbentuk serupa kupu-kupu yang terletak di bagian depan leher.

Tiroid melepaskan hormon untuk membantu tubuh mengatur dan menggunakan energi.

Tiroid juga bertanggung jawab untuk menyediakan energi ke hampir setiap organ dalam tubuh, termasuk mengontrol fungsi jantung berdetak dan sistem pencernaan.

Tanpa jumlah hormon tiroid yang tepat, fungsi alami tubuh akan terganggu.

Itulah mengapa, kondisi hipotiroidisme dapat membuat metabolisme tubuh menjadi lambat.

Ketika kadar tiroid Moms sangat rendah dan terjadi dalam jangka panjang, kondisi ini dikenal medis dengan sebutan miksedema.

Dalam kondisi yang sangat serius, kondisi ini dapat menyebabkan gejala seperti suhu tubuh yang rendah, anemia, gagal jantung, bahkan koma.

Baca Juga: Yuk Ketahui Pentingnya Skrining Hipotiroid Untuk Bayi Baru Lahir

Mengenal Hipotiroidisme

Mengenal Hipotiroid

Foto: Mengenal Hipotiroid (diabetes.co.uk)

Hipotiroidisme adalah kelenjar tiroid yang kurang aktif.

Kondisi ini dapat membuat seseorang merasa lelah, menambah berat badan, dan tubuhnya tidak ramah terhadap suhu dingin.

Salah satu penyebab hipotiroidisme adalah penyakit autoimun, seperti tiroiditis Hashimoto, operasi pengangkatan tiroid, dan pengobatan radiasi.

Di Amerika Serikat dan daerah lain dengan asupan yodium yang memadai, penyakit Hashimoto penyebab paling umum dari hipotiroidisme.

Namun, di seluruh dunia, kekurangan yodium tetap menjadi penyebab hipotiroidisme yang paling utama.

National Institute of Diabetes and Digestive and Kidney Diseases menyebutkan, sekitar 4,6% orang Amerika berusia 12 tahun ke atas mengalami hipotiroidisme.

Penyakit ini menjadi lebih umum seiring bertambahnya usia.

Hipotiroidisme lebih sering ditemukan pada orang yang berusia 60 tahun atau lebih.

Selain itu, American Thyroid Association menyebutkan bahwa 1 dari 8 wanita akan mengalami hipotiroidisme.

Kondisi tersebut berkaitan dengan kondisi tiroid pada wanita yang memang kurang aktif.

Mengutip Healthline, hipotiroidisme biasanya dapat diketahui melalui tes darah atau setelah gejala dimulai.

Hipotiroid subklinis adalah nama yang diberikan untuk kondisi awal dan bersifat ringan.

Jika seseorang baru saja didiagnosis mengalamihipotiroidisme, penting untuk mengetahui pengobatan yang paling tepat..

Sebagian besar perawatan bergantung pada suplementasi dengan hormon buatan. 

Hormon-hormon tersebut akan menggantikan apa yang tidak diproduksi oleh tubuh.

Dengan demikian, fungsi tubuh diharapkan bisa kembali seperti sediakala (normal).

Secara umum, hipotiroidisme adalah kondisi yang sangat dapat diobati agar gejalanya tidak melulu kambuh.

Baca Juga: Penyakit Graves pada Anak, Penyebab Hipertiroidisme

Tanda dan Gejala Hipotiroidisme

Tanda dan Gejala Hipotiroid

Foto: Tanda dan Gejala Hipotiroid (everlywell.com)

Tanda dan gejala hipotiroidisme bervariasi pada masing-masing orang.

Tingkat keparahan kondisi juga memengaruhi tanda dan gejala yang muncul serta waktunya.

Gejalanya hipotiroidisme terkadang sulit dikenali.

Gejala awal dapat berupa penambahan berat badan dan kelelahan.

Keduanya menjadi lebih umum seiring bertambahnya usia, terlepas dari kesehatan tiroid tersebut.

Seseorang mungkin tidak menyadari bahwa perubahan ini terkait dengan kondisi tiroid yang buruk, sampai lebih banyak gejala muncul.

Tanda dan gejala hipotiroid yang paling umum meliputi:

  • Kelelahan berlebihan
  • Penambahan berat badan
  • Wajah bengkak dan sensitif
  • Depresi
  • Sembelit
  • Merasa kedinginan
  • Keringat berkurang
  • Detak jantung melambat
  • Kolesterol
  • Darah tinggi
  • Kulit kering
  • Rambut kering dan menipis
  • Memori terganggu
  • Masalah kesuburan atau perubahan menstruasi
  • Kelemahan pada otot
  • Peningkatan kadar kolesterol darah
  • Nyeri dan kekakuan pada otot
  • Nyeri, kaku, atau bengkak pada persendian
  • Suara serak

Gejala tersebut umumnya dialami oleh wanita paruh baya dan lansia.

Meski begitu, risiko penyakit juga bisa dialami oleh siapa pun, termasuk bayi.

Awalnya, bayi yang lahir tanpa/dengan kelenjar yang tidak berfungsi hanya memiliki sedikit tanda dan gejala.

Beberapa gejala tersebut, di antaranya:

  • Menguningnya kulit dan bagian putih mata (jaundice). Penyebabnya karena hati bayi tidak dapat memetabolisme bilirubin
  • Lidah yang besar dan menonjol
  • Kesulitan bernapas
  • Menangis dengan suara serak
  • Hernia umbilikalis (bagian usus menonjol keluar dari pusar).

Seiring perkembangan penyakit, bayi cenderung mengalami kesulitan makan dan gagal tumbuh atauberkembang secara normal.

Mereka juga akan mengalami sembelit, kantuk berlebihan, dan perburukan gerakan otot dalam tubuh.

Ketika hipotiroidisme pada bayi tidak diobati dengan langkah yang tepat, ini dapat menyebabkan keterbelakangan fisik dan mental yang parah.

Sementara itu, pada remaja, gejala hipotiroidisme umumnya ditandai dengan:

  • Pertumbuhan yang buruk, mengakibatkan perawakan pendek
  • Tertundanya perkembangan gigi permanen
  • Pubertas yang tertunda
  • Terhambatnya perkembangan mental

Jika Moms menduga terdapat gejala akibat dari masalah tiroid, baik pada diri sendiri atau Si Kecil, segera berobat ke dokter.

Hal ini penting untuk memastikan diagnosis dan menentukan pengobatan yang paling sesuai.

Baca Juga: 4 Jenis Makanan yang Baik Dikonsumsi Penderita Hipotiroid

Penyebab Hipotiroidisme

Penyebab Hipotiroid

Foto: Penyebab Hipotiroid (drugdiscoverytrends.com)

Sistem kekebalan tubuh manusia dirancang untuk melindungi sel-sel dari serangan bakteri dan virus.

Ketika bakteri atau virus yang tidak dikenal memasuki tubuh, sistem kekebalan akan merespons dengan mengirimkan sel-sel 'tempur' untuk menghancurkan sel-sel asing.

Akibat satu dan lain hal, proses tersebut dapat mengacaukan fungsi sel normal dan sehat.

Keadaan seperti ini disebut sebagai respons autoimun

Jika respons autoimun tidak diatur atau diobati, sistem kekebalan terus menyerang jaringan yang sehat.

Hal ini dapat menyebabkan masalah medis yang serius, termasuk kondisi seperti hipotiroidisme.

Tiroiditis Hashimoto adalah kondisi autoimun dan merupakan penyebab paling umum dari tiroid yang kurang aktif.

Penyakit ini menyerang kelenjar tiroid dan menyebabkan peradangan tiroid kronis.

Peradangan tersebut tentunya dapat mengurangi fungsi tiroid.

Jika ada anggota keluarga yang terdiagnosis hipotiroid, maka risiko Moms untuk mengalami kondisi serupa juga akan semakin tinggi.

Baca Juga: 5 Gejala Hipertiroid saat Hamil, Wajib Diperhatikan!

Faktor Risiko Penyakit Hipotiroidisme

Moms juga harus tahu faktor-faktor yang dapat meningkatkan risiko hipotiroidisme, yaitu:

  • Perempuan
  • Berusia minimal 60 tahun
  • Memiliki riwayat keluarga hipotiroid
  • Memiliki kondisi autoimun tertentu, seperti sindrom Sjögren dan diabetes tipe 1

Diagnosis Hipotiroid

Diagnosis Hipotiroid

Foto: Diagnosis Hipotiroid (livescience.com)

Dua alat utama yang digunakan untuk menentukan apakah seseorang menderita hipotiroidisme, yaitu evaluasi medis dan tes darah.

1. Evaluasi medis

Dokter akan menyelesaikan pemeriksaan fisik dan riwayat kesehatan secara menyeluruh.

Mereka akan memeriksa tanda-tanda fisik hipotiroid, misalnya kulit yang kering, refleks yang melambat, bengkak di leher, dan detak jantung yang lebih lambat.

Selain itu, dokter juga akan meminta pasien untuk melaporkan gejala apa pun yang mungkin dialami, seperti kelelahan, depresi, sembelit, atau terus-menerus merasa kedinginan.

Jika seseorang memiliki riwayat keluarga dengan kondisi tiroid, beri tahu dokter selama pemeriksaan ini.

2. Tes darah

Tes darah adalah satu-satunya cara untuk memastikan diagnosis hipotiroid dengan andal.

Tes thyroid-stimulating hormone (TSH) test mengukur berapa banyak TSH yang dihasilkan kelenjar pituitari seseorang:

  • Jika tiroid seseorang tidak menghasilkan cukup hormon, kelenjar pituitari akan meningkatkan TSH untuk meningkatkan produksi hormon tiroid
  • Jika seseorang memiliki hipotiroid, kadar TSH akan tinggi, karena tubuh mencoba untuk merangsang lebih banyak aktivitas hormon tiroid
  • Jika seseorang memiliki hipertiroid, kadar TSH akan rendah, karena tubuh berusaha menghentikan produksi hormon tiroid yang berlebihan

Tes thyroxine (T4) level test (T4) juga berguna dalam mendiagnosis hipotiroid. T4 adalah salah satu hormon yang diproduksi langsung oleh tiroid seseorang.

Digunakan bersama-sama, tes T4 dan TSH membantu mengevaluasi fungsi tiroid.

Biasanya, jika seseorang memiliki tingkat T4 yang rendah bersama dengan tingkat TSH yang tinggi, maka dia didiagnosis mengalami hipotiroid.

Namun, ada spektrum penyakit tiroid. Tes fungsi tiroid lainnya mungkin diperlukan untuk mendiagnosis kondisi seseorang dengan benar.

Baca Juga: Waspadai Tiroid Memengaruhi Kesuburan

Pengobatan Hipotiroidisme

Pengobatan Pasien Hipotiroid

Foto: Pengobatan Pasien Hipotiroid (endocrinologyadvisor.com)

Dalam kebanyakan kasus, hipotiroidisme diobati dengan mengganti hormon yang tidak lagi diproduksi oleh kelenjar tiroid.

Prosedurnya dilakukan dengan mengonsumsi obat-obatan.

Salah satu obat yang biasa digunakan adalah levothyroxine.

Versi sintetis dari hormon T4 ini menyalin aksi hormon tiroid yang biasanya diproduksi oleh tubuh.

Setelah kadar hormon dipulihkan, gejala dari kondisi tersebut kemungkinan akan hilang atau setidaknya menjadi jauh lebih mudah dikelola.

Setelah memulai perawatan, dibutuhkan beberapa minggu sebelum benar-benar mulai merasakan perbaikan kondisi.

Pasien juga perlu memerlukan tes darah lanjutan guna memantau kondisi secara berkala.

Pasien dan dokter akan bekerja sama untuk menemukan dosis dan rencana perawatan yang paling tepat guna meringankan gejala hipotiroid.

Dalam kebanyakan kasus, pasien hipotiroid harus tetap mengonsumsi obat sepanjang hidupnya.

Namun, pasien biasanya tidak akan terus menggunakan dosis yang sama, terutama jika sebelumnya mengalami penyakit tiroiditis Hashimoto.

Untuk memastikan obat yang digunakan masih bekerja dengan baik, dokter harus menguji kadar TSH pada pasien setiap tahunnya.

Jika kadar darah menunjukkan obat tidak bekerja dengan efektif, dokter akan menyesuaikan dosis sampai keseimbangan tercapai.

Dengan pengobatan yang tepat, Moms yang mengalami hipotiroidisme dapat tetap menjalani hidup dengan normal dan berkualitas.

Baca Juga: 5 Fakta Penyakit Tiroid, dari Faktor Pemicu hingga Orang Paling Berisiko

Komplikasi Hipotiroidisme

Preeklampsia

Foto: Preeklampsia (Istockphoto)

Pengobatan adalah langkah yang paling baik untuk mencegah komplikasi hipotiroidisme.

Apabila abai, penyakit tersebut bisa terus memburuk dan membuat penderitanya lebih berisiko mengalami komplikasi.

Beberapa komplikasi yang dimaksud, antara lain:

  • Gondokan. Ditandai dengan benjolan di leher akibat kelenjar tiroid yang membesar dan dapat memengaruhi proses menelan atau bernapas.
  • Masalah jantung. Hipotiroidisme meningkatkan risiko penyakit jantung dan gagal jantung. Penyebabnya adalah tingginya kadar kolesterol jahat (LDL) yang tidak bisa dikelola.
  • Masalah kesehatan mental. Depresi dapat terjadi di awal kemunculan gejala dan dapat berubah semakin parah seiring dengan waktu.
  • Neuropati perifer. Ini terjadi akibat kerusakan pada saraf perifer yang memicu gejala kelemahan, mati rasa, dan nyeri di area kaki serta tangan.
  • Miksedema. Ini adalah gangguan mental dan fungsi organk akibat hipotiroidisme jangka panjang. Pemicunya adalah obat penenang, infeksi, atau stres.
  • Infertilitas. Rendahnya tingkat hormon tiroid dapat mengganggu ovulasi, yang mengganggu kesuburan
  • Cacat lahir. Bayi yang lahir dari wanita dengan penyakit tiroid memiliki risiko tinggi mengalami cacat lahir.
  • Anemia. Ini terjadi ketika tubuh kekurangan sel darah merah atau saat sel darah merah tidak dapat berfungsi sebagaimana mestinya.
  • Preeklamsia. Kondisi ini ditandai dengan peningkatan tekanan darah dan protein dalam urine saat usia kehamilan di atas 20 minggu.
  • Keguguran. Ini ditandai dengan berhentinya tumbuh kembang janin dalam kandungan saat usianya di bawah 20 minggu.

Baca Juga: Termasuk ke dalam Penyakit Tiroid, Ini Perbedaan Hipertiroidisme dan Hipotiroidisme

Itulah beberapa hal penting tentang hipotiroidisme.

Perlu Moms ingat bahwa tubuh akan secara alami mengalami perubahan seiring bertambahnya usia.

Namun, jika mengalami perubahan tubuh yang terlalu signifikan, segera berobat ke dokter dokter untuk memastikan kondisi kesehatan.

Ingat, hipotiroidisme yang tidak diobati dengan benar dapat menyebabkan komplikasi yang fatal.

Tetap waspada dan jaga selalu kesehatan, ya, Moms!

  • https://www.healthline.com/health/hypothyroidism/symptoms-treatments-more
  • https://www.niddk.nih.gov/health-information/endocrine-diseases/hypothyroidism
  • https://www.health.harvard.edu/newsletter_article/when-depression-starts-in-the-neck
  • https://www.thyroid.org/media-main/press-room/
  • https://www.healthline.com/health/tsh
  • https://www.healthline.com/health/t4-test
  • https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/hypothyroidism/symptoms-causes/syc-20350284
  • https://my.clevelandclinic.org/health/diseases/12120-hypothyroidism