Parenting Islami

1 Juli 2021

Serba-serbi Haji, Ibadah Umat Islam ke Tanah Suci Mekah

Laksanakan haji dengan tertib agar tetap sah di mata Allah SWT
placeholder
placeholder
Artikel ditulis oleh Fia Afifah R
Disunting oleh Andra Nur Oktaviani

Haji merupakan salah satu dari lima rukun Islam selain syahadat, shalat, puasa, dan zakat yang wajib dikerjakan oleh kaum muslim. Secara umum, pengertian haji adalah mengunjungi Baitullah (Ka’bah) di Mekah untuk melakukan amal ibadah tertentu dengan syarat-syarat tertentu.

Allah SWT berfirman: “Mengerjakan haji merupakan kewajiban hamba terhadap Allah yaitu bagi yang mampu mengadakan perjalanan ke baitullah. Barangsiapa mengingkarinya, maka sesungguhnya Allah Maha kaya tidak memerlukan sesuatu dari semesta alam.” (QS Ali Imran: 97).

Rasulullah SAW bersabda: “Islam itu didirikan atas lima perkara. Yaitu, bersaksi bahwa tidak ada tuhan yang berhak disembah melainkan Allah dan Muhammad adalah Rasul-Nya, mendirikan sholat, menunaikan zakat, puasa pada bulan Ramadan, menunaikan ibadah haji ke Baitullah bagi yang mampu melakukannya." (HR Mutafaqun ‘Alaih).

Orang yang akan melakukan ibadah haji wajib memenuhi ketentuan-ketentuannya. Beberapa ketentuan tersebut seperti syarat, rukun, wajib haji, serta sunnah-sunnah haji yang lainnya. Dirangkum dari beberapa sumber, inilah ketentuan yang terkait dengan haji.

Baca Juga: 5 Masjid Agung di Jalur Pantura yang Nyaman Disinggahi untuk Beribadah

Syarat-Syarat Haji

Haji -1.jpg

Foto: Vox.com/Gettyimages.com

Menurut penelitian yang dipublikasikan oleh International Published Articles, haji memberikan pengalaman spiritual, yaitu: ketidakefektifan, kualitas noetik, kefanaan, dan kepasifan. Analisis data menunjukkan bahwa responden merasakan pengalaman spiritual yang terkait dengan ibadah haji.

Pengalaman-pengalam tersebut tentunya seseorang perlu terlebih dulu memenuhi syarat haji, seperti:

  • Beragama Islam,
  • Berakal sehat,
  • Baligh atau dewasa
  • Merdeka (bukan budak), dan
  • Mampu untuk melakukannya.
  • Berbadan sehat,
  • Ada kendaraan yang dapat mengantar pulang dan pergi ke Mekah bagi orang yang di luar mekah,
  • Aman dalam perjalanan. Artinya, jiwa dan hartanya terjamin keselamatannya.
  • Memiliki bekal yang cukup. Orang yang berhaji harus memiliki harta yang dimiliki cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup selama mengerjakan haji, termasuk juga cukup untuk menjamin kebutuhan keluarga yang ditinggalkannya.
  • Bagi perempuan harus dengan suaminya atau diserta mahram atau dengan perempuan lain yang ada mahramnya.

Baca Juga: Ketahui Aturan Ibadah Ramadan Selama COVID-19 dari Kementerian Agama

Rukun-Rukun Haji

Haji -2.jpg

Foto: DW.com/APphoto

Rukun haji adalah perbuatan yang wajib dikerjakan dan tidak dapat diganti dengan membayar denda. Jika salah satunya tidak dikerjakan, maka ibadah hajinya dinyatakan tidak sah. Ada enak rukun haji yang harus diperhatikan, yakni:

  • Ihram. Ini adalah berniat mengerjakan ibadah haji dengan memakai pakaian ihram, pakaian berwarna putih bersih dan tidak berjahit. Pakaian tidak berjahit hanya berlaku bagi laki-laki.
  • Wukuf di Arafah. Artinya tetap berada di Padang Arafah pada waktu Dzuhur, dimulai sejak tergelincir matahari tanggal 9 Zulhijah sampai terbit fajat tanggal 10 Dzulhijah.
  • Tawaf. Ini adalah aktivitas mengelilingi Ka’bah sebanyak tujuh kali putaran. Dimulai dari Hajar Aswad dengan posisi Ka’bah di sebelah kiri orang yang bertawaf (berputar kebalikan arah jarum jam). Orang yang tawaf harus menutup aurat serta suci dari hadas dan najis. Ada beberapa tawaf, yakni Tawaf Qudum (dilakukan ketika baru sampai di Mekah), Tawaf Ifadah (dilakukan karena melaksanakan rukun haji), Tawaf Nazar (dilakukan karena nazar), Tawaf Sunah (dilakukan tidak karena sebab-sebab tertentu dan hanya mencari keutamaan dalam ibadah), serta Tawaf Wadak (dilakukan karena hendak meninggalkan Mekah).
  • Sa’i. Ini adalah aktivitas berlari-lari kecil antara Bukit Safa dan Marwah. Sai harus dimulai dari Bukit Safa dan diakhiri di Bukit Marwah. Sai dilakukan sebanyak tujuh kali dan dikerjakan setelah tawaf.
  • Menggunting/Mencukur Rambut. Waktu mencukur rambut setelah melempar Jamrah Aqabah pada hari Nahar. Apabila mempunyai kurban, mencukup dilakukan setelah menyembelih hewan kurban. Mencukur rambut sekurang-kurangnya tiga helai rambut.
  • Tertib. Saat melakukan haji harus dijalankan secara berurutan.

Baca Juga: 5 Aturan Berpuasa Penderita Diabetes agar Ibadah Tetap Lancar

Jenis-jenis Manasik Haji

Haji -3.jpg

Foto: Cnn.com

Biaya ibadah haji tahun 2021 diproyeksikan naik hingga mencapai Rp 9,1 juta. Dikutip CNBC Indonesia sebelumnya, biaya pada 2020 sebesar Rp 35,2 juta. Itu artinya tahun ini menjadi Rp 44,3 juta per orang. Ini juga bisa menjadi pertimbangan saat akan memutuskan memilih jenis manasik haji yang akan dilakukan.

Jenis-jenis manasik haji yang telah ditetapkan syariat ada tiga,yaitu:

1. Ifrad

Ifrad merupakan salah satu dari jenis manasik haji yang hanya berihram untuk haji tanpa umroh. Seseorang yang memilih manasik ini harus berniat untuk haji saja, kemudian pergi ke Makkah dan ber-thawaf qudum.

Apabila telah ber-thawaf, dia tetap berpakaian ihram dan dalam keadaan muhrim sampai hari nahar (tanggal 10 Dzulhijah) dan tidak dibebani hadyu (sembelihan), serta tidak ber-Sa’i kecuali sekali dan umrohnya dapat dilakukan pada perjalanan yang lainnya.

Di antara bentuk Ifrad adalah:

  • Berumroh sebelum bulan-bulan haji dan tinggal menetap di Makkah sampai haji.
  • Berumroh sebelum bulan-bulan haji, kemudian pulang ketempat tinggalnya dan setelah itu kembali ke Mekkah untuk menunaikan ibadah haji.

Pelaksanaan haji Ifrad lebih utama merupakan pendapat Imam Malik dan yang terkenal dari Madzhab Syafi’i serta pendapat Umar, Utsman, Ibnu Umar, Jabir dan ‘Aisyah dengan dalil dari HaditshAisyah dan Jabir yang menjelaskan bahwa Rasulullah SAW melakukan haji ifrad.

Karena haji tersebut sempurna tanpa membutuhkan penguat, maka yang tidak membutuhkan lebih utama dari yang membutuhkan.

2. Tamattu’

Ini adalah berihram untuk umrah di bulan-bulan haji, setelah itu berihram untuk haji pada tahun itu juga. Orang tersebut harus menyembelih hadyu (sembelihan). Oleh karena itu setelah thawaf dan sa’i dia mencukur rambut dan pada tanggal 8 Dzul Hijjah berihram untuk haji.

Pelaksanaan haji Tamattu’ lebih utama, yang merupakan pendapat dari Ibnu Umar, Ibnu Abbas, Ibnu Zubair, ‘Aisyah, Alhasan, ‘Atha’, Thawus, Mujahid, Jabir bin Zaid, Al-Qarim, Saalim, Ikrimah, Ahmad bin Hanbal, dan madzhab ahli zhahir serta merupakan pendapat yang masyhur dari madzhab hanbali dan satu daru dua pendapat Imam Syafi’i.

3. Qiran

Qiran adalah berihram untuk umrah dan haji sekaligus, dan membawa hadyu (sembelihan) sebagaimana yang dicontohkan Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam, dan qiran ini memiliki tiga bentuk:

  • Berihram untuk haji dan umrah bersamaan, sebagaimana dalam sebuah dalil bahwa Nabi SAW didatangi Jibril dan berkata: “Shalatlah di wadi yang diberkahi ini dan katakan ‘Umrah fi hajjatin’.” (HR Bukhari).
  • Berihram untuk umrah saja pertama kali, kemudian memasukkan haji sebelum memulai thawaf. Sesuai hadits yang diriwayatkan ‘Aisyah ketika berihram untuk umrah, kemudian haidh di Saraf. Lalu Rasulullah SAW memerintahkan beliau untuk berihlal (ihram) untuk haji dan perintah tersebut bukan merupakan pembatalan umrah dengan dalil sabda Rasulullah SAW: “Cukuplah bagi kamu thawafmu untuk haji dan umrahmu.” (HR Muslim).
  • Berihram untuk haji kemudan memasukkan umrah atasnya. Tentang kebolehan hal ini para ulama ada dua pendapat: Boleh dengan dalil hadits ‘Aisyah:“Rasululloh berihlal (ihrom) dengan haji,”, dan tidak boleh yang merupakan pendapat masyhur dalam madzhab hanbali. Berkata Syaikhul Islam: “Dan seandainya dia berihram dengan haji kemudian memasukkan umrah ke dalamnya, maka tidak boleh menurut pendapat yang rajih dan sebaliknya dengan kesepakatan para ulama.”

Ada juga yang berpendapat bahwa Qiran lebih utama. Ini merupakan pendapat madzhab Hanafi dan Tsaury berhujjah dengan hadits Anas, beliau berkata: “Aku mendengar Rasulullah berihlal dengan keduanya: ‘Labbaik Umrotan wa hajjan.“ (HR Mutafaqun Alaih).

Baca Juga: Ini Rukun Puasa dan Syaratnya Agar Ibadah Sah Dilakukan, Catat!

Wajib dan Sunnah Haji

Haji -4.jpg

Foto: Theguardian.com

Ini adalah perbuatan yang harus dilakukan dalam ibadah haji. Apabila wajib haji dilanggar, hajinya tidak sah atau tidak membatalkan haji yang dilakukan, tetapi wajib membayar dam atau denda dengan cara menyembelih binatang.

Jika wajib haji telah diganti dengan menyembelih binatang, ibadah hajinya dianggap sah. Wajib haji adalah sesuatu yang tidak mempengaruhi kepada sah atau tidaknya haji secara langsung, tetapi diwajibkan membayar bila meninggalkannya.

Adapun wajib haji itu ada enam yaitu:

  • Ihram (niat berhaji) dari miqat (batas yang ditentukan),
  • Mabit di Muzdalifah,
  • Melontar tiga Jamrah, yaitu Ula, Wusta, dan Aqabah,
  • Mabit di Mina,
  • Tawaf wada’ bagi yang akan meninggalkan Mekah, sedangkan bagi wanita yang sedang haid (menstruasi) tawaf wadaknya gugur
  • Menghindari perbuatan yang terlarang dalam keadaan berihram

Sedangkan sunnah haji adalah sesuatu yang tidak berkaitan dengan sah atau tidaknya haji, tidak diwajibkan pula membayar dam bila meninggalkannya, dan tidak berdosa meninggalkannya meskipun dengan sengaja.

Tetapi, pahala haji akan terasa kurang sempurna bila tidak melakukan sunnah haji ini. Masing-masing memiliki konsekuensinya yang berbeda-beda. Maka sunnah dalam ibadah haji sangat dianjurkan dan rugi jika ditinggalkan.

Sunnah haji dibagi menjadi dua, yaitu sunnah haji secara umum dan sunnah haji secara khusus.

1. Sunnah Haji Secara Umum

Ada beberapa sunnah yang umum dijalankan, misalnya:

  • Melaksanakan Haji Ifrad
  • Memperbanyak membaca Talbiyah
  • Thawaf Qudum (bagi yang melaksanakan Haji Ifrad)
  • Salat sunnah Thawaf
  • Mandi. Ada beberapa macam mandi dalam ibadah haji, yaitu: Mandi Ihram, mandi masuk tanah haram (Makkah dan Madinah), mandi Wukuf, serta mandi Mabit di Muzdalifah.
  • Berpakaian ihram dengan kain putih.
  • Minum air Zam-zam.

2. Sunnah Haji Secara Khusus

Selain itu, terdapat pula sunnah haji yang khusus dilakukan, seperti:

  • Melakukan ihram. Hal pertama yang harus dilakukan adalah mandi. Berdasarkan hadits Zaid bin Tsabit dan juga dari ‘Aisyah ia berkata, “Aku pernah memberi wewangian Rasulullah SAW untuk ihramnya sebelum berihram dan untuk tahallulnya sebelum melakukan thawaf di Ka’bah. Melakukan salat ihram dan berdoa kepada Allah sambil menghadap ke arah kiblat. Mengucapkan niat ihram dilanjutkan dengan berdoa serta memperbanyak bacaan talbiyah serta shalawat.”
  • Sunnah saat thawaf. Lakukan thawaf dengan berjalan kaki, selanjutnya memulai dengan posisi menghadap kiblat. Setelah itu, mengusap permukaan Hadjar Aswad atau jika tidak memungkinkan cukup dengan melambaikan tangan lalu dikecup.
  • Membaca do’a-do’a ma’tsur dengan berlari-lari kecil pada tiga putaran pertama. Selanjutnya mengusap Rukun Yamani atau cukup dengan melambaikan tangan tanpa dikecup. Setelah itu memanjatkan doa di Multazam, melakukan salat sunnah Thawaf di belakang Makam Ismail, salat sunnah mutlaq di Hijr Ismail, serta minum air zam-zam..
  • Sunnah ketika melakukan Sa’i. Pertama harus bersih dari hadast besar dan kecil. Selanjutnya masuk dimulai dari pintu shafa (Babus Shafa). Untuk jamaah pria melakukan perjalanan naik sampai ke bukit Shafa dan Marwah, menghadap ke arah Ka’bah setiap mau memulai perjalanan. Setelah itu berlari-lari kecil di antara dua pilar hijau, memanjatkan do’a-do’a ma’tsur dan terakhir adalah muwalah (nuli-nuli).
  • Sunnah ketika melakukan wuquf. Harus suci dari hadast besar dan kecil (mandi dan wudhu), mendengarkan khutbah dengan khidmat, menghadap ke arah Ka’bah (kiblat), dan melaksanakan ibadah wuquf hingga matahari tenggelam. Selain itu, dapat juga memperbanyak amalan-amalan sunnah seperti, doa, dzikir, shalawat, membaca Alquran, bertaubat, menenangkan hati dan berdoa dengan khusyuk, serta menjaga lisan untuk tidak mengucapkan hal-hal yang tidak berguna apalagi berkata kotor.
  • Sunnah yang harus dilakukan saat mabit di Muzdalifah. Hal pertama yang harus dilakukan adalah salat jamak ta’khir yaitu salat Maghrib dan Isya secara berjamaah, mengambil batu kerikil untuk melempar jumrah, memperbanyak bacaan takbir dan talbiyah,serta berdoa di Masjidil Haram.
  • Sunnah saat melempar Jumrah. Melempar Jumrah Aqobah setelah terbit matahari tanggal 10 Dzulhijjah. Pada tanggal 10 Dzulhijajah lakukan juga hal-hal lain yaitu, menyembelih qurban dan dam, memotong rambut (Tahallul Awal), melakukan Thawaf Ifadloh, mandi setiap akan melempar Jumrah, membaca takbir ketika akan melempar Jumrah, berdo’a setiap selesai 7 kali lemparan pada Jumrah Ula dan Wustho. Lalu melempar Jumrah lagi tanggal 11 Dzulhijah setelah Zawal (setelah matahari condong ke barat). Diwajibkan bagi laki-laki yang melempar Jumrah sunnah mengangkat tangan kanan sampai kelihatan ketiaknya. Batu yang digunakan untuk melempar Jumrah berukuran sedang (Hashal Qodfi).

Diawali dengan mengetahu apa saja yang terkait dengan haji, akan semakin meningkatkan keinginan Moms dan keluarga untuk bisa disegerakan pergi berhaji bersama.

  • https://umroh.com/blog/sunnah-haji/
  • http://repository.usu.ac.id/handle/123456789/69888
  • https://ihram.co.id/berita/qc621y320/dalildalil-yang-menjadi-landasan-kewajiban-haji-umat-islam
  • https://yayasanalbarokahmadani.com/pengertian-haji-syarat-rukun-jenis-tata-cara-manfaatnya/
  • https://islamqa.info/id/answers/41949/kedudukan-haji-dalam-islam-dan-syarat-syarat-wajibnya
  • https://www.cnbcindonesia.com/news/20210406163912-4-235718/biaya-ibadah-haji-2021-jadi-rp-443-juta-naik-rp-91-juta
  • https://muslim.or.id/4800-tuntunan-ibadah-haji-1.html
Produk Rekomendasi

TOOLS PARENTING

Komentar

Yuk, ngobrol dan sharing pendapat dengan moms lainnya.

member-image

Beri Komentar...

Artikel Terkait