31 Mei 2022

Voltaren, Obat NSAID yang Mampu Mengatasi Rasa Nyeri

Perhatikan dosis pemakaiannya, ya!

Voltaren adalah salah satu obat antiinflamasi nonsteroid (NSAID).

Obat ini mengandung natrium diklofenak yang berfungsi dengan mengurangi zat dalam tubuh yang menyebabkan rasa sakit dan peradangan.

Pada varian produk gel, obat ini dapat digunakan untuk mengobati osteoarthritis pada lutut dan tangan.

Ada beberapa varian lain dari produk ini, yaitu tablet, balsem, dan lainnya.

Baca Juga: Naproxen (Obat Radang Sendi): Fungsi, Dosis, Penggunaan, dan Efek Samping

Fungsi Voltaren untuk Mengobati Penyakit

fungsi voltaren
Foto: fungsi voltaren (mims.com)

Foto: mims.com

Voltaren adalah obat yang digunakan untuk mengobati gejala nyeri yang berhubungan dengan rheumatoid arthritis, osteoarthritis, ankylosing spondylitis, dismenore, dan nyeri ringan hingga sedang.

Voltaren dapat digunakan sendiri atau dengan obat lainnya.

Mengutip dari situs Voltaren, kandungan natrium diklofenak berguna untuk menghambat prostaglandin.

Nah, prostaglandin adalah zat di dalam tubuh yang dapat menimbulkan rasa sakit serta peradangan.

Untuk mengurangi masalah tersebut, diklofenak membantu untuk meredakan nyeri serta mengurangi peradangan.

Mengutip jurnal dari StatPearls, disebutkan jika obat dengan kandungan diklofenak telah disetujui oleh FDA untuk mengobati dan mengelola nyeri akut dan kronis terkait inflamasi, terutama yang mengganggu sistem muskuloskeletal.

Beberapa gangguan yang dapat diatasi adalah osteoarthritis, rheumatoid arthritis, dan ankylosing spondylitis.

Baca Juga: 5 Cara Mencegah Osteoarthritis sejak Dini

Dosis Voltaren

Penggunaan dan dosis dari obat ini perlu disesuaikan dengan kondisi yang menyesuaikan kebutuhan.

Berikut penjelasan tentang dosisnya menurut RxList:

Voltaren Tablet

Untuk meredakan osteoartritis: Dosis yang dianjurkan untuk mengatasi masalah ini adalah 100 hingga 150 mg per hari dalam dosis terbagi (50 mg dua kali sehari atau tiga kali sehari, atau 75 mg dua kali sehari).

Untuk meredakan rheumatoid arthritis: Dosis yang dianjurkan adalah 150 hingga 200 mg per hari dalam dosis terbagi (50 mg tiga kali sehari atau empat kali sehari, atau 75 mg dua kali sehari).

Untuk menghilangkan ankylosing spondylitis: Dosis yang dianjurkan adalah 100 hingga 125 mg per hari, diberikan 25 mg empat kali per hari.

Dokter juga dapat memberikan dosis tambahan 25 mg sebelum tidur jika memang perlu.

Voltaren Gel

Untuk varian gel, dosisnya sebanyak 2-4 gram atau setara dengan ukuran ceri yang dioleskan sebanyak 3-4 per hari pada area yang terasa nyeri.

Voltaren Suntik

Pada jenis suntik, dosis yang diberikan adalah 1-2 ampul 3 mL atau setara dengan 75 mg per hari.

Obat ini tidak boleh diberikan lebih dari dua hari dengan dosis maksimal per harinya adalah 150 mg.

Alangkah lebih baiknya untuk memastikan dosis yang dikonsumsi tepat atau tidak pada dokter.

Hal ini untuk menghindari efek samping akibat obat tersebut.

Untuk Voltaren suntik harus dilakukan dengan pengawas oleh dokter di rumah sakit.

Baca Juga: Ketahui Dexaharsen, Obat untuk Redakan Peradangan dan Alergi di Tubuh

Efek Samping Voltaren

efek samping voltaren
Foto: efek samping voltaren (voltaren.co.id)

Foto: voltaren.co.id

Mengutip dari Drugs, ada beberapa efek samping yang dapat terjadi akibat konsumsi obat ini, yaitu:

  • Gangguan pencernaan.
  • Perut kembung atau penuh gas.
  • Mual dan/atau muntah.
  • Alami sakit perut.
  • Diare dan sembelit.
  • Sakit kepala, pusing, mengantuk.
  • Peningkatan tekanan darah.
  • Pembengkakan atau nyeri di lengan atau kaki.

Baca Juga: Osteokom untuk Nyeri Sendi, Amankah untuk Bumil dan Busui?

Pastikan mendapatkan bantuan medis darurat jika memiliki tanda-tanda reaksi alergi terhadap Voltaren.

Di antaranya, seperti gatal-gatal, sulit bernapas, hingga bengkak di wajah atau tenggorokan.

Selain itu, reaksi kulit yang parah juga dapat terjadi, seperti ruam kulit merah atau nyeri pada kulit.

Berhenti menggunakan obat ini dan segera hubungi dokter jika mengalami:

  • Tanda pertama ruam kulit yang ringan atau berat.
  • Alami gejala seperti flu.
  • Alami masalah jantung, seperti pembengkakan, penambahan berat badan yang cepat, sesak napas.
  • Alami masalah ginjal, seperti sedikit atau tidak ada buang air kecil, nyeri atau sulit buang air kecil, bengkak di lengan atau kaki, merasa lelah atau sesak napas.
  • Alami masalah hati, seperti sakit perut (kanan atas), kelelahan, urin gelap, penyakit kuning (kulit atau mata menguning).
  • Alami tanda-tanda pendarahan lambung, seperti tinja berdarah atau lembek, batuk darah atau muntah yang terlihat seperti bubuk kopi.

Mengutip jurnal dari The BMJ, disebutkan jika memang kandungan diklofenak dapat menimbulkan risiko kesehatan kardiovaskular.

Ini dibandingkan dengan pengguna obat antiinflamasi non-steroid yang tidak memiliki kandungan tersebut.

Bahkan, kandungan ini juga dapat meningkatkan risiko perdarahan gastrointestinal.

Kontraindikasi Voltaren

Ada beberapa kondisi yang tidak disarankan untuk mengonsumsi obat ini, seperti:

  • Memiliki hipersensitivitas terhadap natrium diklofenak atau kandungan lainnya pada obat ini.
  • Menderita ulkus gaster atau usus aktif, perdarahan atau perforasi.
  • Menderita gagal jantung, masalah ginjal, atau gangguan jantung yang parah.
  • Sedang mendapatkan pengobatan nyeri perioperatif yang berhubungan dengan operasi CABG.
  • Wanita dengan kehamilan trimester akhir.
  • Ibu yang sedang menyusui.

Baca Juga: Neuralgin (Obat Pereda Nyeri): Kandungan, Dosis, dan Efek Samping

Interaksi Obat Voltaren

interaksi obat voltaren
Foto: interaksi obat voltaren (voltaren.me)

Foto: voltaren.me

Ada beberapa interaksi yang dapat timbul jika obat ini dikonsumsi bersamaan dengan beberapa obat lainnya, seperti:

  • Obat diuretik atau antihipertensi: Menurunkan efek anti tekanan darah tinggi.
  • Inhibitor CYP2C9: Terjadinya peningkatan konsentrasi plasma puncak.
  • Kadar K serum: Meningkatkan diuretik rendah K, siklosporin, takrolimus, atau trimethoprim.
  • Kuinolon: Mampu menyebabkan kejang.
  • OAINS atau kortikosteroid lainnya: Meningkatkan frekuensi efek gastrointestinal yang tidak diinginkan.

Peringatan sebelum Konsumsi Voltaren

Seseorang tidak boleh menggunakan atau mengonsumsi obat jika memiliki riwayat reaksi alergi terhadap aspirin atau NSAID (obat antiinflamasi nonsteroid), serta kandungan lainnya pada obat ini.

Selain itu, Voltaren dapat meningkatkan risiko serangan jantung atau stroke yang fatal.

Jangan gunakan obat ini sebelum atau sesudah operasi bypass jantung.

Kandungan Diklofenak di dalamnya juga menyebabkan pendarahan lambung atau usus, yang bisa berakibat fatal.

Obat ini juga dapat menyebabkan pendarahan lambung atau usus, yang bisa berakibat fatal.

Kondisi ini dapat terjadi tanpa peringatan saat menggunakan obat ini, terutama pada orang dewasa yang lebih tua.

Itulah serba-serbi seputar Voltaren, semoga menjadi informasi yang membantu, ya!

  • https://www.rxlist.com/voltaren-drug.htm#indications
  • https://www.drugs.com/voltaren.html
  • https://www.mims.com/indonesia/drug/info/voltaren?type=brief&lang=id
  • https://www.voltaren.co.id/memahami-nyeri/bagaimana-voltaren-bekerja.html
  • https://www.bmj.com/content/362/bmj.k3426
  • https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK557879/

Konten di bawah ini disajikan oleh advertiser.
Tim Redaksi Orami tidak terlibat dalam materi konten ini.


FOLLOW US

facebook
twitter
instagram
spotify
tiktok

Orami Articles — Artikel Seputar Parenting, Kesehatan,
Gaya Hidup dan Hiburan

Copyright © 2024 Orami. All rights reserved.