Scroll untuk melanjutkan membaca

KESEHATAN UMUM
04 April 2022

Ketahui Tanda Menopause dan Cara Mengatasi Gangguan yang Muncul Ketika Mengalaminya

Menjelang menopause akan ada serangkaian gangguan yang tidak mengenakkan
Ketahui Tanda Menopause dan Cara Mengatasi Gangguan yang Muncul Ketika Mengalaminya

Jika membahas tentang menopause, mungkin akan muncul rasa kekhawatiran di dalam diri setiap wanita.

Karena menopause atau disebut juga mati haid adalah berakhirnya siklus menstruasi secara alami, yang pasti akan dialami setiap wanita seiring bertambahnya usia.

Tanda berakhirnya haid ini sering kali menimbulkan gejala, yang tidak hanya menyerang fisik namun juga bisa berdampak pada emosional seorang wanita.

Simak ulasan lengkapnya berikut ini.

Baca Juga: 13 Penyebab Perut Buncit seperti Hamil, Bisa Petanda Menopause

Apa Itu Menopause?

Apa Itu Menopause?

Foto: Apa Itu Menopause?

Foto: medicalnewstoday.com

Seiring dengan proses penuaan, tiap wanita akan mengalami masa berakhirnya siklus menstruasi.

"Umumnya seorang wanita akan mengalami menopause rata-rata saat usia menginjak 50 tahun," jelas dr. Zeissa Rectifa Wismayanti, Sp. OG, Dokter Spesialis Kebidanan dan Kandungan, RS Pondok Indah – Bintaro Jaya, Jakarta Selatan.

Fase alami ini disebabkan oleh perubahan pada kadar hormon tubuh wanita.

Menjelang akhir usia 30 tahun, kinerja ovarium akan menurun lalu akhirnya berhenti memproduksi hormon reproduksi pada usia sekitar 50 tahun.

Usia mati haid pada tiap wanita berbeda-beda, tapi kondisi ini umumnya terjadi usia 50 tahun.

Meski demikian, ada juga sebagian wanita yang mengalaminya sebelum berusia 40 tahun. Inilah yang disebut menopause dini atau prematur.

Menopause prematur terjadi pada sekitar 1 dari 100 wanita. Gangguan ini terjadi karena ovarium berhenti menghasilkan hormon-hormon reproduksi dalam jumlah normal.

Kelainan genetika atau penyakit autoimun diduga sebagai penyebab di balik masalah ini.

Mati haid umumnya tidak membutuhkan penanganan khusus. Gejala-gejalanya juga tidak bersifat permanen dan akan berkurang seiring waktu.

Baca Juga: Waspada, Ketahui Waktu dan Gejala Menjelang Menopause

Tahapan Menopause Alami

Tahapan Menopause Alami

Foto: Tahapan Menopause Alami

Foto: aarp.org

Menopause alami merupakan berakhirnya masa menstruasi secara permanen yang tidak disebabkan oleh jenis perawatan medis apa pun.

Untuk Moms yang mengalami kondisi ini, prosesnya bertahap dan dijabarkan dalam 3 tahap, meliputi:

1. Perimenopause

Perimenopause dimulai pada 8 - 10 tahun sebelum terjadinya mati haid, ketika ovarium secara bertahap menghasilkan lebih sedikit hormon estrogen.

Hal tersebut biasanya dimulai ketika Moms berusia 40-an. Perimenopause berlangsung hingga terjadinya mati haid, di mana ketika ovarium berhenti melepaskan sel telur.

Dalam 1 - 2 tahun terakhir masa perimenopause, penurunan hormon estrogen semakin cepat terjadi.

Pada tahap ini, kebanyakan wanita akan mengalami gejala-gejala menopause. Namun, Moms masih mengalami siklus menstruasi selama masa ini dan bisa hamil.

2. Menopause

Menopause adalah masa ketika Moms tidak lagi dapat mengalami periode menstruasi. Pada tahap ini, ovarium telah berhenti melepaskan sel telur dan memproduksi sebagian besar estrogennya.

Kondisi ini dapat didiagnosis ketika Moms tidak mengalami menstruasi selama 12 bulan berturut-turut.

Baca Juga: Sudah Menopause Subur Kembali, Apakah Bisa Terjadi?

3. Pascamenopause

Selama tahap ini, gejalanya seperti hot flashes, yaitu sensasi rasa panas yang muncul secara tiba-tiba dan tidak diketahui apa yang menjadi penyebabnya.

Ini dapat mereda dengan sendirinya bagi beberapa orang.

Namun, pada beberapa kasus, seorang wanita dapat terus mengalami gejalanya sekitar satu dekade atau lebih setelah transisi menopause.

Sebagai akibat dari tingkat estrogen yang lebih rendah, mereka yang berada pada fase pascamenopause memiliki peningkatan risiko mengalami beberapa kondisi kesehatan, seperti osteoporosis dan penyakit jantung.

Gejala Menopause

Gejala Menopause yang Perlu Dipahami

Foto: Gejala Menopause yang Perlu Dipahami

Foto: Orami Photo Stock

Dilansir dari Cleveland Clinic, beberapa gejala di bawah ini mungkin akan dialami ketika sedang berada pada masa transisi ke menopause.

Berikut selengkapnya.

1. Hot Flashes

Hot flashes adalah salah satu gejala menopause yang paling sering terjadi.

Wanita dengan menopause dapat mengalami hot flashes sekali sehari, beberapa jam sekali atau bahkan dapat lebih sering terjadi.

Ini adalah sensasi panas yang dapat dirasakan secara singkat. Hot flashes dapat berbeda-beda pada setiap orang.

Selain rasa panas, hot flashes juga dapat disertai dengan gejala seperti:

Biasanya, hot flashes merupakan kondisi yang tidak terlalu parah seiring berjalannya waktu. Intensitas, frekuensi, dan durasi hot flashes berbeda untuk setiap individu.

Meskipun begitu, terdapat beberapa hal yang dapat memicu terjadinya kondisi ini, yakni:

Untuk meringankan gejala ini, bisa dilakukan dengan beberapa hal, seperti terapi hormon atau mengonsumsi jenis obat-obatan tertentu.

Hot flashes dapat mengganggu kenyamanan saat Moms ingin tidur di malam hari, padahal tidur yang berkualitas dibutuhkan agar tubuh tetap sehat.

Untuk mengatasinya, cobalah minum teh chamomile atau teh rempah-rempah lainnya untuk membuat tubuh menjadi lebih rileks, sehingga lebih mudah terlelap.

Moms juga bisa membuat suasana kamar tidur lebih terasa nyaman dengan lilin aromaterapi.

Baca Juga: Seks Saat Menopause, Masihkah Terasa Nikmat?

2. Vagina Terasa Kering

Moms, hormon estrogen memegang peran penting dalam mempertahankan pelumasan alami di vagina.

Ketika kadar estrogen menurun saat menopause, maka dapat terjadi kekeringan pada vagina.

Kondisi ini bisa membuat hubungan intim dengan suami menjadi tidak nyaman, maka dari itu tidak ada salahnya berbicara dengan dokter tentang hal ini.

Selain gejala utama di atas, Moms juga bisa mengalami perubahan suasana hati saat mengalami menopause lebih awal.

Tidak hanya itu, terkadang juga menopause dapat membuat seseorang mengalami insomnia, perubahan emosional, berkeringat di malam hari, hingga kulit dan mata menjadi kering.

Untuk itu, sebaiknya segera lakukan pemeriksaan ke dokter agar memahami cara menghadapinya.

3. Nyeri Payudara

Nyeri Payudara

Foto: Nyeri Payudara

Foto: Orami Photo Stock

Perubahan hormon akibat mati haid sering kali dapat menyebabkan nyeri payudara.

”Payudara juga mungkin akan terasa ‘lebih menggumpal’ daripada sebelumnya,” ujar Ellen Dolgen, penulis di Menopause Mondays dan penulis e-book, The Girlfriend’s Guide to Surviving and Thriving During Perimenopause and Menopause (2015).

4. Mata Kering

mata kering dan menopause.jpg

Foto: mata kering dan menopause.jpg

Foto: Orami Photo Stock

Tanpa disadari, tanda-tanda berakhirnya menstruasi bisa dilihat dari kondisi kesehatan mata.

Salah satunya, yaitu mata yang kering. Melansir Optometrist New York, selama menopause, hormon androgen menurun, dan memengaruhi kelenjar meibom dan lakrimal di kelopak mata.

Ketika kelenjar penghasil minyak dan cairan ini terpengaruh, kelopak mata bisa meradang dan mengurangi produksi air mata.

Karenanya, tak heran jika mata kering menjadi gejala dari mati haid.

5. Sulit Menahan Buang Air Kecil

Sulit Menahan Buang Air Kecil

Foto: Sulit Menahan Buang Air Kecil

Foto: Orami Photo Stock

Buang air kecil yang tanpa disadari terjadi ketika batuk atau bersin disebabkan oleh stress urinary incontinence (SUI) atau urge urinary incontinence (UUI).

Hal ini juga menjadi salah satu gejala jelang mati haid.

”Kadar estrogen yang lebih rendah menyebabkan lapisan uretra menipis,” kata JoAnn V. Pinkerton, MD, Executive Director di North American Menopause Society (NAMS).

6. Tulang Keropos

Menopause dan pengeroposan tulang.jpg

Foto: Menopause dan pengeroposan tulang.jpg

Foto: Orami Photo Stocks

Semakin sedikit hormon estrogen yang dihasilkan, maka pengeroposan tulang terjadi semakin cepat.

Hal tersebut dapat berisiko osteoporosis yang meningkatkan risiko patah tulang.

"Wanita bisa kehilangan hingga 20% tulang selama 5 tahun pertama saat menopause," kata Dr. Pinkerton.

Baca Juga: 5 Cara Alami untuk Mengurangi Gejala Menopause

7. Pelupa

pelupa dan menopause.jpg

Foto: pelupa dan menopause.jpg

Foto: Orami Photo Stocks

Sulit mengingat hal-hal kecil akhir-akhir ini? Ini adalah tanda mati haid lainnya yakni pelupa.

Perubahan hormon bersama dengan gejala pramenopause seperti perubahan mood dan masalah tidur, dapat membuat Moms lebih pelupa.

Stres yang tinggi juga dapat membuat seseorang sulit untuk lebih fokus. "Sulit untuk berpikiran jernih, terutama ketika mengalami perimenopause," kata Dolgen.

8. Perubahan Emosional saat Menopause

Perubahan Emosional saat Menopause

Foto: Perubahan Emosional saat Menopause

Foto: womanandhome.com

Berikut beberapa perubahan emosional yang dapat terjadi selama menopause, meliputi:

  • Kehilangan energi dan insomnia
  • Kurangnya motivasi dan sulit berkonsentrasi
  • Kecemasan, depresi, perubahan suasana hati dan ketegangan
  • Sakit kepala
  • Mudah marah

Mengelola perubahan emosional selama kondisi ini memang terkesan sulit, namun hal tersebut dapat dilakukan.

Jika berkonsultasi ke dokter, sering kali akan diresepkan oleh dokter obat terapi hormon atau antidepresan.

Baca Juga: Perempuan Ini Bisa Punya Bayi Setelah Menopause di Usia 11 Tahun

Diagnosis Menopause

Diagnosis Menopause

Foto: Diagnosis Menopause

Foto: lakeoconeehealth.com

Dalam mendiagnosis menopause, dokter akan memulainya dengan membahas siklus menstruasi selama setahun terakhir.

Jika Moms tidak mengalami menstruasi secara berturut-turut selam 12 bulan, maka hal tersebut sudah dipastikan merupakan menoapause, atau juga bisa jadi pascamenopause.

Cara Mengatasi Gangguan Menjelang Menopause

Cara Mengatasi Menopause

Foto: Cara Mengatasi Menopause

Foto: gvobgyn.com

Menopause merupakan proses alami yang terjadi di dalam tubuh setiap wanita. Dalam beberapa kasus, wanita yang mengalami hal ini tidak memerlukan perawatan apa pun.

Saat mendiskusikan pengobatan untuk mati haid dengan dokter, pengobatan yang dimaksud bukan untuk menghentikan menopause itu sendiri, namun upaya dalam mengatasi gejala mengganggu yang dialami.

Ada banyak jenis perawatan untuk mengatasi gejalanya. Dilansir dari Cleveland Clinic, berikut beberapa caranya.

1. Terapi hormon

Selama menopause, tubuh seorang wanita akan mengalami penurunan jumlah hormon, terutama hormon estrogen dan progesteron. Estrogen dan progesteron diproduksi oleh ovarium.

Ketika ovarium wanita tidak lagi dapat memproduksi cukup estrogen dan progesteron, terapi hormon dapat dilakukan untuk menjaga hormon dalam kadar normal.

Terapi hormon dapat meningkatkan kadar hormon dan membantu meringankan beberapa gejala yang dialami.

Terapi ini juga seringkali digunakan sebagai upaya dalam pencegahan osteoporosis.

Terdapat 2 jenis terapi hormon, meliputi:

Terapi Estrogen

Terapi ini biasanya akan diresepkan dalam dosis rendah dan dapat dikonsimsi dalam bentuk pil atau digunakan di kulit dalam bentuk patch. Ini juga tersedia dalam bentuk krim, gel, dan spray.

Terapi Hormon Progestin

Perawatan ini juga disebut terapi kombinasi karena menggabungkan dosis estrogen dan progesteron.

Terapi hormon tersebut dapat meredakan ragam gejala, seperti:

Baca Juga: Ketahui 6 Masalah Kesehatan Setelah Menopause Pada Wanita

2. Terapi Non-Hormon

Meskipun terapi hormon merupakan metode yang sangat efektif untuk mengatasi gejala menopause, namun pengobatan tersebut tidak dapat dilakukan oleh setiap wanita dengan menopause.

Maka dari itu, hadir perawatan non-hormonal yang bisa menjadi pilihan lainnya dalam mengatasi gejala yang dialami.

Terapi non-hormonal dapat dilakukan dengan merubah pola makan dan gaya hidup.

Melansir dari Cleveland Clinic, berikut beberapa terapi non-hormonal yang bisa dilakukan, yakni:

Diet

Merubah pola makan menjadi lebih sehat dapat membantu meringankan gejala yang dialami. Selain itu, hindari mengonsumsi kafein dan makanan pedas karena dapat memicu hot flash.

Sebagai tambahan, konsumsilah makanan yang mengandung estrogen ke dalam menu harian. Beberapa makanan berikut dapat Moms jadikan santapan yang menyehatkan.

Berolahraga

Wanita dengan menopause akan rentan mengalami insomnia atau susah tidur.

Berdasarkan penelitian di Journal for Life & Environment Research, menunjukkan bahwa olahraga dapat meningkatkan kualitas tidur tanpa menimbulkan efek samping.

Tidak perlu melakukan jenis olahraga yang berat, Moms bisa berolahraga dengan berjalan santai, yoga, hingga berenang.

Menghindari Pemicu Hot Flashes

Beberapa hal dalam kehidupan sehari-hari bisa menjadi pemicu terjadinya hot flashes.

Untuk membantu meringankan gejala yang Moms alami cobalah identifikasi pemicu sebelum mencobat mengatasinya.

Beberapa hal yang dapat menjadi pemicu hot flashes, seperti kamar tidur dengan suhu ruangan yang panas dan merokok.

Berat badan yang berlebih juga bisa menjadi salah satu faktor risikonya.

Baca Juga: 6 Hal Yang Perlu Diketahui tentang Seks Menjelang Menopause

Penggunaan Obat-obatan

Obat seperti antidepresan dapat membantu mengelola gejala menopause seperti perubahan suasana hati dan hot flashes.

Krim untuk vagina juga tersedia dalam mengatasi kekeringan pada vagina.

Namun, sebelum mencoba pengobatan tersebut, sebaiknya melakukan konsultasi pada dokter terlebih dahulu.

Karena setiap orang memiliki gejala yang berbeda-beda, dalam menentukan penanganan yang tepat, dapat dilakukan dengan secara langsung mengunjungi dokter terkait.

Komplikasi Menopause

Komplikasi Menopause

Foto: Komplikasi Menopause

Foto: studyfinds.org

Berkurangnya hormon estrogen akibat mati haid, dapat meningkatkan risiko mengalami sejumlah kondisi kesehatan, ditambah dengan adanya faktor usia.

Dilansir dari WebMD, wanita yang telah mati haid akan berisiko mengalami:

  • Pengeroposan tulang (osteoporosis).
  • Penyakit jantung.
  • Kandung kemih dan usus mengalami gangguan.
  • Berisiko tinggi mengalami penyakit Alzheimer.
  • Kulit mengalami peningkatan kerutan.
  • Kekuatan otot yang buruk.
  • Gangguan penglihatan seperti katarak dan degenerasi makula (pecahnya titik kecil di tengah retina yang merupakan pusat penglihatan).

Adapun hal yang tidak menguntungkan lainnya adalah berkuranganya gairah seksual akibat kekeringan pada vagina.

Hal ini tentunya dapat berpengaruh pada hubungan suami dan istri.

Baca Juga: 13 Penyebab Perut Buncit seperti Hamil, Bisa Petanda Menopause

Untuk Moms yang masih jauh dari waktu menopause, tak ada salahnya memahami bagaimana proses alami ini terjadi disertai tanda-tandanya dan cara mengatasi gangguan yang muncul.

Ini penting untuk diketahui agar Moms kelak lebih siap ketika menghadapinya.

  • https://my.clevelandclinic.org/health/diseases/21841-menopause
  • https://medlineplus.gov/menopause.html
  • https://www.webmd.com/menopause/guide/menopause-basics
  • https://my.clevelandclinic.org/health/treatments/15245-hormone-therapy-for-menopause-symptoms
  • https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC6045928/
  • https://www.menopause.org/
  • https://www.optometrists.org/general-practice-optometry/guide-to-eye-conditions/dry-eye/what-is-dry-eye-syndrome/dry-eye-and-menopause/