25 Agustus 2023

Mengenal Tanda dan Gejala OCD yang Perlu Kamu Pahami!

Memiliki obsesi bersih-bersih juga termasuk tandanya.

OCD (Obsessive-Compulsive Disorder) adalah kondisi yang bisa dialami siapa saja. Lantas, bagaimana dengan gejalanya?

"OCD adalah suatu gangguan yang cukup umum dan bersifat kronis, membuat seseorang memiliki pikiran-pikiran (obsesi) yang sulit dikendalikan dan berulang.

Bisa juga memiliki perilaku (kompulsi) yang membuat seseorang merasa dipaksa untuk mengulang-ulang perbuatannya," jelas dr. Leonardi A. Goenawan, Sp. KJ.

dr. Leonardi adalah Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa di RS Pondok Indah, Puri Indah, Jakarta Barat, dan juga Bintaro Jaya, Moms.

Kemudian, salah satu gejalanya dalah ketakutan terhadap kuman.

Namun, sebenarnya kondisi ini sangat luas, lho Moms dan untuk mendiagnosisnya pun dibutuhkan banyak pemeriksaan.

Mari ketahui serba-serbi dari gangguan mental yang kerap dialami banyak orang ini.

Baca Juga: Mengenal Kemampuan Fungsi Eksekutif dalam Perkembangan Anak

Apa Itu Penyakit OCD?

Ilustrasi Tanda Penyakit OCD
Foto: Ilustrasi Tanda Penyakit OCD (Freepik.com/yuriarcurspeopleimages)

Pernahkah Moms melihat seseorang yang memiliki OCD, atau mengalaminya sendiri?

Dilansir dari The National Institute of Mental Health (NIMH), OCD adalah gangguan kronis umum yang berlangsung lama.

Ini merupakan kondisi ketika seseorang memiliki pikiran terus-menerus (obsesi) untuk melakukan sesuatu kegiatan.

Sering kali, hal ini tidak bisa dikontrol, maka dari itu, penderita masalah kesehatan ini kerap mengalami hambatan dalam beraktivias sehari-hari.

Ini dapat terjadi pada wanita, laki-laki, maupun anak-anak sekalipun.

Sejumlah orang bisa saja mengalami gejala awal dan akan berkelanjutan hingga melewati masa pubertas menuju dewasa.

Hingga saat ini, belum diketahui pasti apa penyebabnya. Namun, ada sejumlah faktor yang mungkin berperan, termasuk:

Seseorang yang mengalami depresi atau kecemasan berlebih juga berisiko terkena gangguan mental ini.

Baca Juga: Sakit Punggung Tengah? Cari Tahu Gejala hingga Penyebabnya di Sini!

Gejala OCD

Menggunakan Handsanitizer
Foto: Menggunakan Handsanitizer (Freepik.com/yuriarcurspeopleimages)

Apa Moms sering merasa rumah kotor? Berulang kali membersihkan rumah karena selalu merasa berantakan?

Bisa jadi Moms sangat peduli akan kebersihan rumah atau mainan Si Kecil?

Agar tidak menebak-nebak dan mendiagnosis diri sendiri, mari cari tahu tanda penyakit OCD di bawah ini!

1. Sering Cuci Tangan atau Menggunakan Hand Sanitizer

Gejala OCD pertama adalah sering mencuci tangan. Mencuci tangan memang hal baik, tapi jika berlebihan maka bisa berarti gejala OCD!

Apabila sedikit-sedikit Moms selalu mencuci tangan hanya karena ketakutan akan kuman yang menempel di kulit, ini bisa jadi tanda penyakit OCD.

Nah, jika mempunyai ritual cuci tangan yang sangat rumit, bahkan hingga menggosoknya dengan sabun sampai 5 kali sampai ke dalam-dalam kuku, ini perlu dikhawatirkan.

"Bisa saja, ini adalah tanda atau gejala terkena OCD. Biasanya, orang dengan sifat ini ingin sesuatunya terasa sempurna," ungkap Jeff Szymanski, PhD.

Jeff adalah Direktur Eksekutif dari International OCD Foundation, sebuah organisasi advokasi yang berbasis di Boston, dilansir dari Health.

Baca Juga: Perkembangan Psikologi Anak dari Bayi hingga Usia Sekolah dan Pola Pengasuhan yang Disarankan

2. Memiliki Obsesi Bersih-bersih

Tanda penyakit OCD yang paling umum terjadi memang terobsesi untuk bersih-bersih.

Orang yang menderita OCD cenderung memaksakan diri untuk selalu membersihkan setiap jengkal area yang biasa ia gunakan.

Bukan hanya rumah, tapi bisa juga seperti meja kantor, mobil, dan lainnya.

Biasanya, mereka bisa berjam-jam melakukan kegiatan bersih-bersih hanya untuk memastikan setiap sudut sudah bersih dan bebas kuman.

Namun, kegiatan bersih-bersih yang dilakukan berjam-jam setiap harinya tidak selalu dapat dikaitkan dengan OCD.

"Jika memiliki ketakutan dan kecemasan untuk tidak melakukan bersih-bersih seperti yang biasa dilakukan, itu baru salah satu tanda OCD,” jelas Michael Jenike, MD, Psikiater di Massachusetts General Hospital, di Boston, melansir dari Health.

Baca Juga: Ini 13 Jenis Sepatu Pria yang Dads Wajib Punya agar Makin Stylish

3. Sering Mengecek Ulang Segala Sesuatu

Pria Mengecek Barang
Foto: Pria Mengecek Barang (Freepik.com/assumption111)

Gejala OCD selanjutnya adalah sering mengecek ulang banyak hal.

Double checking pekerjaan itu baik, tapi jika Moms dapat mengecek ulang sesuatu hingga lebih dari 5 kali, segera periksakan ke psikiater.

Seseorang dengan tanda penyakit OCD cenderung memaksakan dirinya untuk mengecek ulang segala sesuatu hanya karena perasaan takut dan cemas.

Seperti dikutip dari Health, Dr. Jenike memiliki pasien yang selalu mengecek ovennya sebanyak 3 kali hanya untuk memastikan ovennya tidak menyala.

Bukan ketakutan akan kebakaran, atau lupa mematikan, tapi hal itu sudah menjadi kebiasaan yang dilakukan setiap hari.

Adapun, ia melakukan ini karena merasa ada yang kurang jika tidak melakukan hal itu setiap harinya.

4. Selalu Berhitung

Ada juga penderita yang memiliki tanda penyakit OCD yang selalu berhitung saat sedang melakukan sesuatu.

Seperti misalnya berhitung saat sedang menaiki tangga atau saat berjalan ke parkiran mobil.

Menurut mereka hal ini harus dilakukan supaya tetap merasa aman.

Ada contoh lain, misalnya seseorang yang menderita OCD memiliki keyakinan bahwa angka 7 itu baik.

Ia selalu merasa dia akan tersakiti atau orang lain akan terluka jika ia tidak mengambil 7 langkah dalam melakukan apapun.

5. Terorganisir Sangat Sempurna

Kalender Agenda
Foto: Kalender Agenda (Freepik.com/rawpixel-com)

Gejala OCD selanjutnya adalah memiliki kemampuan mengorganisir sesuatu dalam level yang sangat sempurna.

Orang dengan sifat ini terobsesi dengan urutan dan kesimetrisan.

“Mereka selalu menyusun sesuatu hingga ia merasa sudah sempurna, terlihat baik, simetris, dan jumlahnya sesuai (untuk barang),” ungkap Szymanski.

Terkadang penderita OCD merasa kerapihan dan kebersihan saja tidak cukup.

Segala sesuatunya harus diletakkan secara simetris, dengan jumlah yang sesuai, diurutkan dari kecil ke besar, rendah ke tinggi, atau sebaliknya.

Diketahui, kebiasaan ini dilakukan untuk memuaskan rasa khawatir berlebihannya.

Baca Juga: Waspadai Anoreksia, Ketakutan Berlebihan Menjadi Gemuk Setelah Makan


6. Takut Tersakiti Atau Disakiti

Setiap orang pasti pernah terpikir akan kemungkinan terkena musibah, kecelakaan, atau hal buruk lainnya.

Namun, penderita OCD memiliki pemikiran itu hampir setiap saat dan sulit menekan pikiran tersebut.

Semakin mereka berusaha menghilangkan pemikiran itu, semakin besar ketakutan yang dihadapinya.

Dilansir dari International OCD Foundation, beberapa ketakutan itu di antaranya:

  • Menyakiti orang lain
  • Menyakiti diri sendiri
  • Ragu mengatakan sesuatu yang salah dan bikin orang lain tersinggung
  • Imajinasi yang terbentuk
  • Mengambil barang milik orang lain

Karena hal itu, orang dengan gangguan ini melakukan sesuatu dengan penuh kesempurnaan.

7. Sering Menanyakan Sesuatu Berulang Kali

Wanita Berteriak
Foto: Wanita Berteriak (Freepik.com/trzykropy)

Hal yang paling sering dialami penderita dengan tanda penyakit OCD adalah sering menanyakan hal yang sama berulang kali untuk mengurangi kekhawatiran dalam diri.

Sebagai contoh, seorang OCD mengundang temannya ke rumah, ia bisa menanyakan, “Apakah rumahku sudah bersih?” berulang kali pada temannya.

Hal ini mereka lakukan karena ketakutan yang besar akan kebersihan rumahnya.

Namun, terkadang pertanyaan-pertanyaan yang diajukan berulang kali juga bisa menjadi strategi untuk menghindari perilaku kompulsif yang dialami.

Baca Juga: Indikator Perkembangan Kognitif Anak dari Lahir hingga Usia 12 Tahun, Moms Wajib Tahu!

8. Membenci Penampilan Sendiri

Orang yang menderita OCD biasanya memiliki rasa tidak suka pada salah satu bagian tubuhnya atau keseluruhan penampilannya.

Mereka dapat berkaca selama berjam-jam hanya untuk memperhatikan bagian tubuh yang tidak disukai.

Bahkan ada juga yang sampai menghindari orang lain, karena merasa dirinya tidak layak.

9. Berbicara dan Bergumam Sendiri

Dikutip dalam Mayo Clinic, tanda lain dari penyakit OCD adalah sering berbicara sendiri atau bergumam.

Diam-diam mengulangi doa, kata atau sebuah kalimat menjadi kegiatan yang dilakukan sehari-hari.

Biasanya, hal ini untuk menambah rasa kepercayaan diri mereka akan sesuatu.

Dengan melafalkan kalimat berulang-ulang, membuat adanya "kekuatan" dari dalam diri.

Baca Juga: 8 Jenis Gangguan Parafilia, Kelainan Perilaku Seksual yang Berhasrat pada Hal Tidak Umum

Gejala Obsesi dan Gejala Kompulsi (Gejala OCD)

Ilustrasi Gejala OCD
Foto: Ilustrasi Gejala OCD

Selain tanda OCD yang disebutkan di atas, dr. Leonardi juga mengklasifikasikan gejala OCD menjadi 3 bagian, yakni gejala obsesi, gejala kompulsi, dan perbedaan.

1. Gejala Obsesi

Pikiran-pikiran atau citra mental yang berulang-ulang dan menyebabkan kecemasan. Bentuk-bentuk pikiran yang umum ditemukan:

  • Ketakutan terhadap kuman atau kontaminasi (radiasi, bahan kimia, dan lain-lain).
  • Pikiran-pikiran yang terlarang atau tabu yang berkaitan dengan seks dan agama.
  • Takut kehilangan kendali hingga dapat mencelakai orang lain, misalnya ibu yang membayangkan akan mencelakai bayinya.
  • Takut dan merasa bertanggung jawab akan terjadi sesuatu yang mencelakai atau mengerikan pada orang lain, misalnya kebakaran, kematian, dan lain-lain.
  • Keinginan untuk membuat atau mengatur semua secara simetris/mengikuti aturan tertentu.

2. Gejala Kompulsi

Perilaku repetitif atau berulang yang oleh penderita OCD dirasakan sebagai desakan untuk memberi respons terhadap pikiran obsesif. Bentuk-bentuk perilaku yang umum ditemukan:

  • Membersihkan dan/atau mencuci secara berlebihan.
  • Mengatur dan menyusun sesuatu dengan cara tertentu dan presisi.
  • Memeriksa sesuatu secara berulang kali, contohnya kunci pintu, kompor, dan lain-lain.
  • Pengulangan, misalnya membaca tulisan di jalan, menghitung, menyentuh, memegang, dan lain-lain.
  • Kompulsi mental, misalnya menghindari kata tertentu, menghitung hingga angka tertentu sambil mengerjakan sesuatu, membayangkan citra mental tertentu untuk mencegah terjadinya sesuatu yang buruk, dan lain-lain.

3. Perbedaan antara memeriksa ulang yang bersifat normal dengan OCD

  • Penderita OCD tidak mampu mengendalikan pikiran dan perbuatannya sekalipun dirinya sadar bahwa tindakan tersebut tidak masuk akal dan berlebihan.
  • Menghabiskan waktu setidaknya 1 jam dalam satu hari untuk obsesi dan/atau kompulsinya.
  • Penderita OCD tidak mendapatkan kesenangan pada saat melakukan kompulsi atau ritualnya, tetapi yang didapat hanya kelegaan singkat dari kecemasan yang ditimbulkan oleh pikiran obsesi.
  • Mengalami masalah yang cukup bermakna pada kehidupan sehari-hari akibat obsesi dan/atau kompulsinya.

Baca Juga: Diet OCD Lengkap: Jendela Makan, Jenis Olahraga, Serta Dampak Bagi Kehamilan

Penyembuhan OCD

Terapi
Foto: Terapi (Freepik.com/Shurkin_son)

Menurut dr. Leonardi di dalam ilmu kedokteran, terdapat istilah prognosis, yaitu prediksi mengenai perkembangan suatu penyakit, yang berkaitan dengan komplikasi atau pemulihan (recovery).

"Pemulihan didefinisikan sebagai kembali sehat dari adanya suatu gangguan atau penyakit.

Prognosis terbaik umumnya ditemukan pada anak-anak dan dewasa muda. Sebanyak 40 persen pulih sempurna saat beranjak dewasa.

Sebagian besar penderita OCD akan mengalami perbaikan yang signifikan dengan menjalani terapi, sebaliknya hanya 1 dari 5 penderita yang dapat pulih tanpa terapi," jelas dr. Leonardi.

Terapi yang baku untuk OCD adalah:

  • Psikoterapi (terutama terapi kognitif dan perilaku).
  • Obat-obatan (fluoxetine, fluvoxamine, sertraline, clomipramine, risperidone, dan lain-lain), atau keduanya.

Pada banyak kasus, penderita OCD juga mengalami gangguan kecemasan atau depresi.

Oleh karena itu, terapi yang dipilih perlu mempertimbangkan gangguan lain yang menyertainya.

Menurut data dari National Health Service, umumnya penderita OCD perlu menjalani terapi setidaknya 1 tahun, pada beberapa kasus bahkan membutuhkan waktu yang lebih lama.

Baca Juga: Hipnoterapi, Terapi Alternatif untuk Atasi Masalah Fisik dan Mental Melalui Sugesti

Diagnosis Penyakit OCD

Ilustrasi Diagnosis Penyakit
Foto: Ilustrasi Diagnosis Penyakit (Freepik.com/yanalya)

Tidak ada tes khusus yang dilakukan untuk mendiagnosis penyakit OCD.

Biasanya, penyedia layanan kesehatan membuat diagnosis setelah menanyakan gejala yang dialami oleh pasien OCD.

Selain itu, mereka biasanya menggunakan Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders, 5th Edition (DSM-V).

Ini merupakan media yang digunakan untuk mengklasifikasi adanya gangguan mental.

Menggunakan DSM-V, dapat mendiagnosis pasien OCD berdasarkan faktor-faktor spesifik, seperti:

  • Orang tersebut memiliki obsesi, kompulsi atau keduanya.
  • Obsesi atau kompulsi memakan banyak waktu (lebih dari satu jam per hari).
  • Obsesi atau kompulsi menyebabkan penderitaan atau memengaruhi seseorang dalam kegiatan sosial, mengerjakan tanggung jawab pekerjaan atau peristiwa kehidupan lainnya.
  • Gejalanya tidak disebabkan oleh obat-obatan, alkohol, atau masalah medis lainnya.
  • Gejalanya tidak disebabkan oleh gangguan mental lain (seperti gangguan kecemasan umum atau gangguan makan).

Baca Juga: Kenali Tahapan Perkembangan Remaja Secara Fisik, Emosional, Sosial, dan Kognitif

Menangani Tanda Penyakit OCD

Minum Obat-obatan
Foto: Minum Obat-obatan (Freepik.com/stefamerpik)

Jika Moms memiliki tanda penyakit OCD yang mengganggu kehidupan sehari-hari, lebih baik konsultasi dengan penyedia layanan kesehatan.

Melansir dari Cleveland Clinic, seorang profesional yang terlatih khusus dalam menangani penyakit mental dapat menawarkan beberapa strategi, seperti:

1. Terapi Perilaku Kognitif

Terapi perilaku kognitif adalah salah satu jenis psikoterapi.

Pasien penderita OCD akan berbicara dengan terapis mengenai kondisi yang dialami, lalu memeriksa dan memahami pikiran dan emosinya.

Setelah melakukan beberapa sesi terapi, ini dapat membantu menangani pasien dalam menghentikan kebiasaan negatif, dan menggantinya dengan melakukan teknik coping yang sehat.

Baca Juga: Kenali Tahap Perkembangan Sosial Anak Usia 1–5 Tahun dan Cara untuk Mengajarinya Bersosialisasi

2. Mengonsumsi Obat-obatan

Resep untuk penggunaan obat dapat didapatkan langsung oleh ahli kesehatan yang menangani.

Biasanya, jenis obat yang digunakan, seperti inhibitor ambilan kembali serotonin dan antidepresan trisiklik.


3. Paparan dan Pencegahan Respons (ERP)

Paparan dan pencegahan respons (ERP) adalah metode pengobatan untuk mengatasi berbagai gangguan kecemasan, terutama gangguan obsesif-kompulsif, dan fobia.

Metode ini didasarkan pada efek terapeutik yang dicapai ketika pasien menghadapi respons ketakutan dan menghentikan pelarian.

Dalam jangka pendek, terapi dapat menyebabkan beberapa masalah kecemasan.

Namun, dalam jangka panjang, dapat terjadi pengurangan gejala OCD penderitanya.

Baca Juga: 5 Tahap Perkembangan Psikoseksual Anak: Oral, Anal, Phalik, Laten, dan Genital

Bisakah Penyakit OCD Dicegah?

Konsultasi
Foto: Konsultasi (Freepik.com/freepik)

Gangguan obsesif-kompulsif pada dasarnya tidak dapat dicegah.

Namun, Moms dapat meminimalisirnya dengan melakukan diagnosis dan pengobatan dini.

Hal tersebut dapat mengurangi gejala dan efeknya pada hidup penderitanya.

Memiliki salah satu dari beberapa tanda penyakit OCD di atas belum tentu membuktikan Moms menderita gangguan tersebut.

Namun, jika tanda-tanda tersebut semakin parah dan membuat Moms merasa stres atau tertekan, sebaiknya langsung konsultasikaan pada psikolog, ya.

Hal ini agar mendapatkan solusi terbaik. Ingat, jangan mendiagnosis diri sendiri, Moms!

Bagaimana Membantu Pasangan yang Memiliki OCD?

Pasangan Saling Mendukung
Foto: Pasangan Saling Mendukung (freepik.com/jcomp)

OCD tidak hanya dapat memengaruhi hidup seseorang, tapi juga pasangan yang hidup bersama dengannya.

Jika Moms memiliki pasangan yang mengidap OCD, tentu ada banyak konflik dan ketidaknyamanan yang turut Moms rasakan.

Moms mungkin merasa seperti sedang dikontrol dan dihakimi terkait hal-hal yang mungkin Moms anggap sepele. Hal ini tentu menyebabkan stres.

Namun, ingatlah bahwa ketika kita berbicara tentang hubungan, tidak selalu tentang cinta dan kebahagiaan yang sempurna.

Terkadang, Moms dihadapkan pada tantangan yang mengharuskan kita untuk belajar, tumbuh, dan mendukung satu sama lain.

Salah satu tantangan yang mungkin Moms hadapi dalam hubungan adalah berurusan dengan pasangan yang mengidap OCD.

Jika Moms sedang menghadapi masalah ini, berikut beberapa tips yang mungkin bisa membantu:

1. Edukasi Diri Sendiri Mengenai OCD

Pentingnya edukasi diri tentang OCD tidak bisa diabaikan, meski bukan Moms yang mengidap kondisi ini.

Saat memiliki pemahaman tentang gangguan ini, Moms dapat membedakan antara perilaku yang dipengaruhi oleh OCD dan perilaku yang sengaja dimanipulasi.

Hal ini memungkinkan Moms untuk mendekati situasi dengan pengertian dan kasih sayang.

Selain itu juga melatih perhatian terhadap perilaku yang mungkin terlihat mengendalikan atau tidak peduli pada pandangan awal.

2. Mengenali Perbedaan Perilaku

OCD memiliki cara tersendiri untuk memengaruhi perilaku seseorang.

Dengan pengetahuan yang tepat, Moms dapat mengidentifikasi tanda-tanda perilaku OCD, membedakannya dari perilaku normal, dan meresponsnya dengan empati.

Baca juga: 10+ Cara Agar Tidak Mudah Menangis dan Kembalikan Mood

3. Menghargai Perjuangan Pasangan

Ingatlah bahwa OCD tidak berlangsung sepanjang waktu.

Pasangan Moms mungkin mengalami episode stres yang lebih berat, di mana obsesi dan kompulsi menjadi lebih mengganggu.

Mengingatkannya bahwa ia telah berhasil melewati masa-masa sulit sebelumnya dapat memberi ia harapan dan keyakinan.

4. Terlibat dalam Perawatan OCD

Mendorong pasangan Moms untuk mendapatkan perawatan untuk OCD yang ia idap adalah langkah penting.

Sertakan diri Moms dalam sesi terapi atau dukung pasangan dalam menjalani rutinitas perawatannya.

Ini menunjukkan bahwa Moms ada di samping pasangan dan siap mendukung langkah-langkahnya menuju pemulihan.

5. Merayakan Kemajuan Kecil

Seperti penyakit pada fisik, masalah mental juga perlu waktu dan proses untuk benar-benar sembuh.

Oleh karena itu, teruslah bersabar menghadapi pasangan, dan mengakui pencapaian kecil yang ia capai.

Seperti misalnya saat ia berhasil mengatasi kompulsi atau menghadapi ketakutan.

Apresiasi kecil seperti ini dapat memberikan dorongan positif pada pasangan.

6. Tetapkan Batasan yang Sehat dalam Dukungan

Meskipun penting untuk memberikan dukungan, Moms juga perlu menjaga batasan yang sehat.

Jangan sampai perilaku Moms malah memperburuk kondisi pasangan.

Dengan berkomunikasi terbuka dan menetapkan batasan yang disepakati bersama, Moms dapat mendukung pasangan tanpa memfasilitasi perilaku yang tidak sehat.

7. Jangan Lupa Rawat Diri Sendiri

Ingatlah bahwa Moms adalah pendukung terbaik bagi pasangan saat Moms juga merasa baik secara mental.

Temukan cara-cara untuk merawat diri sendiri, seperti berjalan-jalan atau berbicara dengan ahli kesehatan mental.

Ini akan membantu Moms tetap positif dan mampu memberikan dukungan yang kuat.

Baca juga: Apakah Stres Bisa Menular? Berikut Penjelasan Lengkapnya!

8. Berbicara dengan Pasangan

Komunikasi adalah kunci. Bicarakan perasaan Moms kepada pasangan dan jangan ragu untuk berbagi bagaimana OCD yang ia idap memengaruhi Moms.

Dengan memahami perasaan masing-masing, Moms dapat membangun hubungan yang lebih kuat.

Membantu pasangan Moms yang hidup dengan OCD adalah perjalanan yang memerlukan kesabaran, pengertian, dan cinta.

Dengan berbagai tips tadi, Moms dapat membantu pasangan mengatasi tantangan OCD mereka dan membawa kebahagiaan ke dalam hubungan.

  • https://www.health.com/condition/ocd/10-signs-you-may-have-ocd
  • https://iocdf.org/about-ocd/
  • https://www.nimh.nih.gov/health/topics/obsessive-compulsive-disorder-ocd/index.shtml
  • https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/obsessive-compulsive-disorder/symptoms-causes/syc-20354432
  • https://my.clevelandclinic.org/health/diseases/9490-obsessive-compulsive-disorder#management-and-treatment
  • https://blog.ub.ac.id/sitiazizah/2015/08/19/terapi-behaviouristik-exposure-and-respon-prevention-erp/
  • https://psychcentral.com/ocd/ocd-and-spouses#how-ocd-affects-relationships

Konten di bawah ini disajikan oleh advertiser.
Tim Redaksi Orami tidak terlibat dalam materi konten ini.


FOLLOW US

facebook
twitter
instagram
spotify
tiktok

Orami Articles — Artikel Seputar Parenting, Kesehatan,
Gaya Hidup dan Hiburan

Copyright © 2024 Orami. All rights reserved.