30 Mei 2023

Mengenal Polihidramnion atau Kondisi Air Ketuban Berlebihan

Jangan panik ya, Moms

Polihidramnion adalah kondisi cairan ketuban berlebihan yang dapat menyebabkan komplikasi pada kehamilan.

Cairan ketuban berperan sebagai bantalan untuk Si Kecil dalam kandungan.

Tak hanya itu, cairan ketuban juga membantu dalam perkembangan paru-paru bayi, saluran pencernaan, dan otot.

Menurut Fetal Medicine Foundation, kondisi ini terjadi pada satu dari 100 kasus. Idealnya, dokter memeriksa kadar cairan ketuban melalui USG.

Polihidramnion terdeteksi apabila ibu saat kehamilan memiliki lingkar perut tampak lebih besar dari seharusnya.

"Pada pemeriksaan USG sejak trimester 2 sudah dapat dilihat kecurigaan untuk kelebihan air ketuban," jelas dr. M. Charnaen Ibrahim, Dokter Spesialis Kebidanan dan Kandungan RS Pondok Indah – Bintaro Jaya.

Volume normal cairan ketuban harus antara 500-1000 ml. Jika melampau ini, kemungkinan ada masalah tertentu dalam kehamilan.

Lantas, apa penyebab, dampak, dan cara mengatasinya? Yuk, simak penjelasannya di bawah ini.

Baca Juga: Kenali Oligohidramnion, Kondisi Saat Air Ketuban Terlalu Sedikit

Mengenal Polihidramnion

Ilustrasi Ibu Hamil (Orami Photo Stock)
Foto: Ilustrasi Ibu Hamil (Orami Photo Stock)

Polihidramnion adalah suatu kondisi di mana ibu hamil memiliki terlalu banyak cairan ketuban selama kehamilannya.

Melansir American Journal of Obstetrics & Gynecology, dalam USG kehamilan rutin, ada dua cara untuk mengukur jumlah cairan ketuban di dalam rahim.

Pertama adalah Amniotis Fluid Index (AFI), di mana jumlah cairan diukur dalam 5 kantung berbeda di area tertentu di dalam rahim. AFI normalnya berkisar antara 5 hingga 24 sentimeter (cm).

Kedua adalah mengukur kantung cairan terdalam di dalam rahim. Jika cairan lebih dari 8 cm dokter akan mendiagnosis sebagai polihidramnion.

Air ketuban biasanya mulai terbentuk kurang lebih 12 hari setelah terjadinya proses pembuahan.

Normalnya, air ketuban berwarna jernih kekuningan. Berikut ini perkiraan jumlah air ketuban yang normal:

  • 60 mL pada usia kehamilan 12 minggu.
  • 175 mL pada usia kehamilan 16 minggu.
  • 400-1.200 mL pada usia kehamilan 34-38 minggu.

Baca Juga: Kacang Penyebab Jerawat, Mitos atau Fakta? Yuk, Cari Tahu!

Gejala Polihidramnion

Gejala Polihidramnion (Orami Photo Stock)
Foto: Gejala Polihidramnion (Orami Photo Stock)

Ibu hamil yang mengalami polihidramnion sering kali tidak menunjukkan gejala yang dianggap berbahaya.

Karenanya, gejala ini sering dianggap sebagai masalah umum dalam kehamilan dan berakibat komplikasi.

Gejala umum polihidramnion meliputi:

Baca Juga: Malnutrisi pada Anak, dari Gejala hingga Cara Mencegahnya

Penyebab Polihidramnion

Ilustrasi Ibu Hamil (Orami Photo Stock)
Foto: Ilustrasi Ibu Hamil (Orami Photo Stock)

Ibu hamil dengan polihidramnion sering kali tidak memiliki tanda atau gejala.

Ketika gejalanya benar terjadi, Moms akan kesulitan bernapas, kontraksi prematur, atau jika polihidramnion parah maka akan nyeri di perut.

Lalu, apa penyebab polihidramnion pada ibu hamil? Berikut ulasannya.

1. Diabetes

Menurut Pusat Medis Universitas Rochester, salah satu penyebab polihidramnion adalah diabetes yang diderita selama kehamilan atau memiliki diabetes gestasional.

Diabetes gestasional biasanya dapat terjadi pada setiap tahap kehamilan, tetapi lebih sering terjadi pada trimester kedua atau ketiga.

Belum ada penelitian yang membuktikan tentang mengapa jumlah air ketuban lebih banyak saat ibu hamil menderita diabetes.

Akan tetapi hal ini bisa disebabkan karena janin yang menghasilkan lebih banyak urine karena ia menerima lebih banyak gula di plasenta.

2. Twin to Twin Syndrome

Penyebab lain polihidramnion adalah hamil dengan kembar identik yang berbagi plasenta atau sindrom transfusi kembar-ke-kembar (TTTS).

Melansir C. S. Mott Children’s Hospital Michigan Medicine, dalam kondisi langka ini, si kembar berbagi plasenta.

Bayi yang mengirim darah ke kembarannya akan memiliki lebih sedikit cairan ketuban di sekitarnya.

Akibatnya, akan ada bayi yang menerima atau memiliki volume cairan ketuban yang tinggi atau polihidramnion.

Selain itu, bayi yang terlalu banyak menerima darah membuat kerja jantung secara berlebihan sehingga dapat mengalami komplikasi jantung lainnya.

Baca Juga: 20 Makanan Menurunkan Kolesterol, Mudah Didapat!

3. Cacat Lahir

Penyebab lain polihidramnion adalah anomali kongenital seperti atresia duodenum atau kondisi yang berhubungan dengan jantung atau paru-paru (hidrops fetalis).

Data dari World Health Organization (WHO) menunjukkan bahwa, terdapat lebih dari 8 juta bayi di seluruh dunia terlahir dengan kelainan bawaan setiap tahunnya.

Dari sekian banyak bayi yang terlahir dengan kelainan kongenital atau bawaan tersebut, sekitar 300.000 bayi meninggal hanya dalam waktu beberapa hari hingga 4 minggu setelah dilahirkan.

Di Indonesia sendiri, diperkirakan ada sekitar 295.000 kasus kelainan kongenital per tahunnya dan angka tersebut sekitar 7% dari angka kematian pada bayi.

Kelainan kongenital dapat terjadi dalam setiap fase kehamilan.

Namun, sebagian besar kasus kelainan bawaan terjadi pada trimester pertama kehamilan, yaitu saat organ tubuh janin baru mulai terbentuk.

4. Penyumbatan di Usus Bayi

Penyebab lain polihidramnion adalah terjadi penyumbatan usus pada bayi di dalam kandungan.

Selama di dalam rahim, janin terus-menerus menelan cairan ketuban.

Ketika penyumbatan terjadi tinggi di usus, janin tidak dapat menyerap semua cairan ketuban yang tertelan sehingga terjadi polihidramnion.

Polihidramnion yang parah dapat meningkatkan risiko kelahiran prematur.

5. Anemia pada Janin

Penyebab lain polihidramnion adalah anemia pada janin.

Anemia janin terjadi karena jumlah sel darah merah dan hemoglobin di dalam janin berada di bawah kadar normal.

Hemoglobin berfungsi membawa oksigen dan sel darah merah penting untuk menjaga fungsi normal darah.

Sebuah penelitian American Journal of Obstetrics & Gynecology, membuktikan bahwa, saat hematokrit janin turun di bawah sekitar 25%, volume cairan ketuban mulai meningkat.

Dengan derajat anemia yang lebih besar, volume cairan ketuban meningkat mendekati 2000 ml.

Baca Juga: 17 Makanan Penunda Lapar, Ampuh Bikin Kenyang Lebih Lama

6. Faktor Lainnya

Mengutip Mayo Clinic, penyebab polihidramnion pada janin lainnya termasuk hal-hal berikut ini:

  • Cacat lahir yang mempengaruhi saluran pencernaan bayi atau sistem saraf pusat.
  • Sindrom transfusi kembar, (kemungkinan komplikasi dari kehamilan kembar identik, di mana satu kembar menerima terlalu banyak darah dan yang lainnya terlalu sedikit).
  • Ketidakcocokan darah antara ibu dan bayi.

Dampak Polihidramnion pada Janin

Ilustrasi Ibu Hamil
Foto: Ilustrasi Ibu Hamil (thebump.com)

Jika polihidramnion pada janin terjadi dalam tingkat ringan, biasanya tidak menyebabkan komplikasi.

Tetapi dalam kasus yang parah, ada risiko tertentu, termasuk:

Risiko ini akan bervariasi berdasarkan seberapa lama masa kehamilan dan seberapa parah kondisinya.

Secara umum, semakin parah polihidramnion pada janin, semakin tinggi risiko komplikasi selama kehamilan atau persalinan.

Baca Juga: Air Ketuban Keruh Jangan Dibiarkan, Ini Solusi untuk Moms!

Cara Mengatasi Polihdramnion

Ilustrasi Ibu Hamil (Orami Photo Stock)
Foto: Ilustrasi Ibu Hamil (Orami Photo Stock)

Polihidramnion jarang membutuhkan perawatan apa pun.

Namun, USG terjadwal dilakukan untuk memonitor secara cermat indeks cairan ketuban dan kesehatan bayi.

Jarang terjadi tetapi dalam kasus polihidramnion yang parah.

Beberapa perawatan dapat direkomendasikan untuk mengurangi tingkat cairan ketuban.

Selalu pantau apabila mengalami gejala dengan sesak napas atau tanda dan gejala kontraksi dini.

Pilihan pengobatan mungkin berbeda tergantung pada faktor-faktor tertentu seperti keparahan kondisi, penyebabnya, gejala, dan usia kehamilan.

Walaupun begitu, berikut ini perawatan yang biasanya dilakukan pada ibu hamil dengan polihidramnion:

1. Mengonsumsi Obat-Obatan

Berdasarkan penyebab kelebihan cairan ketuban di dalam rahim, dokter kandungan meresepkan obat untuk mengurangi cairan.

Misalnya, polihidramnion disebabkan oleh kondisi janin, maka obat untuk mengobati kondisi itu ditentukan.

Tentunya, ini akan menyesuaikan level cairan ketuban tersebut.

2. Amnioreduksi

Cara mengatasi polihidramnion adalah melakukan amnioreduksi.

Dalam prosedur ini, dokter memasukkan jarum ke dalam rahim untuk mengalirkan kelebihan cairan ketuban.

Prosedur ini dapat menyebabkan sedikit ketidaknyamanan di perut.

3. Persalinan Dini

Dalam kasus komplikasi yang tampaknya berisiko bagi kesehatan ibu atau bayi, cara mengatasi polihidramnion adalah melakukan persalinan dini.

Kasus polihidramnion yang parah dapat meningkatkan risiko persalinan prematur, solusio plasenta, infeksi, dan kelahiran mati.

Tetapi diagnosis dan perawatan yang tepat pada waktunya dapat membantu mengurangi risiko ini.

"Keterlambatan untuk terapi sesuai penyebab terjadinya polihidramnion, akan berdampak pada munculnya infeksi, diabetes, atau memang adanya kelainan sirkulasi organ janin," kata dr. Ibrahim.

Pemeriksaan rutin selama kehamilan sangat penting untuk setiap ibu hamil.

Ini membantu dalam mencari tahu masalah sejak dini, memberikan cukup waktu untuk mengelola masalah.

Baca Juga: Moms, Waspada Emboli Air Ketuban yang Bisa Mengancam Jiwa!

4. Hilang dengan Sendirinya

Mengutip March of Dimes, dalam banyak kasus, kondisi polihidramnion pada janin yang ringan akan hilang dengan sendirinya.

Ada juga yang akan menghilang ketika penyebabnya diperbaiki.

Misalnya, jika detak jantung bayi yang menyebabkan masalah, maka penyedia layanan kesehatan dapat memberikan obat untuk memperbaikinya.

Baca Juga: 5 Ciri Air Ketuban Rembes, Umumnya Terjadi Jelang Persalinan dan Tidak Terasa Nyeri!

Karena polihidramnion bukan kondisi yang umum, tidak perlu terlalu khawatir tentang hal itu.

Bahkan jika dokter kandungan mencurigai atau mendiagnosis Moms dengan kondisi tersebut, perawatan yang tepat waktu dapat membantu meminimalkan risiko.

Segera lakukan pemeriksaan cairan ketuban dengan rutin setiap bulannya ya, Moms!

  • https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/10601942/
  • https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC3964358/
  • https://fetalmedicine.org/education/fetal-abnormalities/amniotic-fluid/polyhydramnios
  • https://www.urmc.rochester.edu/encyclopedia/content.aspx
  • https://www.who.int/news-room/fact-sheets/detail/congenital-anomalies
  • https://www.kemkes.go.id/article/view/16030300002/inilah-hasil-surveilans-kelainan-bawaan-.html
  • https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/polyhydramnios/symptoms-causes/syc-20368493
  • https://www.marchofdimes.org/find-support/topics/planning-baby/polyhydramnios

Konten di bawah ini disajikan oleh advertiser.
Tim Redaksi Orami tidak terlibat dalam materi konten ini.


FOLLOW US

facebook
twitter
instagram
spotify
tiktok

Orami Articles — Artikel Seputar Parenting, Kesehatan,
Gaya Hidup dan Hiburan

Copyright © 2024 Orami. All rights reserved.