Scroll untuk melanjutkan membaca

KESEHATAN UMUM
29 November 2022

Deep Vein Thrombosis: Penyebab, Gejala, dan Cara Mengobatinya

Bisa menyebabkan kematian jika penggumpalan darah terjdi di paru-paru
Deep Vein Thrombosis: Penyebab, Gejala, dan Cara Mengobatinya

Deep vein thrombosis atau trombosis vena dalam adalah gumpalan darah (trombus) yang terjadi di satu atau lebih vena di dalam tubuh.

Umumnya kondisi ini terjadi di kaki. Kondisi ini bisa menyebabkan nyeri atau pembengkakan pada kaki lho, Moms.

Hal ini senada dengan penjelasan dr. Febiansyah Kartadinata Rachim, Sp.B.SubBVE Dokter Spesialis Bedah Subspesialis Vaskular RS Pondok Indah – Pondok Indah.

"Deep vein thrombosis adalah terganggunya aliran darah di pembuluh darah balik atau vena utama oleh gumpalan darah yang dapat menyebabkan pembengkakan.

Pembengkakan ini sering kali terjadi pada kaki," jelas dr. Febiansyah.

Salah satu penyebab DVT adalah kondisi medis tertentu yang memengaruhi cara pembekuan darah.

Nah, untuk mengetahui lebih lanjut, simak selengkapnya di artikel berikut ya, Moms!`

Apa Itu Deep Vein Thrombosis?

Deep Vein Thrombosis

Foto: Deep Vein Thrombosis (Jamaicahospital.org)

Seperti yang sudah dipaparkan secara singkat di atas, deep vein thrombosis atau trombosis vena dalam terjadi ketika trombus terjadi di pembuluh darah karena pembuluh darah yang mengalir terlalu lambat.

Sebagai informasi, gumpalan darah berubah dari cair menjadi gel melalui proses koagulasi. Ketika terjadi luka, darah akan menggumpal agar pendarahan berhenti.

Tapi, pada kondisi DVT, adanya penggumpalan darah di vena yang mengakibatkan aliran darah tersumbat.

Umumnya kondisi ini memang menyerang paha, panggul, atau bagian kaki. Tapi, DVT juga bisa menyerang lengan, otak, usus, hati, hingga ginjal dan berisiko kematian.

Mengutip dari artikel jurnal bertajuk Deep Vein Thrombosis, kondisi ini termasuk gangguan dari tromboemboli vena.

Tromboemboli vena merupakan penyebab kematian paling umum ketiga akibat penyakit kardiovaskular setelah serangan jantung dan stroke.

Sebagai informasi, tromboemboli vena (VTE) mencakup emboli paru dan DVT.

Melansir dari Mayo Clinic, DVT diperparah dengan kondisi medis yang terkait cara pembekuan darah.

Masalah pembekuan darah inilah yang bisa berkembang menjadi parah. Bahkan diperparah jika jarang bergerak untuk waktu yang lama, nih Moms.

Contohnya, tidak bergerak saat berpergian jauh atau istirahat penuh pasca pengobatan di rumah sakit, seperti pasca operasi, kecelakaan, atau penyakit lain.

Berikut ciri-ciri trombosis vena dalam:

  • Adanya penggumpalan darah
  • Pembengkakan kaki kronis
  • Peningkatan tekanan di dalam pembuluh darah
  • Peningkatan pigmentasi atau perubahan warna kulit
  • Ulkus kaki atau ulkus stasis vena, yaitu aliran darah yang tidak lancar menyebabkan kerusakan kulit.

Jadi, bahaya dari kondisi ini adalah jika gumpalan darah tersebut bergerak ke paru-paru, penderita berisiko mengalami emboli paru.

Kondisi tersebut terjadi saat tersumbatnya pembuluh darah vena di organ paru-paru.

Jika sudah begitu, gangguan pernapasan serius yang berisiko mengancam nyawa bisa saja terjadi.

Meski dapat terjadi pada siapa saja, deep vein thrombosis lebih rentan terjadi pada lansia, ibu hamil, dan lain-lain.

Baca juga: Mengenal Vaskulitis, Penyakit Peradangan pada Pembuluh Darah

Gejala Deep Vein Thrombosis

Gejala Deep Vein Thrombosis

Foto: Gejala Deep Vein Thrombosis (webmd.com)

Gejala deep vein thrombosis tidak muncul di seluruh pengidap. Hanya setengahnya saja yang mengalami sejumlah gejala umum.

Dilansir dari EmedicineHealth, gejala yang muncul pada kaki berasal dari gumpalan di otot area tersebut.

Secara umum, gejala deep vein thrombosis adalah sebagai berikut:

  • Pembengkakan di sepanjang vena kaki.
  • Nyeri kaki saat berdiri atau berjalan.
  • Suhu kaki meningkat karena pembengkakan.
  • Kemerahan atau perubahan warna kulit kaki.

Bahkan, beberapa penderita baru sadar jika ia terkena deep vein thrombosis saat sudah mengalami gejala emboli paru.

Gejala emboli paru meliputi:

Sejumlah gejala tersebut tidak dapat disepelekan.

Apalagi saat sejumlah gejala emboli paru muncul.

Jika gejala emboli paru dibiarkan begitu saja, risiko kehilangan nyawa pada penderita menjadi semakin tinggi.

Baca Juga: Cari Tahu Apa Saja Minuman Pembersih Paru-Paru, Cegah Gangguan Pernapasan

Penyebab Deep Vein Thrombosis

Kaki dan Sendal

Foto: Kaki dan Sendal (Orami Photo Stock)

Ada beberapa penyebab utama yang memicu terjadinya deep vein thrombosis.

Berikut ini beberapa di antaranya:

1. Lapisan Pembuluh Darah yang Rusak

Luka atau rusaknya lapisan pembuluh darah umumnya dipicu oleh cedera fisik, operasi, luka serius, peradangan, dan reaksi sistem kekebalan tubuh.

2. Melambatnya Aliran Darah dalam Tubuh

Kondisi ini disebabkan oleh gaya hidup tidak aktif dan kurang bergerak.

Selain itu, penyebab yang satu ini bisa saja terjadi pada seseorang pasca operasi.

3. Faktor Genetik

Faktor genetik dapat meningkatkan risiko penggumpalan darah.

Selain itu, dr. Febiansyah juga membagikan beberapa penyebab lainnya. Berikut penyebab deep vein thrombosis menurut dr. Febiansyah:

  • Memiliki riwayat tindakan operasi di 3 bulan terakhir
  • Kondisi darah yang mudah menggumpal
  • Aktivitas yang sangat minim atau bed rest (tirah baring) dalam waktu yang lama
  • Obesitas atau kegemukan
  • Kehamilan
  • Penggunaan KB
  • Genetik atau riwayat keluarga.

Baca Juga: Takipnea, Kondisi saat Pernapasan Cepat dan Dangkal

Faktor Risiko Trombosis Vena Dalam

Ilustrasi Penggumpalan Darah

Foto: Ilustrasi Penggumpalan Darah (shutterstock.com)

Selain beberapa faktor utama seperti yang telah disebutkan sebelumnya, deep vein thrombosis juga bisa terjadi karena beberapa faktor risiko.

Semakin banyak faktor risiko yang dimiliki, maka semakin besar peluang untuk mengalami deep vein thrombosis.

Berikut adalah beberapa faktor risiko deep vein thrombosis atau trombosis vena dalam yang perlu diwaspadai:

  • Memiliki riwayat gangguan penggumpalan darah.
  • Mengalami kelumpuhan akibat cedera, yang mengharuskan beristirahat total.
  • Pasca melakukan operasi pembedahan, yang mengharuskan beristirahat total.
  • Melakukan terapi hormon atau pil KB.
  • Ibu hamil yang jarang bergerak.
  • Seseorang dengan berat badan berlebihan atau obesitas.
  • Memiliki kebiasaan merokok.
  • Menderita jenis kanker tertentu.
  • Menderita gagal jantung atau penyakit radang usus.
  • Berusia di atas 60 tahun.
  • Terlalu sering duduk dalam jangka waktu yang lama.

Meski tidak pasti, tetapi memiliki sejumlah faktor risiko dapat memperbesar peluang mengalami kondisi kesehatan tertentu.

Komplikasi Trombosis Vena Dalam

Ilustrasi Pria dengan Deep Vein Thrombosis

Foto: Ilustrasi Pria dengan Deep Vein Thrombosis (freepik.com)

Jika sejumlah gejala yang muncul tidak segera mendapat penanganan, deep vein thrombosis dapat memicu gangguan kesehatan serius.

Berikut ini 2 komplikasi akibat trombosis vena dalam.

1. Emboli Paru

Dilansir dari Johns Hopkins Medicine, emboli paru terjadi ketika pembuluh darah dalam organ paru-paru tersumbat oleh gumpalan darah.

Gumpalan tersebut buka berasal dari paru-paru, tetapi dari bagian tubuh yang lain dan berpindah ke organ tersebut melalui aliran darah.

Gejala yang muncul bisa berupa sesak napas, batuk berdarah, nyeri dada, dan peningkatan detak jantung.

Jika dibiarkan, kehilangan nyawa menjadi komplikasi paling parah yang bisa saja terjadi pada penderita.

2. Sindrom Postphlebitic

Sindrom postphlebitic adalah kondisi yang terjadi akibat adanya kerusakan pada pembuluh darah vena.

Kerusakan tersebut akan mengurangi laju aliran darah pada tubuh.

Akibatnya, terjadi penumpukan cairan yang memicu pembengkakan di sejumlah area pada tubuh.

Baca juga: Apa Perbedaan Sistem Peredaran Darah Besar dan Kecil?

Diagnosis Deep Vein Thrombosis

Konsultasi ke Dokter

Foto: Konsultasi ke Dokter

Sama seperti langkah diagnosis lainnya, dokter akan bertanya langsung perihan gejala yang dialami.

Langkah tersebut ditunjang dengan beberapa pemeriksaan agar hasilnya lebih meyakinkan.

Beberapa pemeriksaan tambahan yang dilakukan, seperti:

  • USG pada kaki untuk mengukur aliran darah.
  • Tes darah untuk melihat tekstur kekentalan darah dan mengukur zat dalam darah setelah gumpalan larut.

Jika hasilnya menunjukkan kandungan tinggi substansi, bisa jadi Moms tengah menderita deep vein thrombosis.

Dokter juga akan melakukan pemeriksaan rontgen khusus dengan menyuntikkan zat pewarna ke pembuluh darah.

Tujuannya adalah melihat adanya bekuan yang menghalangi laju aliran darah.

Pengobatan Deep Vein Thrombosis

Deep Vein Thrombosis

Foto: Deep Vein Thrombosis (medicalnewstoday.com)

Langkah pengobatan yang dilakukan akan disesuaikan dengan kondisi kesehatan masing-masing penderita.

Berikut ini beberapa langkah pengobatan yang umum dilakukan.

1. Konsumsi Obat Pengencer Darah

Langkah pengobatan ini dilakukan dengan penyuntikan melalui intravena atau di bawah kulit.

Tujuannya adalah mencegah pembekuan darah bertambah parah dan mengalir menuju organ paru.

Dokter juga meresepkan pil pengencer darah guna mencegah gumpalan darah baru terbentuk.

2. Pemasangan Filter Vena Cava

Langkah pengobatan ini dilakukan jika obat pengencer darah tidak bekerja dengan baik.

Pemasangan filter dilakukan ke dalam vena besar, yaitu vena cava.

Filter tersebut berfungsi untuk menangkap bekuan darah sebelum bergerak menuju paru-paru.

Cara yang satu ini efektif dalam mencegah terjadinya emboli paru yang termasuk ke dalam komplikasi deep vein thrombosis.

Sayangnya, filter ini hanya dapat menangkap bekuan darah dan tidak mampu menghentikan pembentukan gumpalan batu.

Untuk mengontrol atau mencegah pembengkakan kaki semakin parah, dokter biasanya merekomendasikan stoking khusus.

Baca juga: 5 Penyebab Berbahaya Pembuluh Darah Pecah, Bisa Renggut Nyawa!

Perawatan yang Dilakukan untuk Menunjang Pengobatan

Pergelangan Kaki

Foto: Pergelangan Kaki (Orami Photo Stock)

Berikut ini beberapa langkah perawatan rumahan yang dapat dilakukan untuk menunjang proses pengobatan:

  • Konsumsi obat pengencer darah dan tes darah secara berkala untuk memantau tingkat kekentalan darah.
  • Jika obesitas, lakukan diet sehat dan berolahraga secara rutin untuk menurunkan risiko kekambuhan penyakit.
  • Lakukan peregangan atau stretching setelah duduk dalam waktu yang lama.
  • Konsultasikan terlebih dulu dengan dokter jika Moms ingin melakukan perjalanan dalam waktu yang lama.
  • Angkat kaki lebih tinggi saat duduk atau berbaring.

Sebagai informasi tambahan, kondisi ini bisa disembuhkan ya, Moms. Tapi, tidak semua gejalanya bisa disembuhkan secara mandiri.

"Jika sumbatan di pembuluh darah balik atau vena dapat diidentifikasi kurang dari 2 minggu, maka dapat dilakukan ‘penyedotan’ gumpalan darah melalui tindakan endovaskular atau sistem kateterisasi dengan angka kesuksesan yang baik," jelas dr. Febiansyah.

Lalu, bagaimana jika sumbatan tersebut baru diketahui lebih dari 2 minggu?

Pengobatannya bisa dengan menggunakan obat penghancur gumpalan darah atau anti-thrombolytics.

Tapi sayangnya, kesuksesan dari tindakan ini masih lebih rendah dibandingkan dengan tindakan sebelumnya, Moms.

Cara Mencegah Trombosis Vena Dalam

Olahraga Ringan

Foto: Olahraga Ringan (Orami Photo Stock)

Mencegah trombosis vena dalam dapat dilakukan dengan menjaga berat badan ideal dan aktif bergerak.

"Apabila mengalami gejala deep vein thrombosis, sebaiknya segera berkonsultasi dengan dokter spesialis bedah subspesialis vaskular," kata dr. Febiansyah.

Nah, berikut upaya pencegahan lainnya seperti mengutip dari Centers for Disease Control and Prevention (CDC).

  • Rutin bergerak terlebih pasca operasi, pasca sakit atau cedera.
  • Setelah duduk lama, gerakan tubuh dan berjalan-jalan setiap 1 hingga 2 jam.
  • Jika sedang berpergian jarak jauh, lakukan olahraga kaki ringan. Seperti mengangkat dan menurunkan tumit, hingga mengangkat dan menurunkan jari kaki sambil kaki menyentuh lantai.
  • Mengencangkan dan melemaskan otot kaki.
  • Kenakan pakaian longgar.
  • Terpenting, menjaga berat badan sehat, menghindari gaya hidup jarang bergerak, dan menerapkan pola hidup sehat.

Dampak dari Trombosis Vena Dalam

Posisi Kaki Jinjit

Foto: Posisi Kaki Jinjit (www.jarilove.com)

Kondisi ini tentu mengakibatkan berbagai masalah kesehatan terutama di kaki.

"Deep vein thrombosis dapat menyebabkan pembengkakan kaki yang lama kelamaan dapat mengakibatkan infeksi di kulit, kemerahan pada kulit, kulit melepuh, luka di kulit yang menjadi borok, amputasi kaki, hingga kematian," jelas dr. Febiansyah.

Selain itu, pengobatan akibat DVT juga bisa mengakibatkan pendarahan atau hemorrhage karena mengonsumsi obat pengencer darah.

Maka dari itu, bagi penderita DVT harus sering melakukan tes darah secara teratur.

Nah, itu dia Moms informasi seputar deep vein thrombosis. Semoga bermanfaat!

  • https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/deep-vein-thrombosis/symptoms-causes/syc-20352557
  • https://www.healthline.com/health/dvt/home-treatment
  • https://www.emedicinehealth.com/blood_clot_in_the_legs/article_em.htm
  • https://www.hopkinsmedicine.org/health/conditions-and-diseases/pulmonary-embolism
  • https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK507708/
  • https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC5778510/