21 Desember 2022

Kekurangan Zat Besi: Gejala, Penyebab, Komplikasi, dan Cara Mengatasi

Kekurangan zat besi dapat menyebabkan anemia defisiensi besi
Kekurangan Zat Besi: Gejala, Penyebab, Komplikasi, dan Cara Mengatasi

Foto: Orami Photo Stocks

Moms pasti pernah mengalami tubuh lemas hingga tidak bisa melakukan aktivitas? Hal ini mungkin terjadi karena anemia atau tubuh kekurangan zat besi.

Anemia terjadi ketika kadar hemoglobin (sel darah merah) dalam tubuh mengalami penurunan.

Hemoglobin adalah protein dalam sel darah merah yang bertanggung jawab untuk membawa oksigen ke jaringan.

Mari ketahui bersama serba-serbi penyakit ini mulai dari gejala, hingga cara pengobatan yang tepat.

Baca Juga: Obat Sakit Kepala untuk Ibu Menyusui Berbahan Kimia dan Alami yang Aman

Anemia Defisiensi Zat Besi

Defisiensi Zat Besi
Foto: Defisiensi Zat Besi (Orami Photo Stock)

Anemia defisiensi besi adalah jenis anemia yang paling umum. Adapun ini terjadi ketika tubuh tidak memiliki cukup zat besi.

Umumnya, tubuh membutuhkan zat besi untuk membuat hemoglobin atau sel darah merah.

Ketika kekurangan zat besi dalam aliran darah, tubuh mungkin tidak dapat memperoleh jumlah oksigen sesuai kebutuhan.

"Bayi merupakan populasi yang paling berisiko mengalami terjadinya kekurangan zat besi" terang dr. Rosary, Sp.A, Dokter Spesialis Anak, RS Pondok Indah – Pondok Indah.

Hal ini karena bayi mengalami proses pertumbuhan yang sangat cepat.

Pada orang dewasa, gejalanya mungkin sulit untuk diketahui. Mungkin terjadi selama bertahun-tahun tanpa pernah mengetahui penyebabnya.

Pada wanita usia subur, penyebab paling umum dari anemia defisiensi besi adalah hilangnya zat besi dalam darah akibat menstruasi yang berat atau kehamilan.

Pola makan yang buruk atau penyakit pencernaan tertentu, juga dapat menyebabkan anemia defisiensi zat besi.

Dokter biasanya mengobati kondisi tersebut dengan suplemen zat besi atau perubahan pola makan.

Baca Juga: Manfaat Taoge untuk Kesuburan Pria dan Wanita, Baik untuk Promil!

Gejala Kekurangan Zat Besi

Gejala Kekurangan Zat Besi (Orami Photo Stock)
Foto: Gejala Kekurangan Zat Besi (Orami Photo Stock)

Gejala anemia defisiensi hampir sama dengan kekurangan zat besi pada umumnya.

Menurut American Society of Hematology (ASH), kebanyakan orang tidak menyadari bahwa mereka mengalami anemia ringan sampai mereka melakukan tes darah rutin.

Pada pria, anemia biasanya didefinisikan sebagai kadar sel darah merah kurang dari 13,5 gram/100 ml. Sedangkan pada wanita, sel darah merah kurang dari 12,0 gram/100 ml.

Beberapa gejala kekurangan zat besi yang sering terlihat, yakni:

"Apabila Si Kecil sampai mengalami anemia yang cukup rendah, seringnya keluhan yang dirasakan yakni pusing, sesak napas, dan dada berdebar-debar," jelas dr. Rosary.

Baca Juga: 5 Penyakit Keturunan dari Ayah ke Anak, Wajib Tahu!

Penyebab Kekurangan Zat Besi

Ilustrasi Kekurangan Zat Besi (Orami Photo Stock)
Foto: Ilustrasi Kekurangan Zat Besi (Orami Photo Stock)

Ada beberapa faktor yang dapat menyebabkan anemia defisiensi besi terjadi. Berikut beberapa penyebab dari kekurangan zat besi, antara lain:

1. Asupan Zat Besi Tidak Terpenuhi

Konsumsi makanan dengan kandungan zat besi rendah dalam waktu yang lama, dapat menyebabkan tubuh kekurangan darah merah.

Karenanya perlu mengonsumsi makanan tinggi zat besi seperti:

  • Daging
  • Telur
  • Beberapa sayuran berdaun hijau

Perlu diketahui Moms, zat besi sangat penting untuk ibu hamil dan anak-anak di masa pertumbuhan.

Jadi, perlu perhatikan asupan makanan sehari-hari yang dapat meningkatkan kadar sel darah merah dalam tubuh.

2. Siklus Menstruasi

Tak heran jika anemia defisiensi besi sering terjadi pada wanita dibandingkan laki-laki. Hal ini karena menstruasi berat dapat menjadi faktor terbesarnya.

Kekurangan zat besi mungkin akan dialami oleh Moms yang mengalami perdarahan selama menstruasi.

Menurut Centers for Disease Control and Prevention perdarahan menstruasi biasanya berlangsung selama 4 hingga 5 hari.

Umumnya, takaran jumlah darah yang hilang berkisar antara 2 hingga 3 sdm.

Lamanya waktu menstruasi juga lebih lama, yakni lebih dari 7 hari.

3. Perdarahan di Perut

Kondisi medis tertentu dapat menyebabkan perdarahan internal, yang dapat menyebabkan anemia defisiensi besi.

Misalnya, saat Moms sedang menderita maag, polip di usus besar atau usus, dan kanker usus besar.

Selain itu, penggunaan pereda nyeri, seperti aspirin, juga dapat menyebabkan pendarahan di perut.

4. Ketidakmampuan untuk Menyerap Zat Besi

Gangguan atau operasi tertentu yang memengaruhi usus juga dapat mengganggu cara tubuh saat menyerap zat besi.

Biasanya, Moms akan mengalami kekurangan zat besi walaupun sudah konsumsi makanan yang kaya akan nutrisi penting ini.

Kondisi ini biasanya terjadi karena tubuh menderita penyakit celiac atau operasi usus seperti bypass lambung.

Hal ini dapat membatasi jumlah zat besi yang dapat diserap oleh tubuh.

Baca Juga: 13 Cara Mengatasi Migrain Secara Alami, Yuk Coba Moms!

5. Endometriosis

Jika seorang wanita menderita endometriosis, kemungkinan akan mengalami kehilangan darah yang sangat banyak.

Mengutip dalam Mayo Clinic, gejala dari endometriosis meliputi:

Seringnya, sejumlah wanita tidak menyadari mengalami penyakit ini sebelum melakukan pemeriksaan fisik melalui USG.

6. Kurang Gizi Saat Hamil

Menurut dokter Rosary, anemia defiensi besi sering dialami bayi karena pengaruh nutrisi yang dikonsumsinya.

Adapun, hal ini ketika ibu hamil tiidak mendapatkan nutrisi yang cukup untuk Si Kecil.

Apabila seorang ibu jarang mengonsumsi makanan kaya zat besi atau tidak teratur minum tablet zat besi, bayi akan lebih rentan mengalami hal ini.

Karenanya, ini juga perlu diimbangi dengan suplemen kesehatan untuk ibu hamil.

7. Bayi Kembar dan Prematur

Diketahui bayi yang lahir kurang bulan (prematur) berisiko mengalami kekurangan zat besi. Hal ini pun berlaku bagi bayi kembar.

Umumnya, mereka memiliki cadangan sel darah merah lebih sedikit, sehingga berisiko terjadi anemia defisiensi besi.

Adapun faktor lain yang dapat menyebabkan kekurangan zat besi, antara lain:

  • Alergi protein susu sapi
  • Malabsorpsi (gangguan penyerapan di saluran cerna)

"Infeksi berulang yang terjadi dalam tubuh juga menjadi faktor penyebab lainnya," terang dr. Rosary.

Baca Juga: Leher Terasa Tercekik hingga Sesak Napas? Cari Tahu Penyebab dan Cara Mengatasinya!

8. Wanita Hamil

Menurut National Heart, Lung, and Blood Institute, diperkirakan 20% wanita usia subur mengalami anemia defisiensi besi.

Wanita hamil bahkan lebih mungkin mengalami kekurangan zat besi.

Hal ini karena mereka membutuhkan lebih banyak darah untuk mendukung pertumbuhan bayinya.

Tak hanya itu, ini mungkin akan dialami oleh wanita yang baru saja melahirkan. Karena pada saat itu, tubuh juga akan kehilangan banyak darah.

9. Fibroid Rahim

Kehamilan, perdarahan menstruasi yang signifikan, dan fibroid rahim adalah alasan mengapa wanita memiliki risiko lebih besar mengalami anemia defisiensi besi.

Pemeriksaan ultrasonografi (USG) di panggul dapat membantu dokter mencari sumber perdarahan berlebih.

Seperti anemia defisiensi besi, fibroid rahim sering kali tidak menimbulkan gejala.

Penyakit ini terjadi ketika tumor otot tumbuh di dalam rahim.

Meskipun biasanya tidak bersifat kanker, namun dapat menyebabkan perdarahan menstruasi yang banyak yang dapat menyebabkan anemia defisiensi besi.

Baca Juga: Penyebab Perut Buncit dan 12 Cara Mengatasinya, Catat Moms!

Komplikasi Akibat Kekurangan Zat Besi

Kekurangan Zat Besi (Orami Photo Stock)
Foto: Kekurangan Zat Besi (Orami Photo Stock) (Orami Photo Stocks)

Sebagian besar kasus anemia defisiensi besi ringan dan tidak menimbulkan komplikasi.

Kondisi tersebut biasanya dapat diperbaiki dengan mudah.

Namun, jika anemia atau kekurangan zat besi tidak ditangani, dapat menyebabkan masalah kesehatan lainnya, seperti:

1. Detak Jantung Tidak Teratur

Saat anemia, jantung harus memompa lebih banyak darah untuk mengganti jumlah oksigen yang rendah.

Hal ini dapat menyebabkan detak jantung tidak teratur. Dalam kasus yang parah, dapat menyebabkan gagal jantung atau pembengkakan di organ jantung.

2. Komplikasi Kehamilan

Dalam kasus defisiensi zat besi yang parah, seorang anak mungkin lahir prematur atau dengan berat lahir rendah.

Sebagian besar wanita hamil mengonsumsi suplemen zat besi sebagai bagian dari perawatan pranatal untuk mencegah hal ini terjadi.

3. Pertumbuhan Bayi dan Anak Terhambat

"Besi adalah suatu mikronutrien yang diperlukan untuk pembentukan sel darah merah," jelas dr. Rosary.

Ketika ini tidak tercukupi, akan mempengaruhi tumbuh kembang seseorang, terutama pada anak-anak.

Bayi dan anak-anak yang sangat kekurangan zat besi mungkin mengalami keterlambatan pertumbuhan dan perkembangan.

Mereka mungkin juga lebih rentan terhadap infeksi.

Baca Juga: Manfaat dan Efek Samping Fluoride untuk Kesehatan Gigi

4. Kecerdasan Menurun

Zat besi juga berperan dalam sistem kekebalan tubuh, proses perkembangan saraf otak, dan metabolisme.

Sehingga, kekurangan zat besi dapat berdampak negatif terhadap kecerdasan, perilaku, dan perkembangan kemampuan anak.

Selain itu, anak juga berisiko lebih sulit fokus ketika proses belajar ataupun sekolah.

5. Depresi atau Cemas

Kerusakan saraf menjadi salah satu komplikasi lain akibat kekurangan zat besi.

Beberapa bentuk anemia defiensi besi seperti anemia pernisiosa dapat menyebabkan depresi.

Hal ini membuat sejumlah orang juga mengalami kecemasan berlebih ketika melakukan sesuatu.

6. Sindrom Kaki Gelisah

Sindrom kaki gelisah, juga disebut penyakit Willis-Ekbom, adalah komplikasi dari anemia defisiensi besi pada umumnya.

Ini adalah kondisi sistem saraf yang menyebabkan dorongan tak tertahankan untuk menggerakkan kaki,

Dorongan ini biasanya dirasakan pada sore dan malam hari.

Apakah Moms salah satu yang sedang mengalami ini?

Cara Mengatasi Anemia Defisiensi Besi

Makanan Mengandung Zat Besi
Foto: Makanan Mengandung Zat Besi (Medicalnewstoday.com)

Cara mengatasi anemia karena kekurangan zat besi ada berbagai bentuk.

Mulai dari penambahan suplemen zat besi hingga mengobati masalah perdarahan itu sendiri.

Berikut cara mengatasi anemia defisiensi yang perlu Moms ketahui:

1. Konsumsi Suplemen Penambah Zat Besi

Tablet zat besi dapat membantu memulihkan kadar zat besi dalam tubuh.

Jika memungkinkan, Moms harus minum tablet zat besi saat perut kosong, yang membantu tubuh menyerapnya dengan lebih baik.

Namun apabila merasa tidak kuat, sebaiknya mengonsumsi suplemen penambah zat besi setelah makan.

Moms mungkin perlu mengonsumsi suplemen selama beberapa bulan.

Perlu diketahui, suplemen zat besi dapat menyebabkan sembelit atau tinja berwarna hitam.

Namun, Moms tidak perlu khawatir karena cara ini dapat mengatasi kondisi kekurangan zat besi.

Baca Juga: Waspada Usus Buntu Pecah, Ketahui Gejala, Penyebab, dan Penanganannya!

2. Mengatur Pola Makan

Salah satu cara mengatasi anemia defisiensi besi atau kekurangan zat besi adalah mengatur pola makan.

Moms sebaiknya mengonsumsi makanan seperti:

  • Daging merah
  • Buah kering
  • Kacang-kacangan
  • Sereal yang kaya akan kandungan zat besi

Pastikan Si Kecil juga dikenalkan dengan makanan tinggi zat besi ya, Moms.

3. Mengobati Penyebab Perdarahan

Suplemen zat besi tidak akan membantu, jika perdarahan berlebih menyebabkan defisiensi.

Seorang dokter mungkin meresepkan pil KB untuk wanita yang mengalami menstruasi yang berat.

Cara ini bisa mengurangi jumlah perdarahan menstruasi setiap bulan.

Dalam kasus yang paling parah, transfusi darah dapat menggantikan zat besi dan kehilangan darah dengan cepat.

4. Sayuran Berdaun Hijau

Diketahui, sayuran berwarna hijau mengandung zat besi yang cukup tinggi.

Sayuran hjau yang dimaksud seperti bayam hijau dan kangkung.

"Brokoli juga kaya akan zat besi, tetapi yang diserap di tubuh jauh lebih sedikit dibandingkan dengan sumber hewani," tambah dr. Rosary.

Konsumsi makanan yang mengandung tinggi zat besi minimal 2 kali per hari, misalnya daging berwarna merah dan hati.

5. Hindari Asupan Tertentu

Pemberian tambahan atau suplementasi zat besi dianjurkan sejak bayi sampai usia remaja. Ini sebagai bentuk pencegahan terjadinya anemia.

Penting untuk menghindari zat makanan yang menghambat penyerapan besi.

Miisalnya kalsium pada susu, terutama pada susu segar yang tidak mengandung fortifikasi zat besi.

Hal ini juga berlaku pada kafein, seperti teh.

Sebaiknya minuman tersebut tidak banyak dikonsumsi serta diberikan di luar waktu makan utama.

Baca Juga: Benjolan di Bawah Telinga: Mengenal Penyebab dan Cara Mengatasinya

6. Konsumsi Vitamin C

Selain itu, vitamin C juga dapat membantu tubuh menyerap zat besi. Sejumlah makanan yang mengandung vitamin C tinggi seperti:

"Adapun asupan tersebut memiliki efek yang menguntungkan bagi penderita kekurangan zat besi," jelas dr. Rosary.

Jika Moms mengonsumsi tablet zat besi, dokter mungkin menyarankan untuk mengonsumsi tablet bersama dengan sumber vitamin C, seperti segelas jus jeruk atau buah jeruk.

Demikian penjelasan mengenai anemia kekurangan zat besi yang perlu Moms ketahui. Semoga bermanfaat ya!

  • https://www.healthline.com/health/iron-deficiency-anemia
  • https://www.hematology.org/education/patients/anemia
  • https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/endometriosis/symptoms-causes/syc-20354656
  • https://www.cdc.gov/ncbddd/blooddisorders/women/menorrhagia.html
  • https://www.nhlbi.nih.gov/health-topics/iron-deficiency-anemia

Konten di bawah ini disajikan oleh advertiser.
Tim Redaksi Orami tidak terlibat dalam materi konten ini.


FOLLOW US

facebook
twitter
instagram
spotify
tiktok

Orami Articles — Artikel Seputar Parenting, Kesehatan,
Gaya Hidup dan Hiburan

Copyright © 2024 Orami. All rights reserved.