Kesehatan

18 Januari 2021

Yuk Moms, Cari Tahu Serba-serbi Tentang Kanker Payudara Berikut Ini

Mulai dari gejala, hingga pengobatannya
placeholder
placeholder
Artikel ditulis oleh Lolita
Disunting oleh Amelia Puteri

Sebagai perempuan, membekali diri dengan pengetahuan soal kanker payudara adalah hal terpenting.

Sebab, kanker ini adalah salah satu kanker yang paling umum menyerang wanita. Meskipun tak menutup kemungkinan juga menyerang pria, tapi diketahui lebih banyak menyerang wanita.

Dukungan substansial untuk sadar diri tentang bahaya dan penanganan kanker payudara adalah hal penting untuk dilakukan.

Terlebih kini, mengutip Centers for Disease Control and Prevention (CDC), bahwa tingkat kelangsungan hidup kanker payudara telah meningkat, dan jumlah kematian yang terkait dengan penyakit ini terus menurun, sebagian besar karena faktor-faktor seperti deteksi dini, pendekatan pengobatan baru yang dipersonalisasi dan pemahaman yang lebih baik tentang penyakit ini.

Seseorang dapat dikatakan terkena kanker apabila terjadi perubahan atau mutasi pada gen yang mengatur pertumbuhan sel. Hal ini membuat sel berkembang biak dan membelah diri secara tidak terkendali.

Dalam penelitian pada jurnal Clinical Breast Cancer, kanker payudara adalah kanker yang berkembang di area sel payudara.

Biasanya, kanker terbentuk di lobulus atau saluran payudara. Lobulus adalah kelenjar yang menghasilkan susu, dan duktus adalah jalur yang membawa susu dari kelenjar ke puting.

Kanker juga dapat terjadi di jaringan lemak atau jaringan ikat fibrosa di dalam payudara, Moms.

Sel kanker yang tidak terkontrol seringkali menyerang jaringan payudara sehat lainnya dan dapat berpindah ke kelenjar getah bening di bawah ketiak.

Padahal, kelenjar getah bening adalah jalur utama yang membantu sel kanker berpindah dari bagian tubuh lainnya.

Yuk, kenali segala hal tentang kanker payudara berikut ini, Moms.

Baca Juga: Benarkah Kontrasepsi Hormonal Tingkatkan Risiko Kanker Payudara?

Ciri-ciri Kanker Payudara

kanker payudara

Foto: Orami Photo Stocks

Meskipun tak kasat mata, namun ada ciri-ciri kanker payudara yang harus dicermati.

Beberapa pasien kanker payudara tak menyadari dirinya sedang menderita kanker hingga akhirnya didiagnosa menderita kanker stadium akhir.

Hal ini bisa terjadi karena banyak orang mengabaikan ciri-ciri kanker payudara.

Nah, agar Moms lebih waspada, berikut ciri-cirinya dikutip dari Mayo Clinic.

  • Perubahan bentuk puting.
  • Nyeri payudara yang tidak kunjung hilang setelah haid.
  • Benjolan baru yang tidak hilang setelah menstruasi.
  • Keluarnya cairan dari salah satu payudara yang bening, merah, coklat, atau kuning.
  • Kemerahan yang tidak dapat dijelaskan, bengkak, iritasi kulit, gatal, atau ruam pada payudara.
  • Bengkak atau benjolan di sekitar tulang selangka atau di bawah lengan.
  • Benjolan yang keras dengan tepi tidak beraturan lebih cenderung bersifat kanker.

Baca Juga: Benjolan Mana yang Perlu Dicurigai sebagai Kanker Payudara?

Gejala-gejala Kanker Payudara

kanker payudara

Foto: Orami Photo Stocks

Selain ciri-ciri di atas yang harus diwaspadai, ada beberapa gejala lain yang juga tak boleh luput dari perhatian Moms.

Sebab, gejala-gejala ini menunjukkan bahwa kanker payudara yang terdapat dalam tubuh sedang dalam keadaan parah dan harus segera diobati.

Berikut gejala-gejala kanker payudara menurut penelitian dalam jurnal Cancer Epidemiology.

  • Retraksi, atau puting susu ke dalam
  • Pembesaran satu payudara
  • Lesung pipit pada permukaan payudara
  • Benjolan semakin besar
  • Tekstur "kulit jeruk" pada kulit
  • Nyeri vagina
  • Penurunan berat badan yang tidak disengaja
  • Pembesaran kelenjar getah bening di ketiak
  • Vena terlihat di payudara

Meskipun jika Moms mengalami beberapa gejala di atas belum tentu mengindikasikan bahwa Moms mengidap kanker payudara, namun Moms harus segera menemui dokter spesialis untuk mengetahui penanganan lebih lanjut.

Baca Juga: 10 Fakta Seputar Kanker Payudara Yang Perlu Mama Tahu

Penyebab Kanker Payudara

Ada banyak hal yang menyebabkan seseorang mengidap kanker jenis ini. Bahkan hingga kini, peneliti dan medis masih belum memahami secara pasti apa penyebab kanker yang dialami oleh wanita.

Sebab, setiap orang memiliki gejala dan faktor-faktor yang berbeda-beda terkait penyakit mematikan tersebut. Namun, ada faktor risiko yang diketahui memengaruhi kemungkinan Moms terkena kanker payudara. Berikut penjelasannya.

1. Usia

kanker payudara

Foto: Orami Photo Stocks

Risiko terkena kanker jenis ini meningkat seiring bertambahnya usia. Kondisi ini paling sering terjadi pada wanita di atas usia 50 tahun yang telah mengalami menopause.

Sekitar 8 dari 10 kasus kanker payudara terjadi pada wanita di atas 50 tahun.

Oleh karena itu, jika Moms atau anggota keluarga lainnya berusia 50 tahun hingga 70 tahun diharapkan melakukan screening kanker payudara setiap 3 tahun sekali sebagai bagian untuk menjaga diri dari bahaya kanker ini.

Selain itu, untuk mendapatkan penanganan yang lebih cepat dari dokter jika ternyata timbul gejala-gejala atau ciri-ciri kanker jenis ini dalam tubuh.

2. Keturunan

Jika Moms memiliki kerabat dekat yang pernah menderita kanker payudara atau kanker ovarium, maka ada kemungkinan Moms memiliki risiko yang lebih tinggi terkena kanker jenis ini.

Namun, karena jenis kanker ini yang paling umum terjadi pada wanita, kemungkinan kanker terjadi pada lebih dari satu anggota keluarga secara kebetulan.

Menurut penelitian berjudul Genetics of breast cancer: a topic in evolution, sebagian besar kasus kanker ini tidak diturunkan dalam keluarga, tetapi gen yang dikenal sebagai BRCA1 dan BRCA2 dapat meningkatkan risiko Moms terkena kanker payudara dan ovarium.

Umumnya, gen ini diturunkan dari orang tua ke anaknya. Gen TP53 dan CHEK2, juga dikaitkan dengan peningkatan risiko kanker payudara.

Segeralah bertemu dan memeriksakan diri ke dokter apabila Moms memiliki riwayat kanker payudara atau ovarium di keluarga dan dikhawatirkan Moms juga mengalami hal serupa.

Biasanya, dokter akan meminta Moms untuk melakukan tes genetik yakni tes yang akan memberi tahu apakah Moms mewarisi salah satu gen risiko kanker tersebut.

Baca Juga: Ini Biaya yang Bisa Dihemat Jika Kanker Payudara Terdeteksi Sejak Dini

3. Pernah Mengidap Kanker Payudara Sebelumnya

kanker payudara

Foto: Orami Photo Stocks

Apabila Moms sebelumnya sebelumnya pernah menderita kanker payudara atau perubahan sel kanker non-invasif dini di saluran payudara, maka Moms memiliki risiko lebih tinggi untuk menyebarkan sel-sel kanker tersebut di area yang sama pada saat Moms mengidap kanker atau di bagian payudara lainnya.

Meskipun jika Moms menemukan benjolan payudara jinak, bukan berarti itu adalah kanker namun benjolan tertentu tetap dapat meningkatkan risiko terkena kanker.

Beberapa perubahan jinak di jaringan payudara, seperti sel yang tumbuh tidak normal di saluran (hiperplasia duktal atipikal), atau sel abnormal di dalam lobus payudara (karsinoma lobular in situ), dapat membuat kanker ini lebih mungkin terjadi.

4. Jaringan Payudara Padat

Payudara terdiri dari ribuan kelenjar kecil (lobulus) yang menghasilkan susu. Jaringan kelenjar ini mengandung konsentrasi sel payudara yang lebih tinggi daripada jaringan payudara lainnya, sehingga lebih padat.

Wanita dengan jaringan payudara padat mungkin memiliki risiko lebih tinggi terkena kanker payudara karena ada lebih banyak sel yang bisa berubah menjadi kanker.

Jaringan payudara yang padat juga dapat membuat pemindaian payudara (mammogram) sulit untuk dibaca, karena gumpalan atau area jaringan abnormal lebih sulit untuk dilihat.

Wanita berusia belasan hingga 30 tahunan cenderung memiliki payudara yang lebih padat.

Seiring bertambahnya usia, jumlah jaringan kelenjar di payudara berkurang dan digantikan oleh lemak, sehingga payudara menjadi tidak padat dan risiko terkena kanker payudara lebih rendah.

Baca Juga: IUD, Kontrasepsi Aman untuk Wanita Tinggi Resiko Kanker Payudara

5. Pil kontrasepsi

kanker payudara

Foto: Orami Photo Stocks

Penelitian menunjukkan bahwa wanita yang mengonsumsi pil kontrasepsi memiliki sedikit peningkatan risiko terkena kanker payudara.

Namun, risikonya mulai menurun setelah berhenti minum pil, dan risiko kanker jenis ini kembali normal.

6. Kelebihan Berat Badan atau Obesitas

Apabila Moms telah memasuki masa menopause dengan kondisi tubuh kelebihan berat badan atau obesitas maka risiko terkena kanker payudara lebih besar.

Dalam penelitian pada jurnal Current Oncology Reports, hal ini diduga terkait dengan jumlah estrogen dalam tubuh karena kelebihan berat badan atau obesitas setelah menopause menyebabkan lebih banyak estrogen diproduksi.

Baca Juga: Kata Siapa Pria Tak Bisa Terkena Kanker Payudara? Kenali Gejala dan Faktor Pemicunya!

7. Alkohol

kanker payudara

Foto: Orami Photo Stocks

Minum alkohol meningkatkan risiko terkena kanker apapun, termasuk payudara.

Orang yang minum alkohol dalam jumlah kecil secara teratur memiliki risiko lebih besar terkena kanker payudara daripada orang yang tidak minum alkohol sama sekali.

Semakin banyak alkohol yang diminum semakin besar risiko terkena kanker jenis ini.

8. Radiasi

Prosedur medis tertentu yang menggunakan radiasi, seperti sinar-X dan CT scan, dapat sedikit meningkatkan risiko terkena kanker payudara.

Misalnya, ketika Moms menjalani radioterapi di area dada untuk limfoma Hodgkin, seharusnya sudah menerima surat dari pihak berwenang untuk melakukan konsultasi lebih dulu dengan spesialis untuk membahas peningkatan risiko terkena kanker.

Baca Juga: Bolehkah Penderita Kanker Payudara Menyusui Bayi?

Cara Mengobati Kanker Payudara

Cara mengobati kanker tergantung pada diagnosa kanker dan stadiumnya.

Penderita kanker tahap awal biasanya harus menjalani pemeriksaan rutin, tapi apabila kanker tersebut telah memiliki gejala yang serius maka perawatan yang dibutuhkan pun berbeda.

Penting untuk mendiskusikan jenis pengobatan untuk kanker payudara dengan dokter maupun perawat ya, Moms. Nah, berikut ini beberapa cara mengobati kanker jenis ini.

1. Operasi Konservasi Payudara

Operasi untuk melindungi payudara berkisar dari lumpektomi atau eksisi lokal yang luas, di mana tumor dan sedikit jaringan payudara di sekitarnya diangkat, hingga mastektomi parsial atau kuadrantektomi, yakni pengangkatan hingga seperempat payudara.

Apabila Moms menjalani operasi konservasi payudara, jumlah jaringan payudara yang diangkat akan bergantung pada:

  • Jenis kanker yang diderita
  • Ukuran tumor dan lokasi tumor di payudara
  • Jumlah jaringan di sekitar tumor yang harus dibuang
  • Ukuran payudara

Dokter akan mengangkat jaringan jaringan payudara yang sehat di sekitar tumor, untuk diuji coba apakah tumor tersebut menyebar hingga area lainnya?

Apabila hasilnya tidak ada kanker di jaringan yang sehat, maka kemungkinan untuk sembuh dari kanker semakin besar.

Namun, apabila jaringan kanker ditemukan pada jaringan yang sehat, maka perlu tindakan pembedahan lainnya.

Setelah menjalani operasi konservasi payudara, biasanya Moms akan ditawarkan radioterapi untuk menghancurkan sel kanker yang tersisa.

Baca Juga: 4 Jenis Benjolan yang Ternyata Bukan Kanker Payudara

2. Mastektomi

kanker payudara

Foto: Orami Photo Stocks

Dalam penelitian berjudul Avicenna Journal of Medicine, mastektomi adalah pengangkatan semua jaringan payudara, termasuk puting.

Jika tidak ada tanda-tanda yang jelas bahwa kanker telah menyebar ke kelenjar getah bening, besar kemungkinan Moms akan menjalani mastektomi yakni payudara diangkat bersama dengan biopsi kelenjar getah bening sentinel.

Namun, jika kanker telah menyebar ke kelenjar getah bening, maka memerlukan pengangkatan (pembersihan) kelenjar getah bening yang lebih ekstensif dari area di bawah lengan (ketiak).

3. Rekonstruksi

Setelah menjalani mastektomi, langkah berikutnya ialah melakukan rekonstruksi payudara yakni pembedahan untuk membuat bentuk payudara baru yang terlihat semirip mungkin dengan payudara asli.

Rekonstruksi dapat dilakukan bersamaan dengan mastektomi (rekonstruksi segera), atau dapat dilakukan kemudian (rekonstruksi tertunda).

Rekonstruksi ini dilakukan dengan cara memasukkan implan payudara atau dengan menggunakan jaringan dari bagian lain untuk membuat payudara baru.

Baca Juga: Mitos Atau Fakta, Sering Makan Daging Merah Timbulkan Kanker Payudara?

4. Radioterapi

kanker payudara

Foto: Orami Photo Stocks

Radioterapi menggunakan dosis radiasi terkontrol untuk membunuh sel kanker. Biasanya diberikan setelah operasi dan kemoterapi untuk membunuh sel kanker yang tersisa.

Apabila Moms membutuhkan radioterapi dalam perawatan sel kanker, biasanya dapat dilakukan setelah 1 bulan operasi atau kemoterapi agar memberikan kesempatan pada tubuh untuk pulih sebelum melakukan perawatan berikutnya.

Radioterapi ini biasanya dilakukan sebanyak 3 sampai 5 hari seminggu, selama 3 sampai 5 minggu. Setiap sesi akan berlangsung beberapa menit.

5. Kemoterapi

Kemoterapi melibatkan penggunaan obat anti kanker (sitotoksik) untuk membunuh sel kanker. Biasanya digunakan setelah operasi untuk menghancurkan sel kanker yang belum diangkat.

Ini disebut kemoterapi adjuvan. Dalam beberapa kasus, pasien penderita kanker payudara menjalani kemoterapi sebelum operasi untuk mengecilkan tumor besar. Ini disebut kemoterapi neo-adjuvan.

Kemoterapi biasanya diberikan sebagai pengobatan rawat jalan, yang berarti pasien tak perlu menginap di rumah sakit.

Obat-obatan selama kemoterapi diberikan melalui infus langsung ke pembuluh darah.

Meski begitu, kemoterapi memiliki beberapa efek samping seperti infeksi, kehilangan selera makan, kelelahan, rambut rontok, mulut sakit dan lainnya.

Baca Juga: Harus Tahu, Ini 3 Perbedaan Tumor Payudara dan Kanker Payudara

6. Pengobatan Hormon

kanker payudara

Foto: Orami Photo Stocks

Beberapa kanker payudara tumbuh akibat rangsangan dari hormon estrogen atau progesteron, yang ditemukan secara alami di tubuh manusia. Ini dikenal sebagai kanker reseptor-positif hormon.

Terapi hormon menurunkan kadar hormon estrogen atau progesteron dalam tubuh atau menghentikannya.

Jenis terapi hormon yang dipilih akan bergantung pada stadium dan tingkat kanker, hormon mana yang sensitif terhadapnya, usia, menopause, dan jenis pengobatan lain yang dijalani.

Terapi hormon dapat digunakan sebagai satu-satunya pengobatan untuk kanker payudara jika kesehatan menghalangi untuk menjalani operasi, kemoterapi atau radioterapi.

7. Jaga Berat Badan Tetap Ideal

Seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya bahwa salah satu penyebab kanker payudara adalah obesitas dan ada baiknya untuk menjaga berat badan tetap ideal untuk mengurangi risiko kanker atau memperburuk kondisi kankernya.

Moms bisa menjaga berat badan tetap ideal dengan cara rutin berolahraga, mengurangi jumlah asupan kalori, dan makan makanan sehat.

Baca Juga: Selain Kemoterapi, Inilah Pengobatan Kanker Payudara yang Bisa Dilakukan

8. Atur Pola Makan

kanker payudara

Foto: Orami Photo Stocks

Diet mediterania dengan mengonsumsi kacang-kacangan, makanan tinggi protein, rendah lemak, bisa jadi salah satu opsi untuk memulai gaya hidup sehat Moms.

Selain itu, konsumsi buah-buahan, sayuran, dan kurangi makan makanan junk food merupakan langkah yang baik untuk mengatur pola makan.

Itulah ciri-ciri, gejala, penyebab, hingga cara mengobati kanker payudara.

Apabila Moms mengalami beberapa ciri dan gejala ataupun merasa bahwa ada perubahan yang tidak wajar pada payudara sebaiknya segera memeriksakan diri ke dokter spesialis untuk mendapatkan penanganan yang tepat.

Produk Rekomendasi

TOOLS PARENTING

Komentar

Yuk, ngobrol dan sharing pendapat dengan moms lainnya.

member-image

Beri Komentar...

Artikel Terkait